Ruwatan Alit

17 Nov 2012

Upacara Adat

Ruwatan Alit

Dikarenakan wayang ruwat tersebut tidak untuk meruwat orang sukerta, Ki Dalang Bagong Margiyono mengatakan bahwa ini “Ruwatan alit”. Sesajinya tidak selengkap ruwatan sukerta.

Pada siang yang terik, ketika matahari persis berada di tengah, ‘Wanci Bedhug Tengange’ Batara Guru yang diiringi oleh Batara Narada dihadang oleh Batara Kala, anaknya. Sesuai dengan sabda yang diucapkan oleh Batara Guru, bahwa orang yang berjalan pada tengah hari tidak ngidung (bernyanyi) atau bersiul, termasuk sukerta, menjadi jatah makan Batara Kala.

“Ingat Kala, aku ini ayahmu, jangan kau makan. Seorang anak yang berani kepada orang tua, apalagi membunuh dan memakannya, akan mendapat kutukan dahsyat dan hidupnya bakal celaka,” kata Batara Guru.

“Aku tidak lupa Ramanda Guru. Justru aku ingat, orang ‘sukerta’ yang boleh aku makan sesuai dengan sabda Ramanda, diantaranya adalah: anak tunggal laki-laki ataupun perempuan (ontang-anting), anak dua laki-laki (uger-uger lawang), anak dua perempuan (kembang sepasang), anak dua laki-perempuan (kedana-kedini), anak tiga, laki-laki berada ditengah (pancuran kapit sendang), anak tiga, perempuan berada di tengah (sendang kapit pancuran), anak lima laki-laki (pandawa lima), dan orang yang berjalan saat tengah hari tidak bernyanyi dan tidak bersiul. Ramanda Guru dan Paman Narada termasuk golongan yang saya sebut terakhir, oleh karenanya menjadi jatahku untuk aku makan,” jawab Batara Kala.

Menghadapi kenyataan yang menyudutkan dirinya, Batara Guru memutar otak dan mencari cara untuk menghindar dari ancaman anaknya itu. Maka kemudian Batara Guru mengajukan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh Kala sebelum ia memakan dirinya. Satu persatu pertanyaan Batara Guru dijawab oleh Batara Kala dengan benar, hingga sampai dengan pertanyaan terakhir.

“Semua pertanyaan sudah saya jawab, tibalah waktunya untuk makan, aku semakin lapar dan semakin bergairah memakan Ramanda Guru dan Paman Narada. Namun sebelumnya sesuai sabda Ramanda aku harus ‘memaes’ (menggores) calon mangsaku dengan pedang pusaka Sukayana pemberian Ramanda,” jawab Kala.

“Kala anakku, lihatlah matahari telah condong ke barat, kami berdua bukan lagi orang sukerta yang menjadi jatah makan,” sabda Batara Guru.

Batara Kala merasa ditipu oleh Batara Guru. Namun bagaimana lagi, waktu sudah menjelang sore, dan mereka berdua telah melampaui ‘Wanci bedhug Tengange‘ dengan selamat.

Dengan sangat kecewa, Batara Kala meninggalkan Batara Guru dan Batara Narada, untuk mencari mangsa orang yang menjadi jatahnya, yaitu orang digolongkan sukerta. Dalam perjalanannya Kala bertemu dengan Ulamderma dan Ulamdermi dua anak laki-laki-perempuan (kedana-kedini) yang termasuk orang sukerta.

Tidak sabar Kala segera menerkam mereka berdua untuk dijadikan mangsa. Namun keduanya lari menyelamatkan diri. Ulamderma dan Ulamdermi minta pertolongan kepada orang gagah perkasa bernama Jaka Jatus Mati. Ia adalah anak tunggal yang termasuk orang sukerta. Batara Kala semakin bernafsus dengan bergabungnya Ulamderma dan Ulamdermi dengan Jaka Jatus Mati. Karena dengan demikian jatah makannya bertambah. Tapi, ternyata tidak semudah yang dibayangkan Kala, Jaka Jatus Mati adalah orang pemberani. Ia tidak membiarkan dirinya dimakan Batara Kala tanpa perlawanan, bahkan ia berani melawan Batara Kala untuk melindungi Ulamderma dan Ulamdermi.

Namun perlawanan Jaka Jatus Mati tidak seberapa dibanding dengan kesaktian Batara Kala. Jaka Jatus mati kalah dan melarikan diri bersama Ulamderma dan Ulamdermi. Mereka minta perlindungan kepada dalang Kandabuwana, penjelmaan Batara Guru yang sedang menggelar pagelaran wayang dengan cerita Murwakala. Kepada Kala, dalang Kandabuwana mengatakan, “Semua orang yang berada di dalam pegelaran wayang ini menjadi tanggunganku, tidak boleh engkau makan”.

Mengusung cerita dalam Murwakala itu, di Tembi Rumah Budaya pada Senin 12 November 2012 mulai pukul 20.00, dilangsungkan pagelaran wayang dengan tujuan untuk meruwat pasangan calon penganten yaitu: Ari Hernita Sari dengan Ery Agus Bernadhy yang dilakukan oleh dalang Ki Bagong Margiono.

Mereka diruwat bukan karena sukerta, tetapi karena ingin rezekinya lancar. Menurut kepercayaan, jika jumlah hari lahir dan hari pasaran (weton) dari keduanya ditotal dan habis di bagi enam, biasanya dari pihak laki-laki akan seret rezekinya. Oleh karena kepercayaan itu, calon temanten yang jika ditotal ‘weton’ dari keduanya berjumlah 24 ingin diruwat, agar nantinya, sebagai bapak rezekinya lancar sehingga mampu mensejahterakan keluarganya lahir dan batin.

Dikarenakan wayang ruwat tersebut tidak untuk meruwat orang sukerta, Ki Dalang Bagong Margiyono mengatakan bahwa ini “Ruwatan alit”. Sesajinya tidak selengkap ruwatan sukerta.

Secara ringkas, prosesi “ruwatan alit” dimulai dengan Ki Dalang Bagong Margiyono membaca ‘kidung pangruwat’, dan memainkan wayang sesuai dengan cerita tersebut.

Ruwatan Alit, Tembi Rumah Budaya, foto: Barata
Di bawah temaram lampu blencong, Ki Dalang Bagong Margiyono membaca ‘kidung pangruwat’

Tepat pukul 24.00, dengan selesainya pembacaan kidung pangruwat, Ki Dalang turun dari pendapa Tembi Rumah Budaya, menuju kedua calon pengantin yang sudah siap dengan balutan kain putih, untuk memotong rambut keduanya, sebagai tanda membuang sial. Tujuannya agar hidup mereka senantiasa mendapat keberuntungan.

Ruwatan Alit, Tembi Rumah Budaya, foto: Barata
Ki dalang memotong rambut calon pengantin putri

Upacara dilanjutkan dengan siraman. Ki dalang menyiramkan air yang berasal dari tujuh sumber, agar calon pengantin berdua bersih lahir dan batin. Tidak ada lagi dendam dan kebencian yang meracuni hati mereka, sehingga hidup mereka dekat dengan Sang Pencipta. Selanjutnya Ki Dalang Bagong Margiyono melepas dua burung merpati sebagai tanda ketulusan hati. Sedangkan sepasang angsa yang dilepas Ki Dalang melambangkan tulak bala (penolak bahaya), agar calon pengantin dan keluarga kelak mereka bangun dihindarkan dari marabahaya.

Ruwatan Alit, Tembi Rumah Budaya, foto: Barata
Ki Dalang mensucikan calon pengantin laki-laki dan perempuan dengan air
dari tujuh sumber mata air.

Dengan pelepasan sepasang angsa, maka rangkaian upacara ‘Ruwatan Alit’ selesai. Para keluarga, saudara dan kerabat meninggalkan tempat upacara. Waktu bergerak menuju pagi. Kedua calon pengantin menyongsong fajar untuk saling menyatukan hati menapaki langkah menuju masa depan yang membahagiakan. Semoga.

Herjaka HS
Foto: Barata

Jakarta