Malam Ini Reading Centhini di Tembi

11 Feb 2016
Satu pertunjukan yang diberi tajuk ‘Reading Centhini: bukan cinta satu malam,’ menampilkan 4 cerita, di 4 tempat, dalam 4 hari berturut-turut. Pada Kamis malam, 11 Februari 2016 pukul 19.00 satu cerita ditampilkan di Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul, Yogyakarta, dengan judul Gegana: Gelisah Galau, Merana.
 
Cerita ini mengisahkan tentang Amongraga yang sedang merenungkan semua yang telah terjadi dalam hidupnya. Dia kehilangan ayah dan saudaranya. Dia meninggalkan istrinya dan  tidak tahu harus berbuat apa. Tiga pucuk surat yang dia tinggalkan untuk istrinya, adik iparnya dan mertuanya menjadi pintu masuk kita ke dalam konflik internal Amongraga. Dalam kesengsaraan ini, dia kembali kepada Tuhan, sambil memunguti serpihan-serpihan hidupnya.
 
Agnes Christina akan tampil dalam pertunjukan ini. Perjalanan Agnes Christina dengan Centhini dimulai beberapa tahun lalu, dan akhirnya dapat direalisasikan dengan program Directors’ Lab dari The Substation home of the Arts dan National Arts Council Singapore yang memberikan peluang dia untuk penelitian selama 18 bulan. 
 
Melalui program ini, Agnes memulai seri Reading Centhini sebagai sebuah usaha penerjemahan Serat Centhini ke dalam bentuk pertunjukan yang lebih mudah dan lebih menarik untuk dinikmati oleh generasi muda yang sudah hampir melupakan nilai-nilai tradisi luhur dari masa lalu. 
 
Serat Centhini, sebuah karya sastra Jawa yang termegah, namun sayangnya jarang dibaca. Jika dibaca pun, melulu diasosiasikan dengan petualangan seksual, yang kemudian membuat buku ini disebut sebagai Kamasutra Jawa. 
 
Seri Reading Centhini tidak bertujuan untuk melestarikan Serat Centhini, akan tetapi untuk mengajak penonton untuk ikut membaca Serat Centhini dan berinterpretasi sendiri lewat pertunjukan ini, lewat keseharian yang kita alami, lewat orang-orang di sekitar kita dan yang terpenting tapi sering kita lupakan, sambil bercermin kepada hidup kita sendiri. 
 
Perjalanan Agnes dalam membaca Serat Centhini dimulai dari pencarian secara fisik. Kemudian perjalanan ini menjadi kian mendalam: membaca setiap karakter, membaca kondisi psikologis setiap karakter. Perjalanan terus berlanjut untuk memetakan posisi Serat Centhini dalam kehidupan manusia; peran buku ini sebagai ensiklopedia hidup, sebagai pendamping hidup manusia dan sebagai pengorbanan. Lalu kita kembali kepada tujuan penulisan buku ini sendiri. Setiap buku ditulis dengan tujuan tertentu, entah tujuan personal si penulis, atau tujuan untuk pembaca. 
 
Perjalanan hidup dipetakan dengan sangat rinci di Serat Centhini, dan sepertinya, perjalanan itu masih belum berhenti sampai sekarang. Pada akhirnya, sebuah buku hanyalah serangkaian kalimat yang disusun menjadi cerita jika kita tidak membacanya sambil mereflesikan kembali hidup kita dan mempraktekkan isi dari buku ini. 
 
Reading Centhini: Bukan Cinta Satu Malam akan menyuguhkan 4 pertunjukan berbeda, di 4 tempat yang berbeda, dalam 4 hari berturut-turut, dimana kita akan membicarakan tema Cinta dalam Serat Centhini lewat beberapa adegan berbeda.
 
“Bukan Cinta Satu Malam akan memberikan sudut pandang alternatif terhadap stereotip Kamasutra Jawa yang lebih dikenal oleh publik,” ujar Agnes
 
Ons Untoro
Salah satu adega pentas Centhini dari kisah seri berbeda yang pernah dipentaskan, foto: dokumentasi
BERITA BUDAYA