Anglo, Si Kompor Tanah Liat

30 Oct 2012

Dolanan

Anglo, Si Kompor Tanah Liat
(Alat Dapur-2)

Pengguna ”kompor” tanah liat ini kian berkurang. Namun, sebagian pedagang makanan masih setia menggunakan anglo dengan alasan untuk mempertahankan cita rasa masakannya yang khas.

Anglo si kompor tradisional. foto: suwandi tembi
Anglo untuk memasak berukuran sedang atau besar

Anglo adalah jenis alat memasak lain selain dhingkel. Anglo juga disebut tungku yang terbuat dari tanah liat. Alat memasak ini masih sering digunakan oleh masyarakat Jawa hingga saat ini, walaupun jumlah penggunanya terus berkurang.

Namun, para pedagang makanan mulai dari warung angkringan, bakmi, soto, hingga gudeg banyak yang masih menggunakan “kompor tanah” itu. Para pedagang yang tetap menggunakan anglo punya alasan yakni untuk mempertahankan cita rasa masakannya yang khas. Mereka khawatir jika menggunakan alat memasak lain akan mempengaruhi rasa masakannya.

Anglo dibuat secara tradisional oleh perajin gerabah, yang hingga saat ini masih banyak dijumpai di sejumlah desa di Jawa, termasuk di sentra-sentra gerabah seperti desa Kasongan dan desa Pundong Bantul. Sebagian perajin perorangan juga masih memproduksi. Mereka memproduksi anglo dan peralatan memasak lain dari gerabah biasanya mewarisinya secara turun-temurun. Anglo dan peralatan memasak tradisional lainnya, hingga kini juga masih dijual di pasar-pasar tradisional.

Bentuk tubuh anglo biasanya berbentuk silinder. Bagian atas berbentuk bundar, dan ada bagian yang menonjol di tiga tempat yang berfungsi sebagai landasan alat memasak (kwali, panci, dsb). Di sela-sela bagian yang menonjol itu berfungsi sebagai ruang bagi aliran udara dan api dari lubang bawah.

Di bagian tengah (tempat bara api) ada lubang-lubang kecil yang disebut sarangan anglo. Fungsi lubang itu untuk aliran udara yang dikipaskan dari lubang bagian bawah. Di bagian samping bawah ada satu lubang besar yang disebut mulut anglo. Apabila lubang ini dikipasi, maka udara akan masuk lewat lubang sarangan, naik ke atas ke tempat bara api sehingga bara api akan menyala dan memanasi barang yang diletakkan di atas bara api.

Anglo si kompor tradisional koleksi Tembi. foto: suwandi tembi
Anglo kecil ini untuk mencairkan malam, bahan untuk keperluan membatik

Anglo menggunakan bahan bakar khusus berupa arang, yang bisa dibeli dari perajin arang atau pedagang arang. Arang yang berwarna hitam ini terbuat dari kayu-kayu yang dibakar dan mengalami proses pendinginan. Arang yang baik untuk bahan bakar anglo biasanya terbuat dari kayu-kayu yang keras, seperti kayu asem, kayu mlanding, maoni, dan sebagainya. Dianggap arang baik karena bara apinya bisa bertahan lama, dan tidak mudah menjadi abu.

Ukuran anglo bermacam-macam, ada yang besar dan kecil, disesuaikan dengan alat tempat masak. Ada ukuran anglo dengan tinggi badan 21 cm, lingkar tengah 28 cm dan lebar mulut anglo 11 cm. Ada juga yang berukuran lebih kecil dan besar. Untuk memasak malam, yaitu bahan dalam proses membatik, membakar dupa atau lainnya, biasanya memakai anglo ukuran kecil. Untuk memasak dengan memakai kwali, tentu perlu menggunakan anglo ukuran besar.

bersambung

Suwandi

Sumber: Buku “Dapur dan Alat-Alat Memasak Tradisional DIY”, Sumintarsih, dkk, Departemen P&K, 1990/1991

Jakarta