Kriteria Orang Baik dan Jahat Menurut Ajaran Serat Nitisastra

26 Jul 2016

Orangtua zaman dulu selalu berharap kepada anaknya agar menjadi orang yang baik budi pekertinya, menghargai dan menghormati orangtua serta sesamanya. Mereka lebih memprioritaskan tentang ajaran kesusilaan dan kesopansantunan, daripada mengajarkan kepada anak-anaknya untuk memperkaya materi. Demikian pula yang diajarkan oleh orang-orang bijak dahulu termasuk para pandhita dan brahmana di zaman Majapahit. Salah satunya yang tertuang dalam Serat Nitisastra. Karya ini berasal dari zaman Majapahit akhir, ditulis dalam bahasa Jawa kuno.

Serat Nitisastra, kemudian pernah dikaji oleh Dr Raden Mas Ngabei Purbacaraka dan kemudian ditulis dalam bahasa Jawa baru (namun tetap beraksara Jawa) oleh Raden Mas B Jayaendra. Terjemahan bahasa Jawa baru itu diterbitkan tahun 1940 oleh Bale Pustaka (sekarang: Balai Pustaka) di Batawi Sentrum (sekarang: Jakarta). Buku tersebut bisa dibaca di Perpustakaan Tembi Rumah Budaya Yogyakarta. Buku masih dalam kondisi bagus. Tebal 80 halaman, memuat 115 bab. 

Beberapa ajaran moral dan sopan-santun dalam Serat Nitisastra dalam buku ini, di antaranya adalah:

1.   Orang yang unggul adalah orang yang baik hatinya dan memberi manfaat kepada orang lain (Bab 4).

2.   Orang yang berilmu tandanya apabila berbicara bisa menenteramkan dan menyenangkan orang lain. Artinya mudah mengendalikan diri, tidak mudah marah, tidak mudah menghina dan merendahkan orang lain (Bab 6).

3.   Orang kaya dianggap hina apabila pola makannya rakus (sembarangan) dan berpakaian compang-camping (tertulis: nistha pangane, kusut sandhangane) (Bab 7).

4.   Orang pandai dianggap hina apabila berwatak jahat dan senang bergaul dengan penjahat (tertulis: wong pinter, nanging ala watake lan seneng ngumpuli wong ala) (Bab 7).

5.   Orang tua beruban dianggap hina apabila berperilaku rendah dan menolak ajaran baik (Bab 7).

6.   Orang jahat diibaratkan seperti burung gagak yang sudah terkenal hatinya jahat (bab 8).

7.   Orang yang bodoh dan sombong itu diibaratkan seperti tempayan yang isinya tidak penuh, atau diibaratkan sapi betina yang banyak suaranya tetapi air susunya sedikit (Bab 10).

8.   Wanita dianggap subur apabila payudaranya besar sehingga menjadi idaman para lelaki (tertulis: wanodya kang gemuh payudarane iku dadi pilihaning priya) (Bab 14).

9.   Pentingnya meraih kepandaian daripada kekayaan. Sebab orang kaya tanpa memiliki kepandaian diibaratkan orang yang memiliki wajah kusut tanpa cahaya. Juga diibaratkan seperti bunga randu hutan yang hanya kelihatan merah merona tanpa ada bau harum sedikitpun (Bab 20).

10.  Waspadalah terhadap perilaku anak kecil, karena kekuatannya itu terletak pada tangisnya. Itulah kekuatan agar sering ditolong, dituruti kehendaknya, dan minta dimanja (Bab 23).

11.  Salah satu ciri orang pandai lainnya adalah apabila ia mudah bergaul dalam masyarakat sehingga membuatnya dikenal orang (Bab 30).

Itulah sebagian ajaran moral, budi pekerti dan sopan santun dalam kehidupan sehari-hari dari nenek moyang masyarakat Jawa yang diciptakan pada zaman Majapahit akhir yang ditujukan kepada generasi penerusnya.

Naskah dan foto: Suwandi

Ajaran Moral dalam Serat Nitisastra, sumber foto: Suwandi/Tembi
Ajaran Moral dalam Serat Nitisastra, sumber foto: Suwandi/Tembi
EDUKASI