Ajaran Kebaikan Orang Bali

02 Aug 2016

Judul            : Ajaran-ajaran dalam Naskah Singhalangghyala Parwa

Penulis                  : A.A. Gde Alit Geria

Penerbit                : Depdikbud, 1996, Jakarta

Bahasa                : Indonesia

Jumlah halaman : viii + 132

Naskah Singhalangghyala Parwa merupakan karya sastra berbentuk prosa, beraksara Bali, berbahasa Jawa Kuno, dan bersifat religius. Di Bali kegiatan olah sastra tidak semata-mata bersifat susastra, tetapi juga berkaitan erat dengan kepercayaan, adat-istiadat, upacara-upacara ritual, hukum, magis maupun kehidupan sosial budaya masyarakat. Ini adalah sebagai satu ciri yang mencerminkan kehidupan sosial masyarakat yang kompleks. Keseluruhan nilai-nilai ini merupakan tulang punggung orang Bali yang menyatu ke dalam agama Hindu.

Sebagai sebuah karya sastra religius naskah Singhalangghyala Parwa ini merupakan cerita kesusilaan yang mengandung ajaran keagamaan. Hal ini terutama tampak dalam dialog filsafat keagamaan mengenai hakikat Siwa dan Buddha oleh tokoh Sri Utsawati dengan Bhagawan Suta. Dialog ini meliputi ajaran tentang kemahakuasaan Tuhan, segala jenis pengorbanan, budi pekerti, makrokosmos dan mikrokosmos, pengendalian diri, ajaran kelepasan/ kamoksan dan sebagainya.

Cerita dalam naskah ini dihiasi dengan peperangan sebagai wujud pertikaian, antara kerajaan Sweta Nadhipura dengan Singhalangghyala. Peperangan ini pada akhirnya kembali pada  perdamaian suatu langkah untuk menuju prinsip-prinsip tertinggi yang tunggal, yakni Siwa-Buddha sebagai jiwa semesta alam (pinaka jiwa ning praja).

Isi naskah ini mengajarkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari manusia harus senantiasa berbuat kebaikan. Hal ini sesuai dengan tujuan hidup menurut agama Hindu. Agama Hindu memandang bahwa kelahiran seseorang ke dunia dituntut untuk senantiasa berbuat baik demi tercapainya tujuan akhir. Jika dikaitkan dengan tujuan pembangunan nasional sama dengan pembentukan manusia seutuhnya, sehat jasmani dan rohani.

Kusalamani

EDUKASI