EPEK-EPEK (DOLANAN ANAK TRADISIONAL-27)

03 Mar 2010

Ensiklopedi

EPEK-EPEK
(DOLANAN ANAK TRADISIONAL-27)

Masyarakat Jawa yang mengenal permainan (dolanan) anak dengan nama “Epek-Epek” di antaranya adalah masyarakat di wilayah Imogiri, Bantul dan Gunung Kidul. Bisa pula daerah lain di Jawa juga mengenal jenis permainan ini, namun dengan nama yang berbeda. Merunut dari nama jenis permainan, yakni epek-epek, setidaknya mengacu pada anggota badan yang bernama telapak tangan. Dalam permainan ini, telapak tangan berperanan penting untuk bermain, yakni mematikan pemain yang mentas. Dengan “nyablek” atau menyentuh pemain mentas dengan telapak tangan atau epek-epek, maka pemain mentas tadi ikut menjadi pemain dadi. Itulah sebabnya, permainan ini disebut dengan nama “epek-epek”. Jenis permainan ini lebih banyak mengandung unsur lari, seperti permainan jeg-jegan, jethungan, dhul-dhulan, dan sebagainya.

Seperti jenis dolanan lain, permainan ini pun juga sulit untuk dilacak mulai kapan mulai dikenal dan beredar di masyarakat. Memang pada umumnya, jenis permainan yang masuk dalam warisan non-bendawi sulit dilacak keberadaannya, karena jarang diabadikan dalam bentuk tulisan. Ternyata, jenis permainan ini juga tidak ditemukan dalam Kamus Bahasa Jawa karangan W.J.S. Poerwadarminta (1939). Namun begitu, menurut Sukirman Dharmamulya (2005) permainan ini telah lama dikenal oleh masyarakat di kedua wilayah tersebut.

Waktu yang biasa dipakai untuk bermain juga tidak berbeda dengan jenis dolanan lain. Setidaknya saat-saat waktu longgar sering dipakai oleh anak-anak untuk bermain, baik pagi, siang, sore, atau malam hari. Jika waktu libur biasa dilakukan pagi hingga sore hari. Jika di sekolah, bisa dilakukan waktu jam istirahat. Waktu malam hari, dulu sering dilakukan saat bulan purnama. Sementara lokasi yang diperlukan untuk permainan ini harus luas. Setidaknya halaman rumah yang ada di depan dan belakang, dahulu biasa dipakai untuk arena bermain. Jadi, masalah tempat tergantung kesekapatan anak-anak yang hendak bermain. Begitu pula usia anak-anak yang bermain, memang idealnya sebaya (setidaknya usia SD, 7—12 tahun), agar permainan seimbang. Permainan ini juga tidak membedakan jenis kelamin. Artinya, baik laki-laki maupun perempuan bisa bersama-sama bermain bareng. Asalkan semua mematuhi aturan permainan dan konsekuen.

Permainan epek-epek termasuk dolanan yang diiringi lagu. Lagu itu biasa dinyanyikan di awal permainan. Syairnya, sebagai berikut: /Epek-epek si kancil mbeleh tekek/ sir gedebug ceklek/ si kancil nyolong timun/ timune ewer-ewer/ jenenge dower//. Lagu itu dinyanyikan sekali dalam setiap permainan. Setiap kali mengucapkan satu suku kata, maka pemimpin permainan terus menunjuk ke sejumlah pemain yang ikut dalam permainan ini secara bergantian searah jarum jam. Maka setelah pada akhir suku kata yaitu /wer/, maka anak yang kena nyanyian terakhir itulah yang menjadi pemain dadi.

Sebelum anak-anak bermain “epek-epek” biasanya mereka membuat aturan lisan, di antaranya: 1) keluar dari lokasi yang sudah ditentukan, berarti mati atau “dis”; 2) pelantun lagu biasanya dinyanyikan dari pemain yang terakhir tersentuh pemain dadi, kecuali awal permainan (berdasarkan kesepakatan bersama); 3) pemain dadi adalah pemain yang ditunjuk bersamaan dengan berakhirnya nyanyian (suku kata terakhir “wer” pada kata “dower”); 4) cara mematikan pemain mentas dengan cara “nyablek” dengan telapak tangan pada badan pemain lain. Jika hanya menyentuh baju dengan ujung jari tidak sah; 5) setiap pemain mentas yang baru saja dicablek, ia harus membantu pemain dadi sebelumnya untuk mengejar pemain lain yang masih mentas; 6) permainan berakhir apabila semua pemain telah tersentuh (tertangkap). Jika semua anak telah tertangkap, maka permainan dimulai lagi dari awal dengan menyanyikan lagu yang sama seperti di atas. Demikianlah aturan yang biasa disepakati secara lisan oleh anak-anak yang hendak bermain dolanan “epek-epek”.

bersambung

Suwandi

Jakarta