Taman Seni Rupa dari Artjog

04 Jul 2014

Ruang pameran Artjog 2014 di Taman Budaya Yogyakarta, laiknya seperti tempat wisata, dimana setiap orang yang berkunjung mengabadikan diri dengan menggunakan kamera digital.

Tiga remaja sedang foto bersama dengan tongkat narsis (tongsing) di depan karya seni rupa yang dipamerkan Artjog di Taman Budaya Yogyakarta, foto: Ons Untoro
Tiga remaja dengan tongkat narsis

Artjog seolah membuat taman seni rupa di Taman Budaya Yogya, Jalan Sri Wedari 1. Pasalnya, area taman budaya dari halaman depan sampai seluruh ruang pamer, disulap laiknya taman, hanya saja bukan tumbuhan yang dihadirkan, melainkan berbagai macam karya seni rupa yang dipajang di sudut-sudut ruang pamer, yang disainnya membuat orang terpana.

Disebut seolah sebagai taman, karena banyak orang yang melihat pameran seni rupa ini, menggunakan karya seni rupa yang dipamerkan sebagai latar belakang untuk foto dirinya yang diambil dengan kamera digital atau telepon seluler, alias selfie.

Tiga orang perempuan menggunakan tongsis (tongkat narsis), mengambil fotonya sendiri di depan karya seni lukis, seolah mereka sedang di taman. Di sudut yang lain, di depan patung Soekarno, karya Edi Sunarso, beberapa orang anak muda sedang action untuk diambil fotonya.

Di sudut ruang lain, anak-anak muda, yang juga sedang asyik saling mengambil foto, bahkan ada dua anak muda saling berfoto berhadapan dengan masing-masing membawa kamera dengan latar belakang karya seni rupa.

Beberapa anak muda sedang action di depan patung Bung Karno karya Edi Sunarso dalam pameran Artjog di Taman Budaya Yogyakarta, foto: Ons Untoro
Beberapa anak muda di depan patung Soekarno, 
karya Edi Sunarso

Heri Pemad, CEO Artjog, melihat gejala para pengunjung pameran lebih mengutamakan foto-foto, sepertinya pengunjung pameran sekadar hura-hura di ruang pamer, namun demikian dia juga merasa heran, karena Artjog 2014 dengan dikenai tiket, pengunjung masih terus antusias, bahkan sampai diperpanjang selama 7 hari, pengunjung terus berdatangan. Pameran berlangsung pada 7 – 22 Juni, dan diperpanjang sampai 29 Juni 2014, dan harganya tiketnya Rp 10.000.

Ruang pameran Artjog 2014 di Taman Budaya Yogyakarta, laiknya seperti tempat wisata, dimana setiap orang yang berkunjung mengabadikan diri dengan menggunakan kamera digital.

Rupanya karya seni rupa yang dipamerkan Artjog dengan tema ‘Legacies of Power’, bagi para pengunjung adalah momentum, sehingga di setiap karya seni yang dipamerkan, selalu saja ada orang yang sedang mengambil foto dirinya. Hampir-hampir, tak ada pengunjung yang mengambil foto karya seni rupa, tanpa ada dirinya di depan karya seni rupa tersebut.

Dua anak muda saling berfoto dengan latar belakang karya seni rupa dalam pameran Artjog di Taman Budaya Yogyakarta, foto: Ons Untoro
Dua anak muda saling foto bersama

Artojog, yang diselenggarakan setiap tahun, memang mampu ‘mengundang’ publik lain untuk ‘mengenali’ seni rupa. Para pengunjung Artjog, bukan hanya publik seni rupa, tetapi publik umum, terdiri dari anak-anak remaja, keluarga muda dan lainnya, yang, anggap saja, mulai mengenali seni rupa, dan pameran Artjog adalah pilihannya.

Mungkin kalau kita menunjuk referensi, jenis kesenian yang mampu menghadirkan publik secara beragam ialah teater Gandrik. Setiap pertunjukan teater Gandrik, yang digelar beberapa hari, dihadiri oleh banyak penonton dan bukan hanya dari publik teater. Dengan harga tiket yang tidak murah, pertunjukan teater Gandrik, bahkan tidak hanya Di Yogya, penonton memenuhi gedung.

Agaknya, melihat pameran Artjog telah menjadi gejala gaya hidup bagi anak-anak muda di Yogya.

Naskah dan foto: Ons Untoro

FILM