Irama Nusantara Lakukan Digitalisasi Ribuan Musik Populer Indonesia

11 Jun 2016

Berawal dari kesulitan mencari lagu-lagu Indonesia lama, tercetuslah ide situs musik Irama Nusantara. Para pencetus ide itu adalah David Tarigan, Christoforus Priyonugroho, Toma Avianda, Alvin Yunata, Dian Onno, Norman Illyas dan Mayumi Haryoto. Mereka tidak mau karya-karya musik Indonesia senasib dengan beberapa karya seni tanah air yang akhirnya hanya bisa dinikmati di Negara lain.

Langkah digitalisasi piringan hitam (PH) ini awalnya sederhana. Mereka mengumpulkan fisik PH dari pedagang, koleksi teman-teman terdekat, para kolektor juga sumbangan dari masyarakat. Arsip musik Indonesia seperti ini hampir dibilang tidak ada, kalaupun ada misalnya yang tersimpan di RRI (Radio Republik Indonesia) dan Lokananta akses untuk bisa menikmati sangat terbatas. Untuk itu Irama Nusantara diharapkan bisa menjadi wadah masyarakat untuk bisa menikmati ribuan dokumentasi dan arsip musik melalui perangkat elektronik berbasis internet.               

Sempat berjalan sendiri selama beberapa tahun, pekerjaan yang harusnya sudah sejak lama dilakukan oleh pemerintah ini akhirnya mendapat angin segar. Per tanggal 1 Juni 2016, Yayasan Irama Nusantara bersama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menjalin kerja sama untuk pendokumentasian dan pengarsipan musik populer Indonesia.

Keduanya menargetkan tak kurang 1.500 musik terdokumentrasi dari era tahun 1920-an hingga 1950-an. “Kami optimis ingin menyediakan satu rilisan digital setiap bulannya,” kata Triawan Munaf, Kepala Bekraf usai menandatangani kerja sama di Rolling Stone Café beberapa waktu lalu.

Bersama Bekraf, Irama Nusantara mulai menjajaki progam Gerakan 78, yakni upaya pengarsipan dan pendataan materi piringan hitam shellac (78 RPM) yang banyak ditemui di berbagai stasiun siaran radio, diantaranya Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) di seluruh Indonesia, dan saat ini pendataan mulai di lakukan di seluruh RRI.

Digitalisasi piringan Hitam Shellac 78 RPM rilisan digital tersebut berasal dari data piringan hitam musik Indonesia yang mendominasi format rekaman saat itu. Menemukan piringan hitam dalam kondisi yang baik, menjadi tantangan bagi David Tarigan yang menggawangi Yayasan Irama Nusantara untuk proses alih bentuk musik Indonesia dari fisik menjadi digital. Upaya dokumentasi era di bawah 1950-an menjadi prioritas utama.

"Plat-plat (piringan hitam) dari era itu sudah susah menemukannya, apalagi dalam kondisi yang baik, bahannya juga bukan vinil, (shellac) mudah sekali pecah," terang David dalam konferensi pers. Selain itu, dikhawatirkan, kondisi cuaca Indonesia dan cara penyimpanan yang keliru, bisa dengan cepat merusak piringan hitam tersebut. Karena itulah, digitalisasi tersebut menjadi prioritas dan mendesak untuk dilakukan. Sebagai langkah awal, Irama Nusantara bersama Bekraf telah memulai pendataan di semua stasiun RRI.

Irama Nusantara kelak tidak hanya akan mengarsipkan lagu-lagu lama melainkan juga lagu-lagu masa kini dengan izin dari pencipta lagu dan penyanyinya. Dia juga mengundang  pecinta musik Indonesia terlibat dalam gerakan ini. Program ini juga bisa berkembang luas, akan banyak program penerbitan literatur musik, online radio, dan lainnya, sebagai pusat pendataan rilisan musik Indonesia. Irama Nusantara berharap bisa menjadi landasan yang mengakomodasi siapa pun yang tertarik mengkaji musik populer Indonesia.

Natalia S. 

Irama Nusantara, Digitalisasi Ribuan Musik Populer Indonesia
Irama Nusantara, Digitalisasi Ribuan Musik Populer Indonesia
Irama Nusantara, Digitalisasi Ribuan Musik Populer Indonesia
BERITA BUDAYA