Bokor untuk Persembahan kepada Arwah Leluhur

03 Aug 2016

Bokor berisi bunga setaman juga menjadi salah satu alat pelengkap yang biasanya menghiasai ruangan sentong tengah dari rumah induk masyarakat Jawa. Pada zaman dahulu, masyarakat Jawa secara rutin mempersembahkan bunga setaman dalam bokor kepada arwah nenek moyang maupun juga kepada Dewi Sri, yang identik sebagai pemilik sentong tengah. Maka tempat ini biasa disebut dengan patanen atau pasren. Dihadirkannya bunga setaman di sentong tengah ini dimaksudkan agar pemilik rumah diberi keselamatan dan mendapat rezeki yang lancar. Tradisi persembahan bunga memang ada unsur budaya Hindu, seperti yang dilakukan di India.

Persembahan bunga setaman dalam bokor bagi masyarakat Jawa kala itu biasa dilakukan pada setiap malam Jumat. Bahkan hingga sekarang, sebagian kecil anggota masyarakat yang masih melakukan tradisi ini. Namun kalau tradisi Hindu yang berlaku di Bali, persembahan bunga setaman (dan juga lainnya) hampir dilakukan setiap hari.

Biarpun persembahan bunga setaman di sentong tengah sudah tidak dilakukan lagi oleh sebagian besar masyarakat Jawa dewasa ini, namun benda yang bernama bokor itu masih bisa dijumpai di sentong tengah, terutama representasi itu bisa dijumpai di museum-museum budaya Jawa, seperti yang ada di Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta; dan Museum Tembi Rumah Budaya. Keberadaan koleksi itu sebagai penanda bahwa bokor dahulu pernah berfungsi sebagai tempat bunga setaman untuk persembahan yang ditujukan kepada arwah leluhur dan Dewi Sri.

Selain itu, bokor hingga saat ini masih berfungsi sebagai alat perlengkapan upacara pengantin tradisional Jawa. Bokor masih berfungsi sama, yaitu sebagai wadah bunga setaman yang diberi air. Hanya bunga setaman becampur air itu kemudian difungsikan untuk mencuci kaki pengantin pria yang dilakukan oleh pengantin putri dalam acara panggih atau temu pengantin. 

Naskah dan foto: Suwandi

Fungsi Bokor dari Sesembahan Hingga Perlengkapan Panggih, sumber foto: Suwandi/Tembi
Fungsi Bokor dari Sesembahan Hingga Perlengkapan Panggih, sumber foto: Suwandi/Tembi
EDUKASI