Genthong, Tempat Air untuk Memasak

07 Oct 2014

Salah satu alat dapur tradisional pada masyarakat Jawa yang saat ini sudah termasuk langka adalah genthong, terutama yang terbuat dari tanah liat. Zaman dahulu, genthong hampir dipastikan dapat ditemukan di setiap rumah masyarakat Jawa sebagai tempat menyimpan air untuk memasak.

Seri Alat Dapur Masyarakat Jawa, sumber foto: Suwandi/Tembi
Genthong gerabah, milik penduduk di Bantul, DIY

Salah satu alat dapur tradisional pada masyarakat Jawa yang saat ini sudah termasuk langka adalah genthong, terutama yang terbuat dari tanah liat. Zaman dahulu, genthong hampir dipastikan dapat ditemukan di setiap rumah masyarakat Jawa sebagai tempat menyimpan air untuk memasak. Tempatnya tidak pernah jauh dari dapur, yang diletakkan di luar atau di dalam dapur.

Namun saat ini belum tentu ditemukan satu pun genthong di setiap kampung di Jawa. Jika pun ada, biasanya sudah tidak digunakan lagi sebagai fungsi utama, tetapi sudah difungsikan lain, seperti untuk memeram buah, tempat sampah, tempat perkakas lain, atau bahkan tidak digunakan sama sekali alias hanya ditaruh di gudang, di dapur atau bahkan disisihkan di luar rumah.

Pada umumnya, genthong gerabah berbentuk silinder, bagian tengah cembung, bagian bawah datar, dan bagian atas (mulut) kecil berbibir dan kadang-kadang bertutup. Tingginya bervariasi mulai dari 40 cm hingga 80 cm dengan diameter bagian tengah mencapai 40—70 cm sesuai dengan besar kecilnya genthong. Genthong ini biasanya terbuat dari tanah liat.

Genthong termasuk alat dapur yang sudah lama dikenal oleh masyarakat Jawa. Bahkan istilah ini juga sudah masuk dalam kamus Jawa bernama Baoesastra Djawa karangan WJS Poerwadarminta terbitan tahun 1939. Pada halaman 144 disebutkan bahwa genthong adalah alat dapur yang berfungsi sebagai tempat air, bentuknya besar seperti genuk. Itu menandakan bahwa jauh sebelum termuat dalam kamus tersebut, keberadaan genthong sudah menyebar di masyarakat Jawa.

Saat ini keberadaan gentong gerabah telah tergantikan oleh barang serupa yang terbuat dari plastik. Untuk itu, produksi genthong gerabah juga sudah sangat jarang dijumpai kecuali di sentra-sentra besar, seperti di Kasongan Yogyakarta. Selain itu, hanya tersisa satu dua perajin gentong tingkat rumahan yang masih bertahan, antara lain di daerah Masaran, Sragen, Jawa Tengah.

Seri Alat Dapur Masyarakat Jawa, sumber foto: terasolo.com
Perajin Genthong Gerabah yang Masih Bertahan di daerah 
Masaran, Sragen, Jawa Tengah, foto: terasolo.com

Tersisihnya genthong gerabah karena antara lain kalah awet dibandingkan dengan genthong plastik. Genthong gerabah mudah pecah. Selain itu genthong plastik lebih praktis dan mudah perawatannya, walaupun harga genthong plastik lebih mahal jika dibandingkan dengan genthong gerabah.

Selain sudah banyak berpindah ke genthong plastik, banyak pula ibu rumah tangga di masyarakat Jawa sekarang ini yang juga menggunakan ember plastik sebagai pengganti genthong gerabah. Dengan pertimbangan ember plastik harganya murah, mudah perawatannya, mudah dipindahkan, dan risiko pecahnya kecil. Maka tidak heran rumah tangga masyarakat Jawa sekarang ini, lebih banyak menggunakan ember dan genthong plastik untuk menyimpan air guna keperluan memasak, daripada genthong gerabah.

Suwandi