Obituari Ayu Sutarto, Budayawan Tinggal di Jember

04 Mar 2016
Seringkali kita melihat orang yang disebut sebagai budayawan,  tinggal di kota-kota  besar, atau setidaknya kota yang memiliki aktivitas kesenian dan kebudayaan yang cukup padat. Pendek kata, budayawan tak bisa dijauhkan dari aktivitas-ativitas kebudayaan. Tapi Prof.Dr Ayu Sutarto, M.A memilih tinggal di Jember, sebuah kota kecil dari Provinsi Jawa Timur.
 
Selain dikenal sebagai budayawan, dia adalah seorang pengajar jurusan Sastra Inggris di Universitas Negeri  Jember. Ayu, demikian panggilannya dan di depan namanya sering ada tambahan ‘pak’ atau ‘mas’ tidak hanya dikenal di area Jember,  tetapi dia dikenal di Indonesia. Sahabat-sahabatnya banyak dari kota-kota lain di Indonesia.
 
Suatu kali, sekitar dua tahun lalu, dia mampir di Tembi Rumah Budaya, dan langsung menikmati menu di Rumah Makan Pulosegaran. Selesai makan dia teruskan jalan-jalan di area Tembi Rumah Budaya.
“Selamat siang mas Ons,” tiba-tiba dia masuk di ruang kerja saya sambil menyapa.
Tentu saja saya tertegun. Puluhan tahun tidak bertemu, dan dipertemukan melalui media jejaring sosial Facebook dan serung saling bersapa melalui media jejaring sosial itu, sehingga seolah bertemu lagi. Kali ini bentul-betul bertemu muka di Tembi.
 
“Wow, mas Ayu!” teriak saya kaget, dan kita  saling berjabat tangan, berpelukan lalu duduk ngobrol. Rasa kangen dan rindu seperti terobati.
 
Ayu Sutarto memang pernah tinggal di Yogya, setidaknya ketika dia kuliah di jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) UGM, dan di Yogya dia menjadi redaktur Koran Eksponen. Selama di Yogya dia bergaul dengan banyak penyair dari Persada Studi Klub, asuhan Umbu Landu Paranggi.
 
Ketika pertama kali bertemu di Facebook dan saya menampilkan wajah-wajah seperti Landung Simatupang, Gentong Hariono, Iman Budi Santosa, Tegoeh Ranusastro Asmara, Slamet Riyadi Sabrawi. Membaca nama-nama itu Ayu memberi komentar: “Rasanya nama-nama yang tidak asing, dan pernah saya kenal lama”.
 
Kabar duka datang dari teman-teman melalui Facebook, bahwa Selasa 1 Maret 2016, pukul 06.00 Ayu Sutarto dipanggil Tuhan. Tentu, kita merasa kehilangan atas kepergiannya. Kita tahu, sebagai penulis Ayu Sutarto telah banyak menghasilkan banyak buku. Sebagai penyair dia juga masih terus menulis puisi.
Ayu Sutarto, lahir di Pacitan 21 September 1949. Dalam usia 67 tahun, dia telah pergi menuju ke rumah Tuhan. Karya-karya yang telah dia ciptakan dianataranya ‘Menjinakkan Globalisasi’ (2002), ‘Menguak Pergumulan antara Seni, Politik, Islam dan Indonesia (2004), ‘Menjadi NU Menjadi Indonesia’(2006), ‘Saya Orang Tengger Saya Punya Agama' (2006) dan sejumlah karyanya yang lain akan terus mengingatkan kita akan sosok Ayu Sutarto.
 
Ketika Sastra Bulan Purnama edisi ke-7, yang diselenggarakan 7 April 2012, menampilkan para penyair era tahun 1970-an, termasuk penyair Persada Studi Klub, beberapa nama penyair yang disebut di atas ikut tampil, Ayu Sutarto mengirimkan puisinya, tetapi tidak bisa datang karena ada kegiatan yang tak bisa ditinggalkan. Puisi yang dikirimkan adalah bentuk dari persahabatan bersama penyair-penyair Yogya masih terjalin.
 
Ayu Sutaro seringkali datang ke Yogya untuk mengikuti acara-acara di UGM. Ia seperti tak bisa jauh dari Yogya, tetapi dia juga tak bisa melepaskan Jember, sehingga Yogya dan Jember seolah telah menjadi bagian dari kehidupannya yang tak bisa dipsahkan.
 
Berikut ini tiga puisi Ayu sutarto, yang dikirim di Tembi Rumah Budaya, meskipun dia tidak bisa datang di Sastra Bulan Purnama. Melalui emil dia menulis: “Bung Ons Untoro yang baik, Mohon maaf, saya tidak bisa datang ke TeMBI. Mudah-mudahan lain kali.Bersama ini, meski terlambat, saya kirimkan tiga buah puisi saya.Terima kasih. Salam saya buat teman-teman”.
 
Kita nikmati tiga puisi karya Ayu Sutarto:
 
Suwarno Pragolapati
 
Kutemukan mesin ketik tuamu
 di dasar  Laut Selatan
Sendiri, tanpa puisimu
Hatimu juga terlelap di sana
Sendiri, tanpa  keluargamu
Semua telah kamu kunci
Karena pilihan akhir adalah
Sendiri
 
Umbu Landu Paranggi
 
Pernahkah kau tahu, Jogja mencarimu 
Dan  puisi mengejarmu
Telah kau pilih hidup dalam hilang
Dan menjadi siapa bukan sebuah asa
Puisi terakhirmu ternyata
Bahwa dengan menghilang kau menjadi ada
 
W.S. Rendra
 
Malioboro tak lagi melahirkan sajak
Dan Jogja menjadi janda yang gemar  bercanda
Tapi tak suka bercumbu
Mungkin benar kata mereka
Puisi-puisimu juga seperti itu
Perempuan yang gemar menggoda
Tetapi malas bercumbu.
 
Ons Untoro
 
Prof. Dr. Ayu Sutarto, budayawan sekaligus pengajar di Universitas Negeri Jember, foto: facebook Ayu Sutarto
Ayu Sutarto bersama anak-anak muda dari Komunitas Bolburtu: Gerombolan Pemburu Batu, saat ada acara di Hotel Manohara, Borobudur, foto facebook Ayu Sutarto
BERITA BUDAYA