KUJANG DAN TOMBAK PANCASULA DI MUSEUM TEMBI

24 Sep 2011

KUJANG DAN TOMBAK PANCASULA DI MUSEUM TEMBIJika pada edisi lalu sudah disampaikan koleksi masterpiece atau unggulan Museum Tembi berupa senjata keris tangguh Budha dan Patrem, berikut ini akan disajikan koleksi unik lain di Museum Tembi. Kali ini yang akan disampaikan adalah koleksi senjata Kujang dan tombak Pancasula.

Senjata Kujang adalah jenis senjata tradisional yang terkenal dari daerah Jawa Barat atau tanah Pasundan. Senjata ini memang mirip dengan keris. Secara sederhana, pada senjata Kujang mempunyai ciri antara lain, bagian bawah ada bagian membenjol satu sisi, berlekuk di bagian atasnya dan agak membesar, berlubang kecil-kecil di bagian itu, serta bagian atasnya meruncing. Bentuk ini tidak dimiliki oleh senjata keris yang umumnya menjadi ciri khas senjata tradisional masyarakat Jawa.

Koleksi Kujang milik Museum Tembi memiliki ciri, yakni: panjang 19 cm, pegangan Kujang 10 cm, jika dimasukkan dalam warangka, panjang keseluruhan 32 cm. Selain itu, koleksi Kujang ini, sesuai dengan data yang ada, berciri: warangka berasal dari kayu akasia, dapur: kujang/lurus, pamor: mrambut, dan tangguh Pejajaran. Dengan demikian perkiraan berasal dari zaman Pejajaran. Hanya tidak diketahui dengan pasti tahun pembuatannya.

Menurut Wikipedia Bahasa Indonesia, senjata Kujang mulai dibuat sekitar abad VIII atau IX Masehi, terbuat dari campuran besi, baja, dan bahan pamor. Kujang merupakan perkakas yang merefleksikan ketajaman dan daya kritis dalam kehidupan. Selain itu juga melambangkan kekuatan dan keberanian untuk melindungi hak dan KUJANG DAN TOMBAK PANCASULA DI MUSEUM TEMBIkebenaran. Kujang menjadi ciri khas, baik sebagai senjata, alat pertanian, perlambang hiasan ataupun cinderamata.

Koleksi unggulan lainnya dari Museum Tembi adalah tombak Pancasula. Dikatakan Pancasula, karena tombak ini memiliki 5 mata tombak atau bilah. Eloknya, tombak ini bagian bawahnya berlapis emas. Sementara ciri-ciri lainnya adalah pedang ini berdapur pancasula luk 5 kinatah mas anggrek nagaraja, berpamor wos wutah, bertangguh Mataram, dan pegangan (landeyan) dari kayu sonokeling. Panjang tombak ini 60 cm. Sepintas terkesan sangat berwibawa. Selain itu, tombak Pancasula memiliki landeyan atau pegangan pendek. Tombak bertangguh Mataram diperkirakan dibuat pada zaman Mataram. Sayang, tidak diketahui dengan pasti tahun pembuatannya.

Senjata tombak biasa dipakai oleh prajurit unuk berperang. Namun biasanya tombak yang dipakai prajurit kerajaan zaman dulu adalah tombak bergagang panjang, seperti alat lempar lembing. Selain itu, mata tombaknya juga hanya satu. Bisa jadi tombak dengan mata lebih dari satu, seperti trisula dan pancasula, dipakai oleh para pemimpin atau senapati perangnya.

Nah, itulah koleksi lain yang dimiliki oleh Museum Tembi. Pada edisi yang akan datang akan dipaparkan koleksi menarik lainnya.

bersambung

Suwandi

Jakarta