Film Basiyo, Dokumentasi Maestro Dagelan Mataram

11 Sep 2015

Tokoh legendaris di dunia Dagelan Mataram ini telah berkontribusi sangat besar pada kehidupan dengan dunia kejenakaannya. Ia banyak mengisi kebuntuan, kepenatan, dan kesesakan kehidupan di masanya dengan kejenakaannya yang orisinal, sangat cerdas, dengan pikiran-pikiran yang nakal, dan subversif serta tidak berada pada dataran mainstream.

Basiyo adalah ikon pelawak khas model mataraman yang disebut sebagai Dagelan Mataram. Basiyo menjadi inspirator bagi banyak pelawak sesudahnya. Namun sikap hidupnya yang bersahaja, lugu dan lugas, berani menertawakan diri sendiri, integritas sangat tinggi pada profesionalitas dan kerja, sifat sosial yang besar, konsisten, dan lain-lain mungkin juga menjadi insipirasi bagi banyak orang sekalipun mungkin juga sulit ditiru.

Tokoh legendaris di dunia Dagelan Mataram ini telah berkontribusi sangat besar pada kehidupan dengan dunia kejenakaannya. Ia banyak mengisi kebuntuan, kepenatan, dan kesesakan kehidupan di masanya dengan kejenakaannya yang orisinal, sangat cerdas, dengan pikiran-pikiran yang nakal, dan subversif serta tidak berada pada dataran mainstream. Dari sana banyak orang dapat belajar dan memetik hikmah yang besar. Apa yang disampaikannya menjadi kaca benggala untuk bertata kehidupan yang jauh lebih baik.

Jasa Basiyo bagi kehidupan, utamanya pada sisi kebudayaan demikian besar. Ia menunjukkan bahwa dirinya berbeda dan khas dengan kreasi Dagelan Mataramannya. Ia unik dan sekaligus langka. Ia hadir menjadi ikon yang menyatu dengan Dagelan Mataram. Dagelan Mataram adalah Basiyo. Basiyo adalah Dagelan Mataram. Untuk itu sudah selayaknya DIY dan bangsa Indonesia memberikan penghargaan yang pantas untuk tokoh besar ini. Film atas tokoh ini pun akhirnya lahir sebagai salah satu bentuk penghargaan kepada tokoh yang telah mewarnai dan menjadi insiprasi budaya pada zamannya.

Produksi film tokoh Basiyo yang diberi judul “Basiyo Mbarang Kahanan” lahir atas kerja sama Seksi Film Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Sanggit Citra Production. Bertindak sebagai sutradara adalah Triyanto “Genthong” Hapsoro. Penata peran dan pelatih acting adalah Agus Kencrot. Penataan gambar diserahkan kepada Director of Photography, Kelik Sri Nugroho beserta timnya. Rere Rully Ismada menangani tata rias. Sementara Margarita menangani masalah kostum. Supervisi diserahkan kepada Andjarwani. Sedangkan Divisi Produksi ditangani oleh tim dari Sanggit Citra Production: M. Aprisiyanto, Stefanus Arideni, dan Bagus Suratyo.

Pengambilan gambar untuk film ini dilaksanakan selama 5 hari dengan 35 kru dan seluruh pemain mendekati 100 orang. Film yang dihasilkan berdurasi kurang lebih 30 menit. Pemrosesan film berlangsung sejak bulan Maret 2015. Proses pemilihan dan workshop pemain berlangsung selama 3 minggu. Narasumber untuk film ini adalah Harto Basiyo, Andjarwani, dan Widayat dan diperluas dengan riset pustaka. Naskah dikerjakan oleh Joko Usandono dan Triyanto Genthong Hapsoro.

Pemilihan casting menjadi sesuatu yang tidak mudah mengingat gesture, karakter fisik Basiyo dan beberapa tokoh lainnya adalah unik. Unsur vokal menjadi demikian penting mengingat bahwa masyarakat lebih mengenal Basiyo dan kawan-kawannya melalui radio. Sugeng Surono menjadi pilihan tepat untuk memerankan Basiyo. Sementara Ibu Pudjiyem diperankan oleh Titik Renggani. Kebanyakan aktor film ini berlatar belakang seni tradisi sehingga mereka telah paham benar dengan karakter film ini. Lokasi syuting film antara lain seputaran kampus Widya Mataram, Studio Audio Visual Puskat dan sekitarnya. Artistik yang ditangani Beni Arjuna cukup mengena dan memvisualisasi setting cerita film.

Usai pemutaran film penonton pun masih diberi kesempatan untuk berdiskusi untuk lebih memahani film dan Basiyo itu sendiri dengan segala ihwalnya. Indra Tranggono dan Triyanto Genthong Hapsoro bertindak sebagai narasumber dan moderator dibawakan oleh Imam Karyadi Aryanto.

Pada galibnya film semacam ini jelas memperkaya khasanah budaya bangsa. Dinas Kebudayaan DIY perlu lebih banyak membuat film-film semacam itu yang bersifat dokumentatif untuk tokoh-tokoh kebudayaan yang berkontribusi besar bagi kekayaan budaya di Yogyakarta.

Naskah dan foto: asartono

Adegan dalam film yang menggambarkan proses rekaman ketoprak di RRI Yogyakarta, basiyo dan putranya, Harto Basiyo bertindak sebagai pengisi/penata suara, Adegan dalam film yang menggambarkan proses rekaman ketoprak di RRI Yogyakarta, Basiyo dan putranya, Harto Basiyo bertindak sebagai pengisi/penata suara, difoto: Rabu, 02 September  2015, foto: a.sartono
Harto Basiyo, salah satu putra almarhum Basiyo menerima penghargaan dari Dinas Kebudayaan DIY, difoto: Rabu, 02 September  2015, foto: a.sartono
Basiyo naik becak langganannya yang dikemudikan oleh Rebo. Dalam kehidupan nyata Rebo dan Basiyo sangat sering berselisih paham, namun Basiyo tetap menjadi langganan Rebo.  difoto: Rabu, 02 September  2015, foto: a.sartono
Dari kiri ke kanan, Imam Karyadi Aryanto, Triyanto Genthong Hapsoro, dan Indra Tranggono, difoto: Rabu, 02 September  2015, foto: a.sartono
Basiyo dalam sebuah pementasan ketoprak bersama Ngabdul dan Pudjiyem (istrinya) di suatu dusun menjelang meninggalnya, difoto: Rabu, 02 September  2015, foto: a.sartono
Adegan rekaman Dagelan Mataram dengan lakon Maling Kontrang-Kantring. Di sini Basiyo dan Darsono berperan sebagai pencuri namun keduanya selalu berbantahan, difoto: Rabu, 02 September  2015, foto: a.sartono
Adegan film yang menggambarkan bagaimana Basiyo menghadapi rumahnya yang bocor justru sebagai berkah yang disikapinya dengan ringan hati, difoto: Rabu, 02 September  2015, foto: a.sartono
FILM