Jarasanda Anak Buangan (2)

08 Aug 2016

Setelah genap masa kandungannya,  hanya selisih beberapa jam, kedua permaisuri Prabu Wrehatrata melahirkan. Anehnya masing-masih bayi yang dilahirkan tidak utuh, hanya separuh, seperti dibelah.  Dewi Kahita dan Dewi Kawita menjerit histeris kemudian pingsan.  Dengan kejadian yang tak dinyana-nyana tersebut seluruh abdi dalem keputren gusar dan bingung. Sang Prabu mencemaskan keselamatan kedua permaisurinya. Maka diperintahkan agar ujud bayi yang mengenaskan tersebut dijauhkan dari kedua permaisuri, supaya tidak menimbulkan trauma yang berkepanjangan.

Beberapa hari dalam perawatan kedua putri Giyantipura tersebut masih sering mengigau tentang bayinya yang tidak sempurna. Sang Prabu sendiri merasa berdosa. Apakah semua ini gara-gara aku telah membelah buah mangga pemberian Resi Cidakosika? Diingatnya setahun lalu, ketika Prabu Wrehatrata diberi  satu buah mangga oleh Resi Cidakosika untuk istrinya. Istri yang mana? Bukankah Sang Resi tahu bahwa istriku dua, mereka adalah putri kembar dari Giyantipira. tetapi mengapa hanya di beri satu buah mangga? pertanyaan tersebut menyusul kemudian setelah Resi Cidakosika pergi.

Sang Prabu Wrehatrata mengambil keputusan sepihak, tanpa persetujuan dari Resi Cidakosika, yang adalah pengantara anugerah Tuhan kepada Prabu Wrehatrata yang berupa keturunan anak laki-laki, buah mangga itu dibelah. dan membaginya kepada dua istrinya.

“Aduh aku telah membelah anak laki-lakiku,” bisik Sang Prabu saat melihat bayi slewah yang dibawa Raseksi Jara. Tiba-tiba bayi yang akan diterima Sang Prabu itu menangis keras menyayat. Dewi Kawita dan Dewi Kahita yang belum sepenuhnya pulih rasa traumanya ketakutan dan menjauh dari tempat itu. Melihat gelagat yang tidak baik, Prabu Wrehatrata mengurungkan niatnya untuk menerima bayi itu. Gejolak menghentak hatinya. Ada rasa sesal, sedih, kecewa, marah menjadi satu. Dengan pertimbangan yang kacau, Prabu Wrehatrata memutuskan untuk menitipkan bayi slewah tersebut kepada Raksesi Jara dengan diberi nama Jarasanda. Sanda artinya digadaikan. Jarasanda adalah bayi yang digadai kepada Raseksi Jara.

Kini bayi itu telah menjadi besar. Selain istimewa pada wujud fisiknya, bagian badan belahan kanan kemerah-merahan dan belahan badan sebelah kiri kebiru-biruan, ia sangat sakti mandraguna. Namun sayang, ia tidak punya teman bermain. Anak-anak sebaya Jarasanda yang tinggal di perkampungan pinggir hutan, tidak ada yang berani mendekat, takut bermain dengannya. Mereka menganggap bahwa Jarasanda anak gendruwo, setengah manusia dan setengah jin.

Oleh karena anggapan tersebut hidupnya terkucil dalam kesendirian. Sehari-hari waktunya dihabiskan bersama Raseksi Jara yang dianggap sebagai simboknya. Jika ia mendekati perkampungan, dapat dipastikan bahwa anak-anak sebaya yang sedang bermain segera bubar. Mereka lari ke rumah-masing-masing, sembari berteriak, “Anak gendruwo! anak ji!!”

“Simbok, aku ini anak siapa?”

“A..  a.. nakku Ngger, aku ini Mbokmu”

“Bapakku siapa?”

‘Eee … ee…, siapa ya?

“Gendruwo?”

“Bukan! Engkau anak raja.”

“Raja jin?”

“Raja Magada.”

“Kenapa aku di hutan, tidak di keraton”

“Prabu Wrehatrata menitipkan kepadaku”

“Mengapa aku dititipkan? Apakah karena wujudku aneh dan jelek?”

Jarasanda mendesak penjelasan Simboknya perihal sejarah dirinya.

Waktupun merambat senja. Hutan di pinggir Kerajaan Magada semakin menjadi gelap. Jarasanda merebahkan dirinya di gubuk rumahnya. Matanya tajam memandang sesuatu yang tidak jelas. Ada gambaran di benaknya bahwa ayahnya adalah sosok raja yang mengutamakan ‘citra.’ Dengan dan demi citra itu, ia rela mengorbankan apa saja, termasuk anaknya. Jarasanda merasakan bahwa dirinya adalah korban dari sebuah citra besar, seorang raja yang adil bijaksana berwibawa serta mengayomi rakyatnya.

Tidak ada yang menduga, termasuk Raseksi Jara bahwa di dalam benak pikir seorang Jarasanda yang jelek menakutkan dan terpinggirkan ada secercah pikiran, untuk mengkritisi raja Magada, ayahnya sendiri yang terkenal baik budi.

Namun di mata Jarasanda ayahnya adalah sosok penakut tidak ksatria, tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Ia juga sombong, congkak, tinggi hati, tidak mau ‘kungkulan’ dengan demikian ia tidak mau mengakui kesalahannya apalagi meminta maaf kepada orang yang dirugikan atas kesalahan tersebut. Namun semua kejelekannya tersembunyi dalam citranya sebagai raja besar yang megah.

“Dan akulah kejelekan-kejelekan itu, makanya aku dibuang,” demikianlah teriak Jarasanda dalam hati.

Ada luka yang semakin dalam, tatkala hari-harinya berlalu begitu saja. Tidak ada sesal, tidak ada ‘karuh’ apa lagi permohonan maaf dari sosok yang diharapkan, yaitu Prabu Wrehatrata.

Herjaka HS  

EDUKASI