LEPETAN-2 (PERMAINAN ANAK TRADISIONAL-40)

10 Aug 2010

Ensiklopedi

LEPETAN-2
(PERMAINAN ANAK TRADISIONAL-40)

Misalkan ada 8 anak laki-laki (pemain A,B,C,D,E,F,G, dan H) yang hendak bermain Lepetan. Setelah dilakukan hompimpah dan sut, ternyata pemain yang kalah adalah G. Maka G bertugas memegang batang pohon terlebih dahulu. Sementara pemain kalah kedua terakhir, yakni pemain H berada di urutan terbelakang disusul urutan kalah berikutnya. Pemain terdepan yang menang paling awal, yakni pemain A terpilih sebagai si Embok.

Setelah pemain G memeluk pohon, maka pemain lainnya, mulai dari si Embok (pemain A) yang terdepan kemudian disusul oleh pemain urutan menang berikutnya di belakangnya. Dilanjutkan pemain berikutnya hingga yang terakhir kalah, yakni pemain H. Mereka mulai menyanyikan lagu Lepetan yang pertama sambil berjalan berkelak-kelok seperti ular. Lalu mereka menerobos melewati pemain yang merangkul pohon. Setelah sampai pemain terbelakang, pemain G menjaring atau menangkap pemain H. Sementara pemain lainnya kembali berputar-putar. Pada saat itu, pemain H bergantian memeluk pohon, sementara pemain G berdiri di sekitar pohon sambil melipat tangannya, bisa ke depan atau ke belakang. Demikian dilakukan berulang kali hingga semua pemain di belakang pemain A, yang dianggap sebagai anak-anaknya habis.

Setelah semua pemain melipat tangannya, maka pemain A mulai bertindak seolah-olah seorang ibu yang hendak memberi makan kepada anak-anaknya. Lalu pemain A mulai berkomunikasi dengan anak-anaknya yang tangannya terlipat dengan ucapan-ucapan: “enya sega, senya sega...” (sambil melangkah menghampiri setiap anaknya). Setelah selesai, dilanjutkan dengan membagi-bagikan lauknya mulai dari urutan pertama lagi, sambil berucap, “enya iwak, enya iwak....”. hanya saja ketika sampai pada pemain terakhir, misalkan pemain H, si Embok mengatakan, “enya balunge.”

Tiba di pemain terakhir ini, yakni pemain H, lalu terjadi dialog antara si Embok (pemain A) dengan pemain H, misalkan seperti di bawah ini:
Pemain A (si Embok) : “Dibanda nyolong apa?
Pemain H (anak) : “Nyolong keris!”
Pemain A : “Saiki kerise endi?”
Pemain H : “Wis dakgadhekke!”
Pemain A : “Endi dhuwite?”
Pemain H : “Wis tak nggo nempur (tuku beras).”
Pemain A : “Endi berase?”
Pemain H : “Wis dakliwet.”
Pemain A : “Endi segane?”
Pemain H : Wis dak pangan!”

Dialog seperti itu diulang berkali-kali kepada semua anaknya. Jawaban tentang benda yang dicuri boleh bebas, tergantung kreativitas masing-masing anak. Setelah semua anak selesai ditanya oleh si Embok, mereka kemudian berkumpul di tiang atau batang pohon berkerumun seperti gerombolan lebah di sarang. Sambil bergerombol, mereka menyanyikan lagu Lepetan kedua, yakni: //Dha ngobong klasa bangka/ dha ngobong klasa bangka//.

Usai menyanyikan lagu kedua, si Embok segera berlari sekencang-kencangnya menjauhi kerumunan anak-anak yang bergerombol di batang pohon tadi. Karena Embok (indung) lari, maka anak-anaknya mengejar hingga tertangkap. Setelah si Embok tertangkap, maka anak-anaknya segera mencubiti si Embok (biar pun tidak keras), seolah-olah lebah yang sedang menyengat mangsanya. Ini juga bisa sebagai simbol kasih sayang, bahwa anak-anak selalu merindukan ibunya. Ia akan memukuli ibunya (dengan lemah lembut) saat ditinggal oleh ibunya. Demikianlah dolanan Lepetan telah berakhir dan bisa dimulai dari awal lagi.

Yang jelas, dolanan ini memberi nilai positif kepada anak-anak untuk bisa bergaul dengan teman-teman sebayanya. Mereka diharapkan bisa bersosialisasi sehingga tercipta solidaritas yang tinggi dan rasa emosi yang kuat dalam pertemanan. Dengan demikian, jiwa anak-anak tidak akan tertanam rasa egois yang berlebih-lebihan, karena mereka terbiasa bergaul dan memahami sifat masing-masing temannya.

Suwandi
Sumber: Permainan Tradisional Jawa, Sukirman Dharmamulya, dkk, 2004, Yogyakarta: Kepel Press dan Permainan Rakyat DIY, Ahmad Yunus, 1981, Yogyakarta, Dep P&K

Jakarta