DOLANAN JIRAK ULA-2 (PERMAINAN ANAK TRADISIONAL-65)

09 Aug 2011

Ensiklopedi

DOLANAN JIRAK ULA-2
(PERMAINAN ANAK TRADISIONAL-65)

DOLANAN JIRAK ULA-2Misalkan ada 6 anak hendak bermain Jirak Ula, yakni pemain A,B,C,D,E, dan F. Maka setiap pemain sudah membawa neker dari rumah masing-masing. Jumlah neker yang dibawa bebas, tidak ada keharusan dan paksaan. Setelah semua pemain siap di tempat bermain, maka salah satu anak membuat gambar ular berlenggak-lenggok di atas tanah. Di bagian kepala bisa berujud supit urang, sementara bagian belakang yang berjarak 2 meter dari kepala, dibentuk lingkaran dengan diameter sekitar 50 cm atau sesuai dengan selera.

Seorang anak lain membuat sebuah garis melintang dengan jarak sekitar 6—10 meter dari gambar jirak ula. Sementara panjangnya kira-kira 4 meteran. Demikian pula di kanan kiri jirak ula, sejajar dengan supit urang juga dibuat garis yang tidak begitu tebal sebagai tempat melemparkan gacuk. Itulah yang disebut dolanan jirak ula. Jika garis yang menghubungkan supit urang dengan ekor tidak berkelak-kelok, tetapi lurus saja, dolanan itu bisa disebut jirak juga. Namun agak berbeda dengan jenis dolanan jirak yang telah diutarakan sebelumnya. Dalam dolanan jirak yang terakhir ini, alat yang digunakan juga kelereng. Jadi bedanya dengan jirak ula hanya bentuknya gambar yang berbeda.

Setelah semua siap bermain, semua pemain membuat kesepakatan udhu atau taruhan kelereng yang akan diadu. Misalkan menurut kesepakatan udhunya 3, berarti setiap pemain menaruh 3 kelereng ke dalam lingkaran. Sebagian lagi menjejer kelereng di garis mulai dari kepala supit urang hingga ekor dengan jarak setiap lekukan. Setelah itu setiap pemain juga mempersiapkan sebuah gacuk, juga dari kelereng. Kalau bisa gacuk yang dipakai adalah kelereng yang agak besar jika dibandingkan dengan kelereng yang seukuran, agar mempunyai beban yang lebih berat saat gacuk dilemparkan.

Ketika kelereng udhu sudah ditata dan dimasukkan dalam lingkaran yang berada di ekor, semua pemain mulai melemparkan gacuk ke arah garis depan yang berjarak sekitar 6—10 meter tadi. Tempat melempar bertolak dari garis samar yang sejajar dengan supit urang. Sebisa mungkin gacuk kelereng dilempar melebihi garis tadi. Namun diusahakan gacuk mendekati garis tadi sedekat mungkin. Sebab dalam aturan permainan ini, gacuk yang dilempar sedekat mungkin dengan garis, tetapi harus melebihi garis, bisa bermain paling awal. Setelah semua melempar gacuk, maka gacuk yang melebihi garis dan terdekat bermain paling awal, disusul dengan lainnya secara berurutan.

Sementara itu, bagi pemain yang saat melempar gacuk tidak melewati garis, bisa dikatakan dis atau mati. Ada dua aturan untuk pemain dis, yaitu bermain paling akhir atau mati tidak boleh melanjutkan permainan. Semua itu tergantung dari kesepakatan awal. Jika mati tidak boleh main, berarti tidak punya kesempatan memperoleh kelereng taruhan.

Misalkan hasil lemparan dari yang terdekat adalah pemain F,E,D,C,B, dan A. Maka pemain F mulai melemparkan gacuknya dari garis tadi ke arah jirak ula yang telah dipasangi kelereng berjejer-jejer. Lemparan harus cermat agar mengenai kelereng-kelereng yang dipasang. Apabila lemparannya mengenai salah satu kelereng yang dipasang, misalkan di atas ekor dan kelereng itu terlempar jauh di luar lingkaran, maka ia mendapatkan kelereng mulai dari kelereng yang terlempar jauh hingga semua kelereng yang ada di dalam lingkaran tadi. Namun jika tidak kena, ia menunggu pemain lainnya hingga semua selesai melempar gacuk.

Sekarang giliran pemain E melemparkan gacuknya ke arah kelereng yang terpasang di jirak ula. Jika lemparannya mengenai kelereng yang berada di kepala dan kelereng itu terlempar jauh di luar lingkaran ekor, maka semua kelereng yang dipasang menjadi miliknya. Sisa pemain sudah tidak punya kesempatan bermain lagi. Namun jika lemparannya gagal, dilanjutkan pemain yang ketiga.

Pada giliran pemain D melemparkan gacuk, ternyata gacuknya hanya menyerempet salah satu kelereng yang terpasang berjejer dan tidak membuat kelereng yang dikenai itu keluar garis, maka ia berarti gagal memperoleh kelereng udhu. Tetapi saat gacuknya juga membentur kelereng-kelereng yang ada di dalam lingkaran hingga ada yang keluar garis lingkaran, misalkan ada 2 buah, maka kelereng itu bisa menjadi miliknya atau dikembalikan ke dalam lingkaran. Itu semua sesuai dengan kesepakatan awal pula.

Apabila ternyata semua pemain yang melempar gacuk dari garis luar tidak ada yang mengenai kelereng gasangan, maka permainan dilanjutkan dengan melempar dari tempat gacuk yang berada di dekat jirak ula. Misalkan gacuk terjauh adalah pemain D, maka ia melempar gacuk dari tempat gacuk dengan cara berjongkok atau berdiri. Gacuk diarahkan ke sasaran kelereng yang berjejer-jejer di garis lekukan. Tidak boleh mengincar kelereng-kelereng yang berada di dalam lingkaran. Jika lemparannya mengenai salah satu kelereng dan terlempar dari garis, maka mulai dari kelereng yang terlempar itu ke belakang hingga semua kelereng di dalam lingkaran menjadi miliknya. Kemudian pemain giliran berikutnya, misalkan pemain A, dengan langkah yang sama melempar kelereng-kelereng yang tersisa di garis jirak ula.

Demikian dilakukan terus-menerus hingga semua kelereng yang terpasang di garis jirak ula habis. Setelah habis, maka anak-anak menyepakati jumlah kelereng lagi yang dijadikan udhu. Begitu seterusnya hingga ada pemain yang kehabisan kelereng. Permainan akan berhenti jika sudah ada anak yang menang bermain, mendapatkan banyak kelereng atau mungkin karena alasan lain, seperti ada anak yang dipanggil orang tua, capek, lapar, haus, hujan, dan sebagainya.

Pemain dikatakan menang apabila banyak memperoleh kelereng, sebaliknya anak dikatakan kalah jika kelerengnya habis atau berkurang dari jumlah kelereng yang dibawanya semula.

Suwandi

Sumber: Baoesastra Djawa, WJS. Poerwadarminta, 1939, Groningen, Batavia: JB. Wolters’ Uitgevers Maatscappij NV., dan pengalaman pribadi

Jakarta