Bale Inap Tembi, Koleksi Museum Sekaligus Rumah Inap

06 Aug 2016

Tembi Rumah Budaya selain dikenal sebagai rumah budaya dengan berbagai kegiatan atau aktivitas budayanya juga dilengkapi dengan museum, galeri, bale dokumentasi, angkringan, warung dhahar (rumah makan), amphiteater (panggung terbuka), pendapa, belik (kolam renang), function room (ruang serba guna), perpustakaan, Latar Centhini (edukasi tanaman), juga dilengkapi dengan bale inap.

Khusus untuk bale inap memang disediakan untuk disewakan. Jumlah bale inap di Tembi ada 9 buah, masing-masingnya dinamakan Badegan, Adikarto, Wuryantoro, Polaman, Ngadirojo, Ganjuran, Kriyan Kidul, Kriyan Lor, dan Morangan. Harga sewa untuk bale inap tersebut mulai dari Rp 425.700 hingga Rp 999.000 per hari. Harga seperti itu sudah termasuk makan 3 kali (pagi-siang-malam) dan 1 kali camilan di sore hari. Selain itu, jemput antar ke bandara dengan menggunakan 1 mobil juga gratis. Bukan hanya itu, bale inap ini juga masih memberikan servis lain, yakni satu kali antar ke Malioboro. Tamu yang menyewa bale inap juga dibebaskan dari bea berenang di belik atau kolam khas Tembi.

Bale inap Tembi Rumah Budaya merupakan bangunan rumah-rumah Jawa tradisional dengan dinding gebyog (kayu). Rumah-rumah tersebut berbentuk limasan yang dipindahkan dari berbagai tempat seperti Klaten, Gunung Kidul, dan ada yang berasal dari Jawa Barat, yakni Subang. Rumah-rumah tersebut sengaja dipindahkan dari berbagai tempat karena rumah-rumah tersebut di daerah asalnya relatif tidak terawat dan bahkan beberapa dibiarkan dalam keadaan kosong.

Ada dua hal yang disasar dengan pendirian rumah-rumah inap yang disebut bale inap di Tembi Rumah Budaya itu. Pertama adalah persoalan konservasi. Selain itu juga menyangkut masalah bagaimana membuat museum tidak hanya menjadi tempat yang mengoleksi benda mati atau semacam dead museum, namun menjadi museum yang hidup. Bale inap itu sesungguhnya juga merupakan koleksi dari museum Tembi Rumah Budaya dalam wujud bangunan rumah tradisional. 

Koleksi berupa rumah-rumah tradisional yang disebut bale inap tersebut tidak hanya didirikan untuk dilihat atau diamati serta dipelajari, namun juga bisa dinikmati, dialami, dirasakan. Jadi, orang tidak hanya bisa mengamati dan mempelajari rumah tradisional berdinding gebyog namun sekaligus juga bisa merasakan dan mengalami tinggal di dalamnya.

Tentu ada hal-hal yang harus disesuai dengan kebutuhan orang saat ini. Di antaranya adalah bahwa bale inap tersebut juga dilengkapi dengan AC, kamar mandi terbuka maupun tertutup, dan fasilitas lain seperti penginapan pada umumnya. Namun untuk mendukung suasana yang menenteramkan, bale inap tersebut tidak dilengkapi dengan televisi. Untuk dapat menonton televisi tamu harus melihatnya di Warung Dhahar Pulo Segaran atau di angkringan. Sekalipun demikian, fasilitas wifi tetap disediakan.

Untuk menambah suasana alamiah dan desa, lingkungan bale inap ini juga dibuat taman yang asri dengan tanaman-tanaman khas yang biasa ditanam di lingkungan rumah-rumah tradisional (bangsawan) Jawa misalnya sawo kecik, kenanga, kanthil, jambu dersana, kepel, dan lain-lain. Selain itu, di kanan kiri bale inap ini juga dilengkapi dengan kolam-kolam kecil yang menyisir tepian rumah dengan air jernih dan ikan berseliweran di dalamnya. Efek adem yang menenteramkan akan segera dirasakan begitu Anda tinggal di dalamnya. Lebih-lebih di kanan kiri bale inap juga digantungkan beberapa sangkar burung dengan burung perkutut di dalamnya yang setiap saat akan memperdengarkan suara merdunya, huuur ketekuuur….. huuur ketekuuur …. Orang Jawa bilang suasana yang demikian itu dengan istilah nyamleng.

Naskah dan foto: a. sartono

Bale Inap Tembi Rumah Budaya yang dinamakan Kriyan Lor dan Kriyan Kidul, difoto: November 2014, foto: a.sartono
Bale Inap Tembi Rumah Budaya yang dinamakan Morangan dengan latar samping berupa Belik, difoto: November 2014, foto: a.sartono
Bale Inap Tembi Rumah Budaya yang dinamakan Polaman, difoto: November 2014, foto: a.sartono
Bale Inap Tembi Rumah Budaya yang dinamakan Ganjuran, difoto: November 2014, foto: a.sartono
Kolam renang Tembi Rumah Budaya yang dinamakan Belik, difoto: November 2014, foto: a.sartono
Bale Inap Morangan dilihat dari selatan/depan), difoto: November 2014, foto: a.sartono
EDUKASI