DOLANAN SUMBAR SURU-1 (PERMAINAN ANAK TRADISIONAL-52)

18 Jan 2011

Ensiklopedi

DOLANAN SUMBAR SURU-1
(PERMAINAN ANAK TRADISIONAL-52)

DOLANAN SUMBAR SURU-1Bagi anak-anak perempuan masyarakat Jawa di era tahun 1980-an, dolanan Sumbar Suru mungkin sudah tidak asing lagi bagi mereka. Pada zaman itu, tentu mereka sering memainkan dolanan ini, karena selain populer di kala itu, dolanan ini juga termasuk mudah dimainkan serta bahan mainan berupa kecik mudah diperoleh di sekitar rumah mereka. Namun seiring waktu, di awal abad XXI ini, dolanan Sumbar Suru sudah menyurut dan hampir tidak dikenali lagi oleh anak-anak perempuan saat ini.

Sebenarnya dolanan ini cukup menyebar di daerah Jawa, setidaknya di wilayah DIY. Beberapa daerah kabupaten di DIY yang mengenal dolanan ini pada sampel penelitian Ahmad Yunus (1980) antara lain: Kampung Ngasem, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta; Kalurahan Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo; dan Kelurahan Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman. Walaupun begitu, tentu dolanan ini tidak hanya terdapat di tiga daerah tersebut, namun juga beberapa daerah lain yang kebetulan tidak menjadi sampel penelitian. Hal ini menandakan, bahwa dolanan Sumbar Suru cukup tren dan populer di kalangan anak-anak perempuan masyarakat Jawa hingga era 1980-an.

Bahkan, pada era 1939-an, ternyata dolanan ini pun juga sudah dikenal oleh anak-anak perempuan masyarakat Jawa. Buktinya, nama dolanan ini sudah terekam dalam kamus bahasa Jawa “Baoesastra Djawa” karangan W.J.S. Poerwadarminta (1939). Pada halaman 572 kolom 1, diterangkan bahwa kata /sumbar/ selain bermakna ‘menantang dengan kata-kata’ juga bermakna ‘salah satu jenis dolanan anak perempuan, dengan menggunakan media dolanan berupa kecik, dan sebagainya’. Hal itu menunjukkan bahwa dolanan Sumbar Suru memang sudah dikenal oleh anak-anak perempuan masyarakat Jawa jauh sebelum kata tersebut masuk dalam entri kamus. Hanya belum diketahui secara pasti, mulai kapan dolanan ini ada.

Menilik dari nama dolanan, ada beberapa versi. Selain suatu masyarakat menamakan dengan Sumbar Suru, di beberapa tempat lain menyebutnya dengan Simbar Suru atau Sebar Suru. Namun sebenarnya, mereka itu menunjuk ke sebuah permainan yang sama, yakni dolanan dengan media kecik (biji tanjung, sawo manila, sawo biasa, asam, dan sebagainya) yang cara bermainnya disebar dan diambil dengan suru (sendok dibuat dari daun). Perbedaan penyebutan nama dolanan tradisional di kala itu seringkali terjadi, karena penyebaran hanya lewat tradisi lisan, mulut ke mulut, yang memungkinkan perubahan pengucapan. Hal itu juga terjadi pada tradisi sastra lainnya, misalkan karya sastra piwulang atau babad, yang sering dilantunkan lewat macapatan, kadang mengalami beberapa versi yang berbeda. Misalkan cuplikan tembang Pangkur /mingkar-mingkuring angkara/, di versi lain dilantunkan /mingkar-mingkuring ukara/. Demikian juga banyak kasus di serat piwulang atau babad lainnya.

Kata Sumbar, Simbar, atau Sebar pada dolanan itu, sebenarnya menunjuk pada media kecik yang disebar saat dolanan. Sementara kata Suru, lebih menunjuk pada media suru (sendok terbuat dari daun) yang dipakai untuk mengambil kecik-kecik yang tersebar. Pada dolanan anak laki-laki yang juga menggunakan media kecik, biasanya terkenal dengan nama dolanan ‘adu kecik’.

DOLANAN SUMBAR SURU-1Media bermain berupa kecik, di kalangan anak-anak masyarakat Jawa banyak melahirkan jenis dolanan. Tentu, selain Sumbar Suru, dolanan anak yang menggunakan media kecik antara lain: dhakon, tiga jadi, cublak-cublak suweng, kubuk, kubuk manuk, ado kecik, macanan, dan lain-lain. Banyaknya jenis dolanan yang menggunakan media kecik untuk bermain disebabkan kecik sangat mudah diperoleh di sekitar tempat tinggal. Bahkan kecik sawo atau tanjung hampir merata ditanam di pinggir jalan dan halaman rumah para bangsawan kraton di kala itu, karena termasuk tanaman yang memiliki arti filosofi dalam budaya Jawa. Maka tidak mustahil, anak-anak banyak memanfaatkan biji-bijinya untuk bermain. Jadi, biji-biji (kecik) itu diperoleh oleh anak-anak secara gratis, dikumpulkan setiap pagi, ketika buah-buah biasanya rontok atau berguguran di malam hari.

Dolanan Sumbar Suru, seperti dikatakan di atas, lebih sering dan didominasi oleh anak-anak perempuan. Namun begitu, kadang-kadang ada anak laki-laki yang ikut bermain. Pada umumnya anak-anak perempuan yang bermain dolanan ini berumur sekitar 9—12 tahun. Dolanan ini tentu melatih keuletan, kecermatan, dan sikap kehati-hatian bagi setiap anak yang bermain Sumbar Suru. Tanpa sikap itu semua, mereka akan mengalami kemenangan.

Dolanan Sumbar Suru memang ada sedikit unsur taruhan. Namun taruhan yang dimaksud di sini adalah taruhan kecik yang diperoleh secara gratis. Jadi, sebenarnya yang dominan di sini bukan unsur taruhannya, tetapi unsur permainannya. Sebab, di dunia anak, jika terjadi kalah taruhan, mereka biasanya harus ‘legawa’ dan tidak boleh marah. Untuk menebus kekalahan itu, mereka harus kembali mencari lebih banyak lagi kecik-kecik itu di sekitar rumah mereka secara gratis.

bersambung

Suwandi

Sumber: Permainan Rakyat DIY, Ahmad Yunus, 1980/1981, Jakarta, Departemen P&K

Jakarta