Sasanalaya Menjadi Persemayaman Terakhir Pejuang Indonesia Asal Australia dan Inggris

22 Nov 2013

Situs-Situs

Sasanalaya Menjadi Persemayaman Terakhir Pejuang Indonesia Asal Australia dan Inggris

Alexander Noel beserta istrinya dan Hazlehurst merupakan pejuang-pejuang asing yang membantu Indonesia. Jenazah mereka akhirnya dikuburkan di sebuah tempat yang dulu dikenal sebagai Kerkop (kerkhof) Yogyakarta.

Posisi atau keletakan makam Alexander Noel Constantine dan istrinya yang semula terpendam di dalam tanah sedalam satu meter dan berada di bawah pondasi kamar mandi di Sasanalaya, Jl. Ireda, Yogyakarta, difoto: Rabu, 6 November 2013, foto: a.sartono
Makam Alexander Noel Constantine dan istrinya
mulai disingkap dari tanah yang menimbun sedalam satu meter

Jurukunci makam Sasanalaya, Jl Ireda No 4 Yogyakarta, Sumadi, menurut pemberitaan media massa, telah menemukan kuburan Alexander Noel Constantine dan Roy Hazlehurst. Kedua orang ini adalah pilot dan co-pilot pesawat Dakota VT-CLA, yang ditumpangi oleh tiga pahlawan nasional RI yakni Komodor Muda Udara (Kolonel) A Adisutjipto, Komodor Muda Udara Abdulrachman Saleh, dan Opsir Muda Udara (Lettu) Adisumarmo.

Pesawat yang dikemudikan oleh Alexander Noel Constantine, warga Australia, ini ditembak jatuh oleh dua pesawat jenis P-40 Kitty Hawk milik Belanda pada tanggal 29 Juli 1949. Alexander Noel Constanine mencoba mendarat darurat, namun gagal. Pesawat Dakota VT-CLA ini akhirnya jatuh di Dusun Ngoto, Kelurahan Bangunharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, DIY. Untuk menandai kejadian itu di dusun tersebut dibangun sebuah monumen.

Dalam peristiwa ini selain pilot dan tiga pejuang, ada beberapa orang lain yang tewas yakni istri pilot Alexander Noel Constantine yang bernama Beryl Constantine; Roy Hazlehurst yang berasal dari Inggris; Bidha Ram, insinyur penerbangan dari India; dan Zainal Arifin, konsul Indonesia untuk Malaya. Satu-satunya penumpang pesawat jenis C-47 Dakota itu yang selamat adalah Abdulgani Handonotjokro.

Alexander Noel Constantine lahir pada tanggal 13 Desember 1914 di Moama, Negara Bagian New South Wales, Australia. Ia bergabung dengan RAAF (Royal Australian Air Force) pada bulan Mei 1938. Pada bulan Juni 1940 ia bergabung dengan Skadron 141 di Turnhouse, Skotlandia. Ia pernah memimpin Skadron 237 di Ceylon/Srilanka, India dari bulan April 1942-Juni 1943 dengan tugas utama menjaga atau mempertahankan pelabuhan di sana.

Constantine kemudian mengambil komando Skadron 136 di Baigachi (sebuah wilayah yang terletak sekitar 25 mil dari Calcuta). Dalam penugasan di sini, ia tercatat berhasil menembak jatuh pesawat tempur Jepang jenis Mitsubishi A6M-3 Zero dan merusakkan beberapa pesawat yang lainnya.

Lokasi makam Alexander Noel Constantine tengah dipersiapkan untuk diteliti lebih lanjut, difoto: Rabu, 6 November 2013, foto: a.sartono
Lokasi makam Alexander Noel Constantine tengah dipersiapkan untuk diteliti lebih lanjut

Bulan April 1944 Constantine dipromosikan menjadi komandan Wing dan ditempatkan sebagai staf. Ia dibebaskan dari tugasnya sebagai anggota RAAF pada bulan Desember 1946. Ia kemudian kembali ke Australia dan kemudian mulai terbang ke bekas jajahan Belanda, Hindia Belanda (Indonesia). Di sini Constantine menerbangkan Dakota VT-CLA yang membawa obat-obatan bantuan dari Malaya.

Pesawat angkut ini sebelumnya milik negara bagian Orissa, India, kemudian dibeli oleh pejuang-pejuang Indonesia untuk mendukung kedaulatan negara RI yang baru saja berdiri.

Alexander Noel beserta istrinya dan Hazlehurst merupakan pejuang-pejuang asing yang membantu Indonesia. Jenazah mereka akhirnya dikuburkan di sebuah tempat yang dulu dikenal sebagai Kerkop (kerkhof) Yogyakarta.

Lokasi makam ini sebenarnya berada di pusat kota, di sisi timur Gapura Buntet (Plengkung Madyasura). Makam itu dulu dinamakan Candi Laya, kemudian diganti nama Sasanalaya. Tulisan Candi Laya dalam ejaan lama masih dapat dibaca di ambang pintu utama kompleks makam ini.

Lokasi makam dapat dijangkau melalui Alun-alun utara ke timur (masuk jalan Ibu Ruswo). Setelah sampai pertigaan ambil arah ke selatan. Setelah menemukan pertigaan lagi, ambil arah ke kiri (timur). Kompleks makam Sasanalaya berada di sisi selatan (kanan) jalan dari pertigaan terakhir.

Sumadi (62) yang menjadi jurukunci di tempat ini sejak tahun 2002, pada tahun 2003 mendapat informasi dari jurukunci lama yang bernama Giyono bahwa Kedubes Australia pernah mencari informasi mengenai warganya yang gugur bersama pahlawan udara Indonesia. Pihak Kedubes melacak sampai ke Pemkot Yogyakarta dan akhirnya ke Monumen TNI AU yang dibangun di Dusun Jatiarang, Kelurahan Tamanan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, yang secara geografis tidak jauh dari Dusun Ngoto (sekarang).

Pintu gerbang utama kompleks makam Sasanalaya Jl. Ireda No 4. Yogyakarta, difoto: Rabu, 6 November 2013, foto: a.sartono
Pintu gerbang utama kompleks makam Sasanalaya, dan jurukunci Sumadi

Dari pihak monumen pun Sumadi mendapat beberapa pertanyaan mengenai pejuang asing yang dicari Kedubes Australia itu. Sumadi melacak semua arsip atau catatan mengenai kuburan di tempat ia bertugas. Akhirnya ia memang menemukan catatan yang dimaksud. Namun Sumadi belum bisa memastikan di mana persisnya letak dari kuburan ketiga pahlawan asing tersebut.

Tahun 2005 pihak Kedubes Australia datang ke lokasi dan memperlihatkan beberapa foto tentang pemakaman ketiganya di TPU Sasana Laya ini. Berdasarkan foto-foto itulah Sumadi mencoba mencari ketepatan lokasi makam. Akhirnya Sumadi memang bisa menemukannya.

Hanya saja makam ketiga orang itu sudah terpendam (tertutup) di dalam tanah. Bahkan pada separuh bagian dari makam tersebut telah didirikan bangunan (kamar mandi) di atasnya. Atas kerjasama beberapa pihak sebagian kamar mandi dan lantainya kemudian dibongkar dengan maksud agar makam itu bisa kelihatan. Timbunan tanah yang mengaburkan penglihatan bahwa tempat yang dimaksud adalah kuburan mencapai satu meteran.

Luas kompleks TPU Sasana Laya di Jl Ireda No 4 ini kurang lebih 1.700 meter persegi. Makam itu berisi sekitar 4.000 nisan. Sistem pemetaan atas makam ini sebenarnya telah dilakukan, tapi dalam perjalanan waktu sistem pemetaan tersebut juga relatif tidak mudah dibaca mengingat banyak perubahan yang terjadi.

Menurut Sumadi kompleks makam kerkhof ini dulu memang cukup luas hingga ke Jl Brigjen Katamso. Pada masa lalu Jl Brigjen Katamso masih merupakan jalan sempit. Penggusuran kompleks makam kerkhof ini akhirnya juga menimbulkan beberapa PR yang belum bisa terjawab dengan tuntas hingga sekarang. Salah satu PR tersebut adalah tidak lagi bisa ditemukannya makam Kasijan Cheppas, fotografer pertama pribumi. Mungkin juga ada banyak makam lain yang kini identitas atau alamatnya tidak lagi bisa dilacak.

Ukuran lubang makam dari Alexander Noel dan istrinya kira-kira 180 cm x 85 cm. Demikian pun dengan lubang makam Hazlehurst. Posisi lubang makam ketiganya berada tidak jauh dari pintu gerbang. Tepatnya berada di sisi selatan-barat dari pos jaga jurukunci.

Dalam kesehariannya kompleks makam ini dilayani oleh empat orang juru gali kubur, juru bersih dua orang, pembantu kantor satu orang, dan satu juru kunci yang menjadi pemimpin pengelolaan makam tersebut.

Naskah & foto: A. Sartono

sumber:
www.bbm.org.uk/Constantine.htm
www.tribunnews.com

Jakarta