Menek Jambe-2 (Permainan Anak Tradisional-83)

26 Jun 2012

Ensiklopedi

Menek Jambe-2
(Permainan Anak Tradisional-83)

Menek Jambe-2

Pohon pinang yang dipakai untuk lomba panjat pinang, sebelumnya sudah dipotong bagian pucuk dan bagian pangkal (akar). Kemudian bagian atas (kira-kira setengah meter dari pucuk) diberi kayu melingkar dengan diberi palang-palang dikaitkan dengan pohon pinang yang menjadi titiknya. Pengaitan bisa dilakukan dengan mengebor pohon pinangnya, biar kokoh. Kemudian, di sepanjang diameter lingkaran atas bisa digantungkan berbagai hadiah, seperti mainan, sepeda, baju, alat minum, dan sebagainya. Hadiah tergantung dari kemampuan penyelenggara dan peserta yang mengikuti lomba panjat pinang.

Sementara itu, seluruh batang pohon pinang yang sudah ditancapkan di tanah lapang, bisa dilumuri dengan oli dan sejenisnya. Maksud pemberian minyak oli, agar setiap peserta dan rombongannya tidak mudah mencapai tempat hadiah. Setiap kali hendak sampai di atas, otomatis akan melorot karena begitu licinnya. Peristiwa melorotnya setiap peserta atau pemain itulah yang membuat bahan tertawaan setiap penonton yang hadir melihat dolanan ini. Begitu pula ketika ada peserta dan rombongannya yang bisa mencapai puncak, maka para penonton juga akan bersorak-sorai kegirangan menyaksikannya. Itulah serunya lomba panjat pinang.

Seringkali lomba ini dilakukan berjam-jam, tergantung strategi yang digunakan oleh setiap peserta dan rombongannya. Karena begitu licinnya pohon pinang dan terbatasnya peserta dalam satu regu, memang membutuhkan keuletan mencapai puncak. Apalagi kalau peserta yang berada tidak begitu kuat, maka pemain yang berada di atasnya akan sering melorot. Maka kekuatan fisik setiap peserta dolanan ini sangat penting. Selain itu, tentu kerjasama dan strategi yang tepat juga harus diterapkan.

Sayangnya, dolanan ini membutuhkan biaya banyak, untuk membeli hadiah-hadiah dan pohon pinangnya sendiri. Pohon pinang sendiri juga tidak sembarang tempat ada, maka wajar apabila harganya mahal. Untuk terlaksananya dolanan ini tentu perlu banyak pihak yang mensponsori agar berjalan baik dan meriah. Dari dolanan yang mengandung unsur lomba, setidaknya mendidik kepada pemain untuk bisa bekerjasama dengan teman-temannya. Setiap pemain harus bisa menempatkan diri dalam perannya. Jika ada pemain kekar, maka sebaiknya berposisi di bawah. Begitu pula dengan pemain kecil dan langsing sebaiknya yang naik ke atas. Begitu seterusnya.

Suwandi

Sumber buku “33 Permainan Tradisional yang Mendidik, Dani Wardani, 2010, Yogyakarta: Cakrawala; Pengamatan dan Pengalaman Pribadi

Jakarta