Wot Galeh, Makam Pangeran Purbaya di Dekat Bandara Adisucipto

15 Nov 2013

Situs-Situs

Wot Galeh, Makam Pangeran Purbaya di Dekat Bandara Adisucipto

Pangeran Purbaya memiliki nama muda Raden Mas Damar. Karena kesaktiannya ia ditunjuk menjadi senapati perang prajurit Mataram saat Sultan Agung bertahta. Ia bahkan sangat disegani oleh kaum penjajah.

Wot Galeh, makam Pangeran Purbaya, di dekat Bandara Adisucipto, Yogyakarta, foto: Hugo M Satyapara
Pintu masuk komplek Makam Wot Galeh

Wot Galeh adalah sebutan bagi sebuah kompleks pemakaman yang berada tak jauh dari kompleks Bandara Adi Sutjitpto Maguwo, Sleman, Yogyakarta. Letaknya kira-kira ada di sisi selatan landas pacu bandara, di antara lahan sawah yang sering ditanami tanaman tebu.

Kompleks pemakaman yang berusia tua itu rupanya cukup terkenal diantara jejak langkah kaki para pelaku budaya spiritual Jawa. Pasalnya di tempat tersebut dimakamkan seorang pangeran dari Mataram yang terkenal sakti, yaitu Purbaya putra Panembahan Senapati dari Rara Lembayung putri Ki Ageng Giring.

Pangeran Purbaya memiliki nama muda Raden Mas Damar. Karena kesaktiannya ia ditunjuk menjadi senapati perang prajurit Mataram saat Sultan Agung bertahta. Ia bahkan sangat disegani oleh kaum penjajah.

Wot Galeh, makam Pangeran Purbaya, di dekat Bandara Adisucipto, Yogyakarta, foto: Hugo M Satyapara
Pangeran Purbaya

Kompleks pemakaman ini setiap malam Selasa Kliwon maupun Jumat Kliwon ramai didatangi para peziarah. Mereka datang untuk samadi atau tirakat.

Pak Min, yang abdi dalem Keraton Yogyakarta, menjadi orang yang dipercaya untuk menjaga kompleks makam itu, sekaligus menjadi pemandu peziarah yang berniat tirakatan.

Tugas rutinnya antara lain mencatat para tamu yang hendak berziarah, juga memberikan keterangan yang dibutuhkan peziarah tentang kompleks pemakaman yang bercorak arsitektur khas Keraton Yogyakarta itu.

Wot Galeh, makam Pangeran Purbaya, di dekat Bandara Adisucipto, Yogyakarta, foto: Hugo M Satyapara
Pintu masuk menuju makam pangeran Purbaya

Di dalam pagar tembok kompleks makam Wot Galeh itu terdapat sebuah masjid semi terbuka, dan cungkup berisi dua makam, yakni Pangeran Purbaya, dan sang bunda, Ratu Giring.

Selain itu, di belakang masjid terdapat sebuah sumur, yang konon dibuat semasa hidup Pangeran Purbaya. Bibir sumur setinggi kira-kira semester tergolong lebar jika dibandingkan lebar bibir sumur kebanyakan. Permukaan air nampak berkilau tertimpa cahaya bulan purnama.

Orang-orang yang berniat melakukan tirakat biasanya mengawali prosesi dengan diguyur badannya menggunakan air sumur tersebut sebanyak tujuh kali. Pengguyuran air dilakukan dengan sebuah ember terbuat dari kayu. Angka tujuh adalah simbol dari pitulungan maupun simbol semoga tercapai tujuan yang diharapkan.

Wot Galeh, makam Pangeran Purbaya, di dekat Bandara Adisucipto, Yogyakarta, foto: Hugo M Satyapara
Makam Pangeran Purbaya

Naskah & foto: Hugo M Satyapara

Jakarta