Ini Memoriam Jihad Gunawan Penyair dan Aktivis

13 Jun 2016

Jihad, demikian panggilannya dari nama lengkap Muhamad Jihad Gunawan. Usianya termasuk masih muda, 57 tahun. Tahun 1980-an dia aktif di area sastra dan rajin menulis puisi bersama teman seangkatannya. Berulang kali dia datang ke Tembi Rumah Budaya, meskipun belum pernah tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama.

Jihad asli dari Cilacap, tetapi sejak masih muda tinggal di Yogya. Suatu kali dia (kembali) datang ke Tembi Rumah Budaya, bersama teman aktivis mahasiswa tahun 1980-an, Anharudin, alumni jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya UGM. Kehadiarnnya di Tembi seperti reuni, setelah Anhar lama meninggalkan Yogya dan menetap di Jakarta.

Selain sebagai penyair, Jihad dikenal sebagai aktivis. Ketika reformasi bergulir dia mulai terjun di politik praktis dan masuk Partai Amanat Nasional. Semasa Orde Baru berkuasa, Jihad, setidaknya seperti kata Isti Nugroho sahabatnya, tidak mau bekerja di bawah kepemimpinan Soeharto. Dia memang bertekad akan bekerja, terutama di bidang politik kalau Soeharto sudah tidak lagi menjadi presiden. Setelah Soeharto lengser dia mulai berpolitik dan bekerja di area itu. Hidupnya mulai terlihat mapan.

Berita duka datang dari teman-teman yang menyampaikan pesan bahwa Jihad Gunawan meninggal Senin malam 6 Juni 2016 dan dimakamkan, Selasa siang 7 Juni 2016. Berita ini mengejutkan, meskipun kita telah mendengar bahwa dia opname di Rumah Sakit Sardjito, Yogya. Tapi kepergiannya yang begitu cepat, kita seperti tak percaya.

Dua area yang dia geluti, penyair dan aktivis, seperti tak bisa dipisahkan. Area aktivis dan ruang politik tempat dia memperjuangkan kepentingan-kepentingan politik, termasuk hak-hak rakyat. Wilayah kepenyairan adalah oase di mana dia membuat jarak dari area yang keras dan tarik menarik untuk sejenak membasuh nuraninya.

Karena area politik mungkin begitu menyita aktivitasnya, dia tidak lagi rajin menulis puisi seperti dulu, tetapi bukan berarti dia tinggalkan. Dia masih memasuki ruang sastra, dan ikut kegiatan di ruang itu. Bukan yang utama untuk meneguhkan kepenyairannya, tetapi lebih dikarenakan dia tidak bisa meninggalkan area sastra, lebih-lebih puisi.

Anggap saja, dinamika hidup Jihad, yang bergerak dari sastra ke politik, dan ulang-alik di antara keduanya sebagai bentuk puisi protes dari dia. Protes terhadap keadaan dan hidupnya sendiri.

“Meski saya tidak lagi rajin menulis puisi seperti dulu, tapi saya tak bisa meninggalkan puisi. Karena puisi ada dalam ini ku (sambil menunjuk dada),” kata Jihad suatu kali saat bermain di Tembi Rumah Budaya.

Meski sudah menjadi warga Yogya, tetapi Jihad masih berkomunikasi dengan teman-teman seniman di Cilacap, sehingga ketika para pelukis Cilacap akan pameran di Tembi Rumah Budaya, Jihad mengantarkan seniman dari Cilacap, datang ke Tembi untuk mengajukan usulan pameran. Ketika pembukaan pameran perupa dari Cilacap dan sekitarnya dilakukan di Tembi Rumah Budaya, Jihad menunggui sampai acara pembukaan selesai.

Jihad, puisi dan aktivitas politik adalah kisah masa lalu yang telah dia tinggalkan, dan kini dia telah pergi  untuk selamanya. Selamat jalan Jihad, puisi-puisimu selalu kita kenang.

Ons Untoro

Jihad Gunawan penyair dan aktivis politik, foto: facebook Jihad Gunawan
BERITA BUDAYA