Membaca Denah Rumah Tradisional Jawa di Tembi Rumah Budaya

23 Aug 2016

Kompleks Tembi Rumah Budaya terdiri dari beberapa wujud bangunan. Selain 9  rumah tradisional yang menjadi living museum yang disewakan, Tembi juga memiliki bangunan cukup besar yang memenuhi atau sesuai dengan denah rumah tradisional Jawa. Rumah tradisional Jawa yang memenuhi standar denah rumah yang diidealkan oleh masyarakat Jawa masa lalu umumnya merupakan rumah bangsawan (ningrat). Hal itu terjadi karena rumah rakyat kebanyakan memang tidak mampu memenuhi standar denah seperti yang diidealisasikan masyarakat.

Denah rumah Jawa tersebut bisa disimak dan dibaca pada kompleks bangunan rumah yang sekarang dijadikan museum, bale dokumentasi, function room, galeri, pendapa, dan pantry (dapur kecil) di Tembi Rumah Budaya. Jika kita masuk dari arah jalan raya di depan Tembi Rumah Budaya akan memasuki gapura, setelah itu akan menemukan kuncungan, disusul dengan pendapa. Di sisi kanan depan pendapa (sekarang digunakan untuk ATM) semestinya merupakan bangunan sumur depan plus mushala/langgar, dan kamar mandi/toilet.

Di sisi belakang pendapa terdapat gebyok/dinding kayu berukir yang dinamakan pringgitan. Pringgitan berasal dari kata “ringgit” yakni bentuk krama untuk membahasakan istilah wayang. Dinamakan demikian karena pada dinding sisi belakang pendapa ini sering digunakan sebagai tempat untuk pertunjukan wayang kulit. Seperti diketahui, masyarakat Jawa dianggap sebagai masyarakat yang menyatu dengan kesenian wayang kulit.

Pada sisi belakang pringgitan terdapat ruang kosong yang memisahkan pendapa dengan rumah induk (dalem atau dalem ageng). Dalem (dilafalkan ndalem) adalah rumah inti dari pemilik rumah. Pada dalem ini umumnya terdapat kamar-kamar yang sering disebut senthong. Senthong umumnya dibagi menjadi tiga bagian, yakni senthong kiwa (kiri), senthong tengah yang juga disebut pasren (karena salah satu fungsi utamanya adalah digunakan untuk memuja Dewi Sri (dewi padi/dewi kesuburan), dan senthong tengen (kanan).

Di bagian belakang dari dalem mini terdapat sebuah ruang terbuka lain yang berfungsi sebagai halaman belakang yang disebut gadri. Di belakang gadri terdapat bangunan lain yang disebut balekambang. Balekambang di Tembi ini fungsikan sebagai function room. Balekambang adalah bangunan (yang umumnya tanpa sekat-sekat ruang/kamar) yang didirikan di atas kolam/air.

Pada sisi kanan dalem terdapat bangunan lain yang disebut gandhok tengen dan pada sisi kiri dalem terdapat bangunan lain pula yang disebut gandhok kiwa. Gandhok tengen merupakan tempat tinggal/kamar-kamar khusus untuk anak laki-laki dan gandhok kiwa (kiri) digunakan untuk tempat tinggal/kamar-kamar khusus untuk anak perempuan.

Sementara pada sisi belakang kanan ataupun kiri dari pendapa terdapat sebuah pintu yang menjadi penyekat antara pendapa dan halaman depan dengan gandhok dan dalem yang disebut lawang seketheng. Selain itu ada satu ruang khusus di sisi kiri dari pendapa yang pada zaman dulu digunakan untuk memarkir andong, dokar, dan untuk menambatkan kuda yang kadang-kadang juga menyatu dengan bangunan yang digunakan untuk kandang kuda. Bangunan di sisi kiri pendapa ini disebut dengan nama gedhogan.

Pada sisi belakang (biasanya di sisi kiri belakang dari bangunan balekambang) terdapat bangunan pawon dan sumur belakang. Di belakang serta kanan kiri balekambang umumnya berupa kebun yang relatif luas. Demikian denah rumah Jawa yang diwujudkan pada bangunan Tembi Rumah Budaya. Hanya saja fungsi atau guna bangunan di Tembi tersebut pada saat sekarang tidak lagi seperti pada masyarakat zaman dulu namun denah rumah Jawa itu bisa disimak di bangunan Tembi Rumah Budaya. Perlu diingat bahwa denah rumah tradisional Jawa seperti yang diuraikan di atas tidak mesti harus lengkap, semua disesuaikan dengan situasi dan kondisi ruang (lahan) dan kemampuan pemiliknya.

Naskah dan foto: a. sartono

Dinding gebyok berukir di bagian belakang pendapa yang disebut dengan istilah pringgitan di Tembi Rumah Budaya, difoto: Senin, 15 Agustus 2016, foto: a.sartono
Bagian kuncung(-an) dan pendapa di Tembi Rumah Budaya, difoto: Senin, 15 Agustus 2016, foto: a.sartono
Saka guru dan interior pendapa di Tembi Rumah Budaya, difoto: Senin, 15 Agustus 2016, foto: a.sartono
Pintu yang disebut lawang seketheng di Tembi Rumah Budaya, difoto: Senin, 15 Agustus 2016, foto: a.sartono
Rumah inti (dalem ageng) di Tembi Rumah Budaya dilihat dari sisi kiri depan difoto: Senin, 15 Agustus 2016, foto: a.sartono
Pintu utama dalem ageng di Tembi Rumah Budaya, difoto: Senin, 15 Agustus 2016, foto: a.sartono
Senthong tengah di Tembi Rumah Budaya, difoto: Senin, 15 Agustus 2016, foto: a.sartono
Ruang untuk latihan tari di Tembi Rumah Budaya yang sebenarnya menduduki denah sebagai dapur, sumur, kamar mandi utama dalam tata ruang rumah tradisional Jawa, difoto: Senin, 15 Agustus 2016, foto: a.sartono
Bangunan yang sesungguhnya merupakan balekambang adalah bangunan yang terletak di bagian paling belakang (tinggi) dari foto ini, difoto: Senin, 15 Agustus 2016, foto: a.sartono
Gandhok kiwa di Tembi Rumah Budaya, difoto: Senin, 15 Agustus 2016, foto: a.sartono
EDUKASI