DOLANAN ENDHOG-ENDHOGAN-1 (PERMAINAN ANAK TRADISIONAL-28)

24 Mar 2010

Ensiklopedi

DOLANAN ENDHOG-ENDHOGAN-1
(PERMAINAN ANAK TRADISIONAL-28)

Kata “endhog” berasal dari bahasa Jawa. Padanannya dalam bahasa Indonesia adalah telur. Kata tersebut jika diulang menjadi endhog-endhogan, bisa berarti menyerupai telur. Begitu pula dalam permainan anak Jawa yang disebut dolanan endhog-endhogan ini bisa berarti suatu permainan yang memakai media alat berupa batu, dan seolah-olah menganggap batu tersebut diupamakan seperti telur. Jadi, dalam permainan tersebut, batu diandaikan sebagai telur. Maka untuk menamai permainan tersebut, anak-anak Jawa menyebutkannya dolanan endhog-endhogan.

Permainan ini memang tidak terekam di dalam kamus bahasa Jawa (Baoesastra Djawa) karangan W.J.S. Poerwadarminta (1939). Namun begitu, permainan ini pernah dimainkan pada tahun 1970-an di wilayah di Karesidenan Surakarta, terutama wilayah Kabupaten Sragen, tempat asal penulis. Pengalaman semasa kecil penulis bahkan pernah melakukan permainan ini. Pelacakan beberapa buku referensi permainan tradisional di Yogyakarta hingga saat ini belum pernah dijumpai. Mungkinkah dengan nama yang berbeda? Bisa jadi.

Permainan ini sebenarnya mudah dipraktikkan. Anak-anak yang biasa bermain dolanan ini umumnya campuran, bisa laki-laki dan wanita atau sejenis, perempuan atau laki-laki saja. Usia anak-anak yang bermain, umumnya usia anak sekolah dasar, antara 7—12 tahun. Dolanan endhog-endhogan minimal dimainkan oleh 3 anak, dan lebih ideal jika dimainkan antara 4—8 anak. Jika dimainkan 2 anak tidak ramai, permainan tidak akan berkembang baik, sementara jika dimainkan lebih dari 8 anak, akan membuat kasihan anak yang “dadi”. Mereka yang bermain bisa dari segala golongan, tidak harus dari anak-anak bangsawan atau orang-orang kaya. Apalagi jika di lingkungan masyarakat Jawa, yang biasanya profesi warganya berbeda-beda (buruh, petani, swasta, dsb.), maka sangat biasa memainkan dolanan ini.

Dolanan “endhog-endhogan” biasa dimainkan di tanah yang cukup lapang, seperti halaman kebun (belakang rumah), plataran (halaman depan rumah), atau lapangan. Namun, yang terpenting tempat bermain halamannya rata, rindang, dan penuh pepohonan. Fungsi rindang dan penuh pepohonan untuk menyembunyikan batu-batu. Permainan ini membutuhkan pencahayaan yang terang, makanya biasanya dimainkan pada waktu pagi, siang, atau sore hari. Sangat jarang dimainkan pada malam hari, untuk menghindari bahaya dari gigitan ular, sengatan kalajengking, dan binatang berbisa lainnya. Bisa juga jika anak-anak sedang beristirahat sekolah, biasanya dimainkan di halaman sekolah.

Permainan ini pun juga hanya membutuhkan alat bantu yang sederhana dan gratis, yaitu batu. Jika terpaksa tidak ada, bisa digantikan pecahan batu-bata atau sejenisnya, sebesar telur. Batu atau pecahan batu-bata mudah sekali diperoleh di sekitar alam tempat tinggal. Apalagi jika dekat sungai, sangat mudah sekali memperolehnya. Selain batu, tidak ada alat bantu lagi. Jumlah batu sesuai kesepakatan anak-anak yang hendak bermain. Semakin banyak pemain, jumlah batu untuk setiap anak semakin sedikit. Misalkan, ada 4 pemain, idealnya setiap anak mencari 4 batu. Jika ada 8 anak, sebaiknya setiap anak mencari 2 batu. Tetapi kesepakatan itu dikembalikan kepada anak-anak yang hendak bermain.

Seperti permainan tradisional yang lain, dalam permainan ini pun biasanya juga dilengkapi dengan peraturan secara lisan dalam bermain. Peraturan-peraturan itu, misalnya: 1) setiap anak harus mencari jumlah batu (dengan besaran hampir sama dengan telur) sesuai dengan ketentuan yang disepakati; 2) anak yang tersentuh oleh pemain “dadi” di dalam lingkaran akan menggantikan pemain “dadi”; 3) batu-batu yang disembunyikan oleh pemain mentas tidak boleh keluar dari area yang ditentukan; 4) pemain mentas yang batunya ditemukan pertama kali menjadi pemain “dadi” berikutnya, dengan catatan, semua batu bisa ditemukan oleh pemain “dadi”; jika pemain “dadi” menyerah mencari batu-batu yang disembunyikan, berarti ia menjadi pemain “dadi lagi dalam permainan berikutnya. Demikian tadi beberapa peraturan lisan dalam permainan “endhog-endhogan”.

bersambung

Suwandi
Sumber: Pengalaman dan pengamatan pribadi

Jakarta