Peserta Badan Diklat DIY Sangat Antusias di Tembi

18 Aug 2016

Sebanyak 80 orang SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) baik provinsi, kabupaten, dan kota dari seluruh Indonesia yang berkunjung ke Tembi Rumah Budaya. Kunjungan mereka ke Tembi dibagi dalam dua gelombang. Gelombang I pada Sabtu, 13 Agustus 2016, dikhususkan untuk SKPD Eselon III dan Gelombang ke-2 pada Senin, 15 Agustus 2016, diperuntukkan SKPD Eselon 4. Masing-masing gelombang terdiri dari 40 orang.

Para SKPD ini tengah menjalani masa diklat di Badan Diklat DIY selama Agustus-Desember 2016. Ke dalam SKPD termasuk Sekretariat Daerah, Staf-staf Ahli, Sekretariat DPRD, Dinas-dinas, Badan-badan, Inspektorat Daerah, lembaga-lembaga daerah lain yang bertanggung jawab langsung kepada Kepala Daerah, Kecamatan-kecamatan (atau satuan lainnya yang setingkat), dan Kelurahan/Desa (atau satuan lainnya yang setingkat).

Memang agak berbeda dengan kunjungan para siswa/mahasiswa yang biasanya tidak sabar untuk segera keliling Tembi, para peserta diklat ini tidak demikian. Mereka sangat antusias dan tekun mendengarkan tuturan pemandu Tembi yang menerangkan hal-ihwal Tembi dengan segala seluk-beluknya. Mereka juga tekun untuk bertanya segala hal tentang Tembi.

“Tolong Pak, bagaimana caranya kami bisa menghubungkan atau menyerap nilai-nilai intangible yang ada pada benda koleksi museum Tembi atau apa saja yang ada di sini dengan nilai-nilai kebangsaan ?” demikian pertanyaan dari salah satu peserta diklat yang berkunjung ke Tembi dalam kelompok gelombang I. Tembi pun harus menjelaskan semuanya itu dengan rinci, lengkap dengan contoh-contohnya

“Pak dulu saya pernah menginap di sini. Saya tidak mengerti mengapa ada kamar mandi terbuka segala. Apa kaitannya dengan visi dan misi Tembi ?” Demikian pertanyaan salah satu peserta diklat yang berkunjung dalam kelompok gelombang ke-2.

Dua pertanyaan di atas bukanlah pertanyaan yang mudah dijawab begitu saja. Diperlukan kepekaan dan kecermatan, di samping tentu saja pengetahuan tentang hal itu secara memadai. Jika tidak, maka penanya tentu akan semakin bertanya-tanya, ragu serta tidak menjadi yakin akan jawaban yang dia terima. Untuk itulah apa yang disebut sebagai pemandu selalu dan hukumnya wajib untuk terus belajar dan belajar. Barangkali pepatah Latin yang berbunyi duc in altum (menyelam lebih dalam) dan lebih dalam lagi selalu diperlukan oleh para pemandu Tembi.

Selain apa yang ditanyakan di atas, ada pula yang menanyakan tentang siapa pemilik lembaga ini, bagaimana struktur organisasinya, mengapa pilihan penempatan lembaga ini berada di Dusun Tembi, bagaimana respon masyarakat atau warga sekitar dengan keberadaan lembaga ini, apakah pernah ada penelitian tentang dampak sosial, ekonomi, budaya bagi masyarakat sekitar atas berdirinya lembaga ini, bagaimana pembiayaan dan sumber dananya diperoleh. Apakah lembaga ini juga mendapatkan bantuan dari dana keistimewaan, dan lain sebagainya. 

Ketika diajak berkeliling mereka pun semakin senang karena mendapatkan begitu banyak pengalaman dan pengetahuan sekaligus pemandangan yang tidak atau belum pernah mereka kenal selama ini. Beberapa dari mereka juga cukup antusias untuk menginap, rapat atau bahkan menyelenggarakan pesta perkawinan di Tembi pada lain waktu.

a. sartono
Foto: a. barata & indra waskito h.

Peserta Badan Diklat DIY berfoto bersama di depan senthong di Tembi Rumah Budaya, difoto: Sabtu, 13 Agustus 2016, foto: a.barata
Kunjungan rombongan peserta Badan Diklat DIY dari Eselon III diterima di pendapa Tembi Rumah Budaya, difoto: Sabtu, 13 Agustus 2016, foto: a.barata
Kunjungan rombongan peserta Badan Diklat DIY dari Eselon IV menerima penjelasan tentang sejarah toko kelontong di Tembi Rumah Budaya, difoto: Sabtu, 13 Agustus 2016, foto: indra waskito h.
Rombongan peserta Badan Diklat DIY dari Eselon IV sedang diarahkan pemandu menuju ke museum Tembi, difoto: Sabtu, 13 Agustus 2016, foto: indra waskito h.
Rombongan peserta Badan Diklat DIY dari Eselon IV sedang diarahkan pemandu menuju ke museum Tembi, difoto: Sabtu, 13 Agustus 2016, foto: indra waskito h.
EDUKASI