Kisah dari Visual Rama Surya

16 Feb 2016
Dari foto sebenarnya kita tidak hanya diperlihatkan visual, tapi juga bisa melihat (dan membayangkan) persoalan. Maka, ketika kita diajak melihat foto-foto Rama Surya, yang diberi judul A Cartain Grace dan dipamerkan di Galeri Fakultas Media Rekam Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta, Jalan Parangtritis, kita diajak melihat persoalan yang dialami warga Papua.
 
Pembukaan pameran dilakukan Senin pagi 15 Februari 2016. Foto-foto disajikan tanpa pigura, namun tidak mengurangi kisah cerita yang disampaikan. Ada banyak cerita yang coba disampaikan oleh Rama Surya melalui karya fotonya, bukan hanya kisah kehidupan manusia, tetapi kehidupan makhluk hidup.
Menunjuk makluk hidup itu, kita bisa melihat foto yang diberi judul ‘A pig family passed by the main road, Sinai Tousi Village.’ Foto ini menyajikan keluarga babi yang sedang berjalan di antara pepohonan, dan kita bisa melihat kehidupan makhluk hidup. Artinya, Rama Surya melalui lensa kamera ‘membidik’ kehidupan di Desa Sinai Tousi.
 
Ada juga kisah yang menarik, dan kiranya tidak akan bisa ikut larut dalam persoalan jika kisah itu diceritakan secara lisan. Tapi karena disampaikan melalui visual, dan dalam konteks ini karya fotografi, kita bisa membayangkan bagaimana gigihnya orang desa di Papua untuk membuat rumahnya, menjadi ‘layak.'
 
Melalui karya yang diberi judul ‘A family carries two doors from Manokwari City to Anggi District, Lake Gigi’. Dalam foto ini, kita diperlihatkan dua pintu warna merah hendak dibawa pulang menumpang kapal kecil. Pintu yang diambil dari Manokwari akan dibawa di desa tempat tinggalnya di wilayah Kabupaten Anggi, di Danau Gigi.
 
Karya foto seperti disebut di atas menyiratkan bagaimana kehidupan masyarakat pedesaan Papua menjalani kehidupan. Dari karya-karya Rama Surya kita bisa melihat bagaimana anak-anak meletakkan tangannya ke dada orang tua untuk berdoa minta kesembuhan.
 
Dari foto Rama Surya, kita bisa melihat visual yang sederhana, sehari-hari, mungkin suatu hal yang biasa di sana, tetapi memiliki pesan yang kuat, dan dari sana kita disodori persoalan hidup yang kompleks. Lebih tragis lagi, kita bisa melihat betapa ketidakadilan itu sangat nyata dialami warga di Pegunungan Arfak sebagai warga bangsa Indonesia.
 
Melalui karya fotonya, Rama Surya seperti sedang menyindir, tanpa berteriak, melainkan seperti sambil tersenyum memperlihatkan keadaan, yang sebenarnya, yang untuk kita memilukan, tetapi bagi keseharian orang di sana merupakan hal yang sehari-hari.
 
Rama Surya mulai mengambil kisah kehidupan dalam bentuk visual ketika dia ditugaskan menjadi guru Bahasa Inggris di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 17 Minyambou, daerah terpencil di Pegunugan Arfak. Tanpa fasilitas umum yang mewah, dia menjalani tugasnya sambil berkarya. Berkah memang selalu ada, makanya dia menerbitkan buku berjudul A Cartain Grace, sekaligus memamerkan karya-karyanya.
Sebut saja, pameran fotografi karyanya dan penerbitan buku merupakan bentuk tanggung jawab sebagai seorang fotografer.
 
Ons Untoro
 
Daun pintu warna merah yang akan dibawa dari Manokwari ke Kabupaten Anggi, foto: Ons Untoro
Keluarga babi sedang melewati jalan utama desa Sinai Tousi, foto: Ons Untoro
BERITA BUDAYA