Fombi bersama Duo Bajo Bikin Sumringah Mahasiswa Baru UII

11 Sep 2014

Duo Bajo kembali berbagi obrolan musikal melalui idiom musik Nusantara melalui medley lagu daerah. Mereka sangat pandai membungkus lagu suwe ora jamu, ilir-ilir, janger, gundul-gundul pacul, dan cublak-cublak suweng dalam kehikmatan musik tradisi.

Duo Bajo pentas di kampus UII Yogyakarta, 8 September 2014, foto: Sistiono Pambudi
Duo Bajo di panggung kampus UII, Yogyakarta

Melalui teknik gitar klasik, Duo Bajo sukses menghidangkan musik modern dan etnik di tengah euforia Ospek Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, pada Senin, 8 September 2014. di kampus Condong Catur, Sleman, Yogyakarta.

Duo Bajo yang digawangi oleh Pradit dan Bran, bersama Fombi (Forum MusikTembi) dipercaya untuk memeriahkan penutupan Ospek Fakultas Ekonomi UII. Dua Bajo merupakan grup instrumental dengan gitar klasik sebagai instrumen mayor mereka.

Siang itu, Duo Bajo ditemani salah seorang pemusik etnis dari Bali yang kebetulan juga teman sekampus mereka, mengubah raut wajah para mahasiswa baru yang sebelumnya terlihat lesu menjadi sumringah. Duo Bajo membuka sesi dialog musikal mereka dengan Eiko, nomor ini merupakan komposisi baru mereka yang dikutip dari bahasa Jepang.

Sajian mereka berlanjut dengan dentingan dawai-dawai nan merdu di telinga melalui nomor Jongo. Pada nomor ini mereka bercerita bahwa ini adalah satu komposisi favorit mereka karya komposer ternama dari Brazil, Paulo Belinati. Mereka memberi prolog bahwa Jongo adalah cikal bakal musik samba dan bossanova.

Sontak tepuk tangan mahasiswa baru Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia menggaung di lapangan ketika Duo Bajo menghadirkan musik yang ringan dengan riang gembira. Nomor ini mereka beri judul Happy.

Pihak panitia sempat akan menyudahi pertunjukan Duo Bajo sampai nomor yang keempat yakni Mission Impossible. Tetapi mahasiswa baru serentak berteriak, “ lagi.. lagi.. lagi..”. Duo Bajo pun sangat sukses untuk komposisi keempat tersebut. Komposisi ini sangat familiar di telinga semua orang. Ditambah lagi mereka berhasil menyuguhkan dengan aransemen dan warna yang berbeda.

Di penghujung momen, Duo Bajo kembali berbagi obrolan musikal melalui idiom musik Nusantara melalui medley lagu daerah. Mereka sangat pandai membungkus lagu suwe ora jamuilir-ilirjangergundul-gundul pacul, dancublak-cublak suweng dalam kehikmatan musik tradisi. Riang gembira terpancar dari raut wajah mahasiswa baru di penghujung medley. Dengan hentakan dan tensi musik yang mengejutkan, pertunjukan Duo Bajo siang itu berakhir dengan senyum manis mahasiswa baru.

Naskah dan Foto: Sistiono Pambudi

FILM