DOLANAN JIRAK-1 (PERMAINAN ANAK TRADISIONAL-56)

22 Mar 2011

Ensiklopedi

DOLANAN JIRAK-1
(PERMAINAN ANAK TRADISIONAL-56)

DOLANAN JIRAK-1Nama dolanan Jirak sebenarnya mengacu pada nama tumbuhan dan sekaligus buah yang dipakai untuk pemainan itu, yakni tumbuhan (pohon) Jirak. Pada zaman dulu, tanaman ini banyak tumbuh di sekitar rumah masyarakat Jawa. Namun, sekarang sudah sangat jarang tumbuh di kota, tetapi kadang masih ditemui di pedesaan atau di tempat-tempat pembudidayaan. Nama tanaman jirak adalah nama lokal di masyarakat Jawa. Tanaman ini mempunyai nama Latin Jatropha curcas L., dan nama lokal lain, seperti: jarak, carak kosta, balacai, kaleke, bintalo, pakukase, dan kadoto. Jirak juga sekaligus untuk menyebut nama buah dari tanaman tersebut, yang berbentuk lonjong dan berwarna hitam. Tanaman ini bisa mengeluarkan minyak dan dapat untuk penerangan. Bahkan beberapa tahun terakhir, banyak daerah yang membudidayakan tanaman ini untuk sumber energi alternatif pengganti minyak bumi. Namun, sepertinya kurang berhasil.

Dari nama Jirak, kemudian muncul nama-nama dolanan tradisional lain, seperti Jirak Ula, Jirak Umbris, Jirak Kamplong, Jirak Penthil, dan Jirak Wok. Pada awalnya, memang dolanan Jirak menggunakan buah jirak untuk bermain. Namun dalam perkembangan waktu, seiring sulit diperolehnya buah jirak bagi anak-anak yang hendak bermain, buah jirak digantikan dengan benda lain, seperti pecahan tembikar (pecahan genting dan sejenisnya, sering pula disebut kreweng). Bisa pula menggunakan neker (istilah dari bahasa Belanda: knikker), gundhu, atau istilah lainnya kelereng, bagi anak-anak di daerah kota Yogyakarta. Sementara di wilayah Kulon Progo menggunakan alat bermain berupa karet gelang, dan menamakannya dengan nama dolanan lowok.

Dolanan Jirak termasuk dolanan kuno yang sudah lama dimainkan oleh anak-anak. Setidaknya pada tahun 1939, dolanan iDOLANAN JIRAK-1ni sudah menyebar di masyarakat Jawa. Buktinya, nama dolanan ini sudah terekam dalam Kamus Bahasa Jawa (Baoesastra Djawa) karya WJS. Purwadarminta tahun 1939. Bahkan Sukirman menyatakan bahwa dolanan ini sudah berumur lebih dari satu abad, seperti dalam pernyataannya di buku Permainan Tradisional Jawa (Sukirman, 2004: 184).

Pada kemunculan awal, dolanan ini sering dipakai untuk taruhan. Namun dalam perkembangannya, dolanan ini hanya lebih bersifat rekreatif dan kompetitif belaka. Artinya, bagi anak yang kalah, cukup melaksanakan hukuman sesuai dengan kesepakatan, seperti menggendong dan lainnya. Anak-anak yang bermain bebas, bisa laki-laki, perempuan, atau campuran. Walaupun pada kenyataan anak laki-laki lebih mendominasi dolanan Jirak. Mereka rata-rata berumur 10—13 tahun, seusia anak SD.

Ternyata dolanan Jirak tidak diiringi dengan lagu-lagu atau alat musik lainnya. Dolanan ini juga tidak ada kaitannya sama sekali dengan upacara adat. Alat yang dipakai untuk bermain pun sangat sederhana, mudah diperoleh di sekitar rumah. Jika awalnya memakai buah jarak, apabila tidak ditemukan di sekitar lingkungan, bisa diganti dengan alat lain, seperti pecahan tembikar (kreweng) atau neker. Kreweng bisa dibuat bundar dengan diameter sekitar 4 cm (sebagai gacuk setiap pemain). Juga membutuhkan gacuk besar yang juga dibuat bundar dengan diameter sekitar 5-6 cm (sebagai gacuk bersama). Selain alat tersebut, pemainan ini juga hanya membutuhkan tanah yang dilubangi dengan diameter sekitar 8 cm.

DOLANAN JIRAK-1Anak-anak biasa memainkan dolanan Jirak pada waktu senggang atau libur sekolah. Waktu senggang diperoleh setelah pulang sekolah, usai membantu pekerjaan orang tua. Jadi biasanya dilaksanakan sore hari ketika waktu masih terang. Sementara waktu libur biasa dilakukan saat hari Minggu, libur semester, kenaikan kelas, atau libur Hari Besar. Jika liburan, anak-anak bisa memainkan di waktu pagi, siang, atau sore hari. Bahkan malam liburan sekolah bisa bermain, asalkan terang bulan purnama. Anak-anak zaman dulu, lebih sering memainkan di malam hari saat terang bulan purnama, karena suasana nyaman, tidak panas, peserta dan penontonnya lebih banyak. Kadang orang tua juga ikut berkumpul jadi satu sebagai penonton.

Dolanan Jirak biasanya dimainkan oleh 4—5 orang dalam satu permainan. Jika lebih banyak, biasanya dipecah jadi dua. Jika banyak pemain, kasihan yang kalah, karena akan menggendong (mendapat hukuman lebih banyak atau lebih berat). Makanya, dolanan Jirak biasanya dibatasi hingga 5 orang setiap kelompok bermainnya. Jika kurang dari 4 anak pun akan kurang ramai dan seru. Jadi, idealnya satu kelompok bermain sampai 5 orang.

bersambung

Suwandi

Sumber: Permainan Tradisional Jawa, Sukirman Dharmamulya, dkk., 2004, Yogyakarta, Kepel Press dan http://jatropha.com/Jirak.html

Jakarta