Serat Cemporet, Karya Pujangga Besar Ranggawarsita dalam Versi Bahasa Indonesia

02 Dec 2015

Serat Cemporet awal mulanya ditulis tangan menggunakan aksara dan bahasa Jawa, atau sering disebut manuskrip. Naskah yang isinya sangat puitis tersebut pertama kali dibuat oleh RNg Ranggawarsita pada tahun 1870 atas prakarsa Sri Susuhunan Pakubuwana IX.

Perpustakaan Tembi Rumah Budaya Yogyakarta memiliki sebuah koleksi unik buku Jawa yang berjudul “Serat Cemporet.” Buku tersebut ditranskripsikan (alih aksara) dan ditransliterasikan (alih bahasa) oleh Sudibyo Z Hadisutjipto dan diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 1980. Karya asli Serat Cemporet dikarang oleh Raden Ngabehi (RNg) Ranggawarsita, pujangga terkenal Keraton Kasunanan Surakarta.

Serat Cemporet awal mulanya ditulis tangan menggunakan aksara dan bahasa Jawa, atau sering disebut manuskrip. Naskah yang isinya sangat puitis tersebut pertama kali dibuat oleh RNg Ranggawarsita pada tahun 1870 atas prakarsa Sri Susuhunan Pakubuwana IX. Namun dalam perkembangannya, naskah itu, seperti pada umumnya naskah-naskah lain di zaman itu (ketika belum ada fotokopi), untuk memperbanyak, maka satu-satunya cara dengan ditulis ulang.

Selain Serat Cemporet, karya terkenal lainnya adalah Serat Jaka Lodhang, Pustaka Raja Purwa, Aji Pamasa, Candrarini, Jayengbaya, Kalatidha, Panitisastra, Paramayoga, Sabda Jati, Maklumat Jati, dan Hidayat Jati. Sementara itu karya yang mengisahkan wayang dan kamus Jawa, di antaranya Serat Bausastra Kawi dan Sejarah Pandhawa lan Kurawa. Semuanya ditulis tangan, beraksara dan berbahasa Jawa.

Karena Serat Cemporet begitu terkenal di zamannya, naskah tersebut terus ditulis ulang. Bahkan pernah diterbitkan dalam tulisan Jawa cetak oleh Rusche di Surakarta pada tahun 1896. Sayangnya, akibat perubahan zaman, masyarakat Jawa semakin tidak banyak yang bisa membaca aksara Jawa (walaupun aksara cetak). Maka naskah Serat Cemporet tersebut kemudian pernah dialihaksarakan (istilahnya transkripsi), dari tulisan Jawa ke tulisan Latin. Namun bahasa yang digunakan tetap sama, yakni bahasa Jawa. Hingga tahapan akhir, dilakukan penerjemahan dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia.

Langkah kedua terakhir dilakukan oleh Sudibyo Z Hadisutjipto dan diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 1980. Dengan adanya transkripsi dan transliterasi tersebut, karya sastra Serat Cemporet tidak hanya bisa dipahami oleh orang Jawa saja, tetapi orang Indonesia pada umumnya.

Serat Cemporet berisikan pada ajaran moral lewat tokoh-tokoh binatang yang dihadirkan, seperti burung Menco, banteng, dan anjing. Ajaran moral dalam Serat Cemporet antara lain: percaya takdir, rasa syukur, sikap pasrah, bertutur kata lembut, sopan-santun, saling menolong, kasih sayang sesama makhluk, kesetiaan, setiakawan, sabar, menepati janji, rela berkorban, rendah hati, dan tidak mudah putus asa.

Dengan membaca naskah Serat Cemporet ini, diharapkan pembaca akan mempunyai wawasan yang lebih banyak dan hidupnya lebih bijak.

Naskah dan foto: Suwandi

Serat Cemporet, Karya Sastra Jawa Karya RNg Ranggawarsita, sumber foto: Suwandi/Tembi
Serat Cemporet, Karya Sastra Jawa Karya RNg Ranggawarsita, sumber foto: Suwandi/Tembi
EDUKASI