Prajurit Mantrijero Keraton Kasultanan Yogyakarta (2)

28 Jul 2015

Prajurit Mantrijero Sarahasta atau pembawa tombak terdiri atas beberapa jenjang kepangkatan, yakni Wedana dan Lurah, Operwahmister (Wirawredhatama) Wahmester (Wiratama),  dan Jajar.

Prajurit Mantrijero Sarahasta

Prajurit Mantrijero Sarahasta atau pembawa tombak terdiri atas beberapa jenjang kepangkatan, yakni Wedana dan Lurah, Operwahmister (Wirawredhatama) Wahmester (Wiratama),  dan Jajar.

Prajurit Mantrijero berpangkat wedana dan lurah mengenakan topi songkok warna hitam dengan bagian tepinya diplisir kuning emas, di bagian depan disungging lung-lungan kuning dan di atas telinga diberi hiasan sumpingan warna kuning. Blangkon bercorak cuwiri dengan bentuk tepen dengan plisir kuning emas, memakai sumping kudhup dengan oncen. Baju sikepan motif lurik ginggang (garis besar-besar) hitam putih dan dibludir kuning emas. Baju dalam berupa hem putih polos. Lonthong (sabuk/stagen) cindhe kembang. Kamus (epek) hitam dibludir kuning emas. Memakai bara cindhe dengan gombyok kuning emas.

Keris yang dikenakan berwarangka branggah (ladrang) dengan oncen diselipkan di belakang punggung (tidak dikewal). Memakai sayak warna putih rempelan susun tiga dengan bagian tepui diplisir kuning emas. Celana nyawit/sawitan (motif sama dengan baju sikepannya) menutup lutut, dibludir kuning emas. Kaus kaki berwarna putih polos, sepatu hitam  vantofel dan memakai dasi kupon. Sarung tangan berwarna putih.

Untuk Operwahmester (Wirawredhatama), Wahmester (Wirawredha), dan Blegedir (Wiratama) pakaian yang dikenakan hampir sama dengan pakaian Wedana dan Lurah, perbedaannya ada pada songkok polos tanpa hiasan bludir emas. Blangkor latar hitam corak cuwiri dengan bentuk tepen, memakai sumping dan oncen seperti wayang. Baju sikepan lurik tanpa bludir kuning emas di tepinya, hanya di ujung lengan bawah diberi lis kuning emas berbentuk lancip. Rangkepan baju dalam berupa kemeja warna putih, memakai sayak warna putih rempelan susun tiga tanpa plisir warna kuning emas dan memakai lonthong (sabuk/stagen) cinde kembang, kamus (epek) warna hitam polos dilengkapi timang.

Selain itu, juga mengenakan bara cindhe dengan gombyok kuning emas, keris yang dikenakan berwarangka branggah (ladrang) dengan oncen diselipkan di pinggang kanan belakang (tidak dikewal). Celana yang dikenakan sawitan (motif sama dengan baju sikepan), model panji-panji tanpa bludiran di ujung bawah. Kaus kaki yang dikenakan berwarna putih polos sampai lutut dengan sepatu vantofel hitam memakai hiasan dasi kupu dan tidak memakai kaus tangan.

Prajurit Mantrijero Sarahasta berpangkat Jajar mengenakan seragam hampir sama dengan pakaian Wirawredhatama, Wirawredha, dan Wiratama. Perbedaannya terletak pada baju sikepan lurik ginggang yang dipakai tidak memakai lis kuning di ujung lengan bawah.

Unen-unen (instrumen) untuk prajurit ini terdiri dari dua Slompret yang dipegang oleh Raden Ngabehi Bahusuwara (R.Lurah) dan R.Ng.Yudaswara, dua Tambur dipegang oleh R.Ng.Bahutengara dan R.Ng.Yudatengara, dua Seruling dipegang oleh R. Ng.Bahupermuni dan R.Ng.Yudapengrawit.

Iringan gendhing untuk prajurit ini yang pertama dinamakan Slagunder (Restopelen) untuk lampah macak dan Plangkenan (Mars Setok) untuk lampah mars.

a.sartono

Sumber: Ir. H. Yuwono Sri Suwito, M.M., dkk., 2009, Prajurit Kraton Yogyakarta: Filosofi dan Nilai Budaya yang Terkandung di Dalamnya, Yogyakarta: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta.

Prajurit Mantrijero tengah keluar dari Sitihinggil Keraton Yogyakarta, difoto: 15 Oktober 2015, foto: Totok Barata
Prajurit Sarahasta dan Sarageni Mantrijero tengah berbaris, difoto:  15 Oktober 2015, foto: a.sartono
Profil Prajurit Sarahasta Mantrijero. Foto: Totok Barata
EDUKASI