Mesin Waktu Itu Bernama Galeri Purworejo

26 Jul 2016

Di dalam kompleks Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul, terdapat Galeri Purworejo. Galeri ini dikhususkan untuk menyimpan benda-benda yang berkaitan dengan masa lalu, baik itu berupa artefak, dokumen foto, alat transportasi, dan lain sebagainya. Berkunjung ke tempat ini akan membuat wawasan kita mengenai potongan-potongan sejarah menjadi lebih terbuka. Dengan kata lain, kunjungan ini adalah alternatif time travelling yang menyenangkan sekaligus edukatif.

Galeri Purworejo adalah ‘mesin waktu’ yang dapat menghadirkan romantisme kenangan era 1800-an hingga 1900-an. Koleksi yang dihadirkan tentu saja bermacam-macam. Begitu memasuki ruangan, kita akan disambut oleh enam buah kotak kaca berisi aneka ragam keris yang didapat dari hibah ataupun titipan dari para kolektor serta beberapa naskah kuno.

Naskah kuno tersebut antara lain tiga buah manuskrip Babad Tanah Djawi yang diterbitkan oleh Bale Pustaka dan M. Nijnhoff's-Gravenhage pada tahun 1941, kumpulan Majalah Kejawen dengan rentang tahun terbit mulai 1928 hingga 1940, serta empat buah koleksi manuskrip naskah tulisan tangan yang ditulis menggunakan aksara Jawa. Koleksi manuskrip ini antara lain Serat Pakem Ringgit Madya dengan tebal 236 halaman yang ditulis ulang tahun 1952, Kitab Purwaning Dumadi tahun 1816 setebal 676 halaman, serta Serat Babad Tiongkok setebal 367 halaman yang ditulis pada tahun 1905 masehi.

Selain itu, galeri ini juga memajang iklan-iklan kuno yang rata-rata bersumber dari Majalah Kadjawen tahun 1927-1940. Iklan tersebut ditulis dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia ejaan lama disertai dengan gambar produk yang diiklankan. Cara penyampaian iklan pada masa itu memang sangat berbeda dengan iklan-iklan masa kini. Informasi disertakan secara lugu dan detail. Adapun produk-produk yang diiklankan berupa bir hitam dengan merk Burke’s Guinness Stout, Lentera HASAG, susu Lactogen, biskuit merk Huntley & Palmers, hingga sabun mandi Lux.

Foto lanskap Yogyakarta tempo dulu juga dihadirkan di sini. Masjid Gedhe Kauman, Benteng Vredeburg, Stasiun Tugu, Tamansari, Alun-alun Utara, Gedung BNI 46, dan lain-lain. Arsip dokumentasi ini didapat dari berbagai sumber pada rentang tahun 1881 hingga 1936. Selain itu koleksi sepeda onthel dan motor tua juga dapat ditemui di sini. Di sudut ruangan, kita akan disambut oleh piano akustik yang dibeli oleh Tembi Rumah Budaya pada tahun 2006 dari seorang wiraswasta asal Yogyakarta bernama Umar Supadno. Piano ini dibeli di Jerman pada tahun 1960 oleh Nyonya YAP yang kemudian menjualnya ke wiraswasta tersebut. Radio tabung merk Siegfried yang diproduksi di Jerman tahun 1960-an dengan bentuk yang sangat unik juga dapat ditemui di tempat ini.

Naskah dan foto: Adindachristya

Galeri Purworejo, Tembi Rumah Budaya, foto: Adindachristya
Galeri Purworejo, Tembi Rumah Budaya, foto: Adindachristya
Galeri Purworejo, Tembi Rumah Budaya, foto: Adindachristya
Galeri Purworejo, Tembi Rumah Budaya, foto: Adindachristya
Galeri Purworejo, Tembi Rumah Budaya, foto: Adindachristya
EDUKASI