“Titip Absen” Mengusik Kejujuran dan Keadilan

30 Sep 2015

Semua film dokumenter tersebut serasa memberi pertanyaan kepada penonton, seberapa besar keterlibatanmu pada lingkungan terdekatmu untuk perubahan yang lebih baik, jujur, dan adil?

Runtuhnya Orde Baru, yang diidentikkan dengan rezim KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme), tidak secara otomatis menjadikan Indonesia bersih dari korupsi dan tanpa persoalan. Korupsi masih saja menjadi penyakit yang menghinggapi dan meracuni banyak orang di berbagai institusi.

Kita kemudian merasa mengalami kebuntuan metode dalam mengatasi persoalan korupsi yang sedemikian mengakar. Akibatnya kita semua melemah, menyerah dalam berjuang, bernostalgia pada era Orde Baru, dan cuci tangan dari keberpihakan terhadap semangat reformasi.

Dalam program pemutaran film dokumenter bertajuk “Titip Absen”, FFD (Forum Film Dokumenter) bersama dengan Sekretariat Bersama Proyek Seni Indonesia Berkabung dan Pusat Kebudayaan Koesnadi Harjosoemantri Universitas Gadjah Mada (PKKH UGM) mengajak hadirin untuk mempertanyakan apa kontribusi yang telah kita sumbangkan bagi lingkungan sekitar kita di tengah keberagaman masalah mulai dari sosial, politik, ekonomi hingga budaya.

Ironisnya, buah reformasi yang membuat kita semakin bebas untuk mengambil pilihan dan keputusan justru membuat sebagian dari kita memilih untuk abai dan menjaga jarak dengan aneka permasalahan negeri ini, memilih tidak terlibat, memilih untuk “titip absen” sambil menikmati suasana reformasi di depan televisi.

Film yang diputar dengan tajuk “Titip Absen” selama dua hari, 22-23 September 2015 berjumlah empat judul. Judul pertama adalah “Student Movement” dengan sutradara Tino Saroengallo. Film kedua berjudul “Sekolah Kami Hidup Kami” dengan sutradara Steve Pillar Setiabudi.

Film pertama berdurasi 43 menit dan film kedua berdurasi 11,45 menit. Sedangkan film ketiga dan keempat yang diputar tanggal 23 September 2015 berjudul “The Park” dengan sutradara Dorotra Pobra dan Monika Proba dan “Dimana Saya?” dengan sutradara Anggun Priambodo. Masing-masing film ini berdurasi 35 menit dan 10,39 menit.

Film “Student Movement” mengajak kita untuk merefleksi kembali peristiwa Reformasi 1998. Gerakan mahasiswa untuk melakukan perubahan pemerintahan yang cenderung korup dan otoriter dan yang telah mencengkeram demikian lama akhirnya berhasil sekalipun pada perjalanan berikutnya mengalami banyak hambatan dan tantangan. Bersikap kritis senantiasa diperlukan untuk pencapaian hidup yang bersih, jujur, adil, makmur. Hal demikian sejatinya telah digariskan juga dalam UUD 1945, namun sering diabaikan bahkan dianggap tidak berguna.

Sikap kritis yang diusung mahasiswa ini akhirnya berujung pada pergesekan yang menimbulkan korban jiwa, sebuah hal yang semestinya tidak terjadi pada sebuah bangsa yang menyatakan diri beradab. Lepas dari kekurangan film yang tampak lebih banyak menampilkan puncak-puncak konflik fisik menjelang Reformasi 1998, film ini menjadi catatan penting bagi reformasi bangsa di segala bidang yang bisa terus dikaji ulang. Film ini mengusik kita apakah masih memiliki komitmen untuk melanjutkan reformasi secara konsekuen.

Film “Sekolah Kami Hidup Kami” menunjukkan bahwa siswa SMA pun bisa bersikap kritis, independen, dan tidak terkooptasi oleh sistem yang ada di sekolahnya. Di sini siswa SMA karena kritis dan independen menjadi bisa mengambil jarak dengan sistem di sekolahnya sehingga siswa SMA melalui OSIS bisa mengaudit sistem keuangan yang menyimpang di sekolahnya. Pada sisi ini sikap kritis untuk keadilan dan kebenaran itu diperlukan agar tidak ada yang dirugikan.

Guru yang tampil bijaksana dan “suci” di depan kelas di hadapan para siswa tidak menjadikan OSIS sebuah SMA negeri di Solo ini terlena dan tertipu. Mereka berani melakukan pengawasan atas sistem di lingkungan terdekat mereka, yakni sekolah. Mereka berani melakukan perubahan untuk menuju kebaikan, kejujuran, keadilan, dan kebenaran.

Semua film tersebut serasa memberi pertanyaan kepada penonton, seberapa besar keterlibatanmu pada lingkungan terdekatmu untuk perubahan yang lebih baik, jujur, dan adil? Ataukah kita justru diam-diam menikmati akibat ketidakadilan dan ketidakmurnian yang pada sisi-sisi lain menguntungkan diri kita.

Naskah dan foto: asartono

Pemutaran 4 film dokumenter bertajuk “Titip Absen”, 22-23 September 2015 di   PKKH UGM, Yogyakarta,  foto; a.sartono
Pemutaran 4 film dokumenter bertajuk “Titip Absen”, 22-23 September 2015 di   PKKH UGM, Yogyakarta,  foto; a.sartono
Pemutaran 4 film dokumenter bertajuk “Titip Absen”, 22-23 September 2015 di   PKKH UGM, Yogyakarta,  foto; a.sartono
Pemutaran 4 film dokumenter bertajuk “Titip Absen”, 22-23 September 2015 di   PKKH UGM, Yogyakarta,  foto; a.sartono
Pemutaran 4 film dokumenter bertajuk “Titip Absen”, 22-23 September 2015 di   PKKH UGM, Yogyakarta,  foto; a.sartono
Para penonton film bertajuk “Titip Absen” di PKKH UGM, film difoto: Selasa, 22 September 2015, foto; a. sartono
FILM