Prajurit Mantrijero Keraton Kasultanan Yogyakarta (1)

10 Jul 2015

Nama bregada/kesatuan Prajurit Mantrijero merupakan salah satu nama kesatuan prajurit Keraton Yogyakarta. Sebutan nama depan dari prajurit ini adalah Yuda, Bahu, Prawira, dan Rana. Struktur prajurit terdiri atsa 2 orang Panji (Panji Parentah dan Panji Andhahan), 2 orang Sersan, seorang pembawa panji-panji, prajurit pembawa senapan (sarageni) dan prajurit pembawa tombak (langenastra).

Nama bregada/kesatuan Prajurit Mantrijero merupakan salah satu nama kesatuan prajurit Keraton Yogyakarta. Sebutan nama depan dari prajurit ini adalah Yuda, Bahu, Prawira, dan Rana. Struktur prajurit terdiri atsa 2 orang Panji (Panji Parentah dan Panji Andhahan), 2 orang Sersan, seorang pembawa panji-panji, prajurit pembawa senapan (sarageni) dan prajurit pembawa tombak (langenastra).

Nama klebet (dwaja) dari kesatuan ini adalah Purnamasidhi. Dwaja dari kain berbentuk persegi empat dengan warna dasar hitam dan bagian tengahnya terdapat bulatan (plenthong) berwarna putih. Nama tombak (waos) kesatuan prajurit ini adalah Kanjeng Kyai Cakra dengan bentuk (dhapur) cakra.

Panji Lurah yakni Panewu Jaksa dan Lurah Parentah mengenakan topi songkok warna hitam dengan bagian tepinya diplisir kuning emas. Sedangkan di bagian depan disungging lung-lungan kuning dan di atas telinga diberi hiasan sumpingan warna kuning. Blangkon berwarna hitam (wulung) berbentuk kamicucen dengan mondholan tanpa sinthingan.

Baju yang dikenakan adalah sikepan motif lurik ginggang (garis besar-besar hitam putih) dan dibludir kuning emas. Baju dalam hem putih polos. Lonthong/sabuk/stagen cindhe kembang, kamus (epek) hitam dibludir kuning emas. Selain itu juga mengenakan bara cindhe dengan gombyok kuning emas. Keris yang dikenakan berwarangka branggah (ladrang) dengan oncen diselipkan di pinggang belakang, dikewal dan miring ke kanan. Selain itu juga mengenakan sayak warna putih rempelan susun tiga dengan bagian tepinya diplisir kuning emas.

Celana yang dikenakan disebut nyawit/sawitan bermotif sama dengan baju sikepannya. Celana menutup dari pinggang hingga lutut. Celana dibludir emas di bagian ujungnya. Kaus kaki yang dikenakan berwarna putih polos dan sepatu yang dikenakan adalah vantofel berwarna hitam. Selain itu juga mengenakan dasi kupon (kupu-kupu), sarung tangan berwarna putih, srempang warna kuning dengan krega di belakang.

Prajurit pembawa panji-panji mengenakan pakaian yang sama dengan pakaian Panji (Lurah). Sedangkan prajurit Puliyer atau sering disebut juga Sersan Mayor, Wirawicitra, atau Wirawredhatama mengenakan pakaian yang sama dengan pakaian seragam Panji (Lurah). Bedanya, Sersan Mayor di samping membawa pedang juga membawa senapan dan memakai keris berwarangka branggah (ladrang) dengan oncen diselipkan di pinggang kiri belakang dengan dikewal miring ke kiri.

Prajurit Mantrijeron Sarageni berpangkat Sersan (Wirawredha) atau Jajar mengenakan pakaian hampir sama dengan pakaian Panji. Perbedaannya terletak pada songkok polos tanpa hiasan bordir emas. Blangkon yang dikenakan bercorak wulung dengan bentuk kamicucen. Baju yang dikenakan sikepan lurik tanpa bludiran kuning emas di tepinya. Rangkepan atau baju dalamnya berupa hem berwarna putih dengan srempang berwarna hitam menyilang di dada dan di punggung dengan krega di pinggang kanan belakang. Sayak yang dikenakan berwarna putih rempelan susun tiga tanpa plisir berwarna kuning emas.

Lonthong (sabuk/stagen) yang dikenakan bermotif cindhe, kamus (epek) berwarna hitam polos dilengkapi dengan timang mengenakan keris warangka branggah (ladrang) dengan oncen, diselipkan di pinggang kiri belakang dikewal miring ke kiri dan mengenakan celana sawitan bermotif sama dengan baju sikepannya dengan model panji-panji tanpa bludiran di ujung bawah. Kaus kaki yang dikenakan berwarna putih sampai lutut, sepatu vantofel berwarna hitam memakai hiasan dasi kupu  dan tidak mengenakan kaus tangan.

Bersambung

naskah dan foto: a.sartono

sumber: Ir. H. Yuwono Sri Suwito, M.M., dkk., 2009, Prajurit Kraton Yogyakarta: Filosofi dan Nilai Budaya yang Terkandung di Dalamnya, Yogyakarta: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta.

Prajurit Mantrijero tengah berbaris dengan dwajanya, Purnamasidhi, difoto: 05 Oktober 2014, foto: a.sartono
Prajurit Mantrijero Sarageni (pembawa senjata api), tengah bersiap-siap untuk Upacara Grebeg di Keraton Yogyakarta, difoto: 05 Oktober 2014, foto: a.sartono
EDUKASI