Nini Thowong

18 Sep 2012

Dolanan

Nini Thowong-2
(Permainan Anak Tradisional-88)

Nini Thowong-2

Mengenai alat-alat yang digunakan dalam permainan Nini Thowong ini ada kepercayaan bahwa barang-barang yang akan digunakan itu harus diambil dengan cara mencuri, misalkan saja siwur (gayung). Fungsi gayung ini nantinya sebagai kepala Nini Thowong yang dirias. Menurut kepercayaan, bahwa siwur yang digunakan untuk keperluan dolanan Nini Thowong ini harus dicuri dari milik seorang nenek yang terkenal galak. Tujuannya agar dolanan Nini Thowong bisa ndadi dan seru.

Selain itu, sehari sebelum mengadakan permainan ini, Nini Thowong yang sudah jadi (dirias dan diberi perlengkapan lainnya) juga diharus ditempatkan di pekuburan yang keramat. Tujuannya agar Nini Thowong dirasuki oleh roh halus. Tentu yang melaksanakan ini adalah orang pintar, dukun atau pawang. Tentu saat ditempatkan di pekuburan juga disertai dengan sesaji lain, seperti kembang telon dan kemenyan.

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa permainan ini awalnya bukan permainan biasa, tetapi mengandung unsur mistis atau animistik, sehingga bisa ditebak bahwa dolanan ini adalah warisan nenek moyang di zaman dulu, ketika mereka percaya terhadap kepercayaan animisme. Bahkan menurut cerita yang berkembang zaman itu, sesuai yang dirilis dari sumber Sukirman (2004) mengatakan bahwa konon pada mulanya Nini Thowong adalah penjelmaan dari wanita biasa. Pada suatu ketika wanita itu berbuat jahat, lalu disihir oleh tetangganya menjadi roh halus dan kemudian dinamakan Nini Thowong.

Ada cerita lain mengatakan bahwa Nini Thowong berasal dari kama wurung (benih manusia yang tidak jadi). Kama wurung itu tidak dirawat sebagaimana semestinya, kuburannya tidak dijaga dan tidak dirawat sebaik-baiknya, serta tidak pernah diberi sesaji. Kama wurung akhirnya menjadi roh halus dan mengembara ke tempat-tempat keramat. Roh halus ini kemudian bertempat pada Nini Thowong, sehingga ia memiliki kekuatan gaib. Nini Thowong kemudian dapat dipanggil untuk keperluan pengobatan, mencari barang hilang, dan lain sebagainya.

Dalam perkembangan selanjutnya, permainan Nini Thowong ini tidak hanya untuk keperluan upacara saja, tetapi hanya untuk permainan belaka. Suatu permainan yang berbeda dari permainan biasanya dan harus mendatangkan roh halus. Namun meskipun hanya untuk permainan, tetapi syarat berupa sesaji, bunga, dan kemenyan tetap harus ada. Sementara sesaji yang diperlukan untuk permainan Nini Thowong adalah slametan Rasulan. Slametan Rasulan ini memerlukan nasi gurih, ingkung ayam jantan, lalapan sambel pecel, krecek, dan lain sebagainya. Juga ditambah dengan nasi ambengan lengkap, tumpeng dan sayuran, pisang raja, jajan pasar, dan lain sebagainya. Macam sesaji ini tentu berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Memang dalam dolanan Nini Thowong ini memerlukan biaya yang besar. Namun, pada zaman dulu, semuanya itu mudah didapat dan tidak harus membeli, namun bisa memetik di kebun atau hasil bumi lainnya.

bersambung

Suwandi
Foto: Sartono

Sumber: Sukirman Dharmamulya (2004), Permainan Tradisional Jawa, Yogyakarta: Kepel Press, Pengamatan serta Pengalaman Pribadi.

Jakarta