Mangir, Antara Kebenaran Sejarah dan Kepentingan Wisata Budaya

26 May 2015

Emha Ainun Najib atau Cak Nun sebagai budayawan yang keturunan Ki Ageng Mangir menyampaikan bahwa sejarah itu kebenarannya tidak mutlak. Cak Nun menyatakan bahwa forum diskusi Mangir di Tembi ini merupakan satu tahapan untuk menuju pada pemahaman yang lebih panjang dalam rangka mencari kebenaran sejati dari persoalan Mangir.

Guna menelusuri sejarah Ki Ageng Mangir sebagai agent of cultural Paguyuban Yayasan Projotamansari dan Paguyuban Soko Mangir Baru menyelenggarakan seminar “Ki Ageng Mangir Megatsari.” Seminar tersebut dilaksanakan di Tembi Rumah Budaya pada hari Minggu, 17 Mei 2015, dengan narasumber Prof. Dr. Djoko Suryo dan Emha Ainun Nadjib. Bertindak sebagai pembahas dalam seminar ini adalah Prof. Amiluhur Suroso dan Dr. Suwardi Endraswara.

Seminar tersebut diharapkan akan memberikan pencerahan dan mengungkapkan sebanyak mungkin informasi tentang kesejarahan Mangir sehingga dengan demikian akan semakin terkonstruksi kebenaran kesejarahan tentang Mangir.

Djoko Suryo menyampaikan bahwa sebutan Mangir sebagai desa tertua di Bantul terasa kurang tepat mengingat pada masa lalu telah ada begitu banyak desa yang hidup jauh sebelum wilayah Mangir ditempati oleh Ki Ageng Mangir. Desa-desa tersebut di masa lalu dikenal dengan nama wanua yang dikepalai orang yang dinamakan tuha.

Istilah wanua akhirnya berkembang menjadi desa dan tuha berkembang menjadi tetua, tua, atau orang yang dituakan. Djoko Suryo kurang setuju dengan sebutan Mangir sebagai desa tertua di Bantul karena jauh sebelum Mangir terdengar dalam babad atau sejarah, Gunung Wingko di wilayah Samas telah berkembang menjadi hunian. Pemikiman di Gunung Wingko ini diperkirakan telah ada pada kisaran abad 9-10 Masehi. Sementara Mangir mulai terdengar dalam babad sekitar abad ke-16 Masehi.

Emha Ainun Najib atau Cak Nun sebagai budayawan yang keturunan Ki Ageng Mangir menyampaikan bahwa sejarah itu kebenarannya tidak mutlak. Cak Nun menyatakan bahwa forum diskusi Mangir di Tembi ini merupakan satu tahapan untuk menuju pada pemahaman yang lebih panjang dalam rangka mencari kebenaran sejati dari persoalan Mangir. Mencari apa yang benar dan bukan mencari siapa yang benar.

Cak Nun juga mempertanyakan mengapa Ki Ageng Mangir Megatsari sebagai leluhur Mangir kok ditempatkan di Mangir, dan bukannya tokoh atau orang lain. Apa alasannya. Hal ini perlu dicari jawabannya. Kedatangan Ki Ageng Mangir Megatsari ke Mangir ini bukannya dilakukan seorang diri, namun telah disertai dengan tim yang lengkap. Salah satu alasannya adalah karena Tanah Jawa di sisi selatan ini merupakan laboratorium spiritual. Wilayah selatan Gunung Merapi adalah wilayah mandala sejak zaman Hindu. Mangir adalah salah satunya. Pertemuan (perkawinan) Sungai Bedog dan Sungai Progo dianggap sebagai perkawinan sungai suci, yakni Sungai Gangga dan Sungai Jamuna di India. Juga sebagai cerminan dari wilayah pertemuan dua sungai, Sungai Eufrat dan Sungai Tigris di Timur Tengah.

Jika memang wilayah Dusun Mangir akan dikembangkan menjadi desa budaya yang potensial untuk kepentingan pengetahuan, sejarah, sosial, dan ekonomi, dan lain-lain, maka perlu dipikirkan untuk membuat tim atau semacam panitia yang bisa menggali tentang aspek kesejarahan Mangir. Sedangkan untuk kepentingan wisata dan ekonomi, diperlukan tim lain yang bisa mengolah hal itu. Aspek apa saja yang menonjol dan unik di Mangir. Hal demikian perlu ditonjolkan untuk memberikan cirri dan identitas, bahwa Mangir memang memiliki sesuatu yang lain yang tidak ditemukan di tempat lain.

Naskah dan foto: asartono

Dari kiri ke kanan, Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum., Prof. Dr. Djoko Suryo, Prof. Amiluhur Suroso, Emha Ainun Najib dalam Seminar Sejarah Ki Ageng Mangir Megatsari di Tembi Rumah Budaya, difoto: Minggu, 17 Mei 2015, foto: a.sartono
Diajeng dan Dimas Mangir ikut memeriahkan Seminar Sejarah Ki Ageng Mangir Megatsari, difoto: Minggu, 17 Mei 2015, foto: a.sartono
BERITA BUDAYA