Bincang-bincang dengan Yok Koeswoyo dan Djaduk Ferianto

29 Jul 2016

Yok Koeswoyo adalah salah satu personil grup musik pop Koes Plus yang legendaris di Indonesia. Di masa jayanya, Koes Plus yang beranggotakan Yok, Yon, Tonny, dan Murry,  merajai musik pop di Indonesia. Bahkan hingga sekarang, lagu-lagunya masih dinyanyikan oleh grup-grup musik pecinta Koes Plus.

Walaupun kini sudah berusia senja, namun semangat Yok Koeswoyo masih menggelora. Itulah sebabnya, Yok Koeswoyo diundang oleh Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta untuk berbicara tentang musik dan lagu-lagu ciptaan Koes Plus dalam bingkai “Nasionalisme di Mata Seniman”. Acara bincang-bincang itu berlangsung pada Minggu, 24 Juli 2016 pukul 19.00—22.00 di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Hadir seniman lain dalam bincang-bincang adalah G Djaduk Ferianto, seniman asal Yogyakarta yang sudah mendunia.

Dalam kesempatan itu, Yok Koeswoyo tidak banyak berbicara. Ia hanya menekankan bahwa Koes Plus dalam menciptakan lagu-lagunya, salah satu unsur yang hendak digapai adalah ingin menanamkan rasa cinta kepada negara yang ditujukan untuk seluruh masyarakat Indonesia, termasuk kepada generasi penerusnya. Lagu-lagu yang mengandung unsur cinta negara dan rasa nalionalisme antara lain “Kolam Susu” dan “Nusantara”. Walaupun disadari bahwa kata-kata nasionalisme itu tidak tertuang secara eksplisit dalam lagu tersebut, namun roh nasionalismenya muncul.

Selain itu banyak lagu ciptaan Koes Plus yang selalu menjunjung tinggi tanah airnya. Lagu-lagu itu tertuang dalam lagu-lagu yang beraliran genre beraneka ragam, seperti pop Melayu, pop Keroncong, pop Jawa, Kasidah, pop Anak-anak, dan pop Natal. Jika ditotal selama berkarya ada lebih dari 1.000 judul lagu yang dituangkan dalam 150 album.

Sementara itu, Djaduk Ferianto dalam perbincangan berkomentar, bahwa untuk memiliki rasa nasionalisme, tidak perlu diseragamkan dan tidak perlu terjebak dalam primordial. Artinya, segala apa yang kita kerjakan untuk pengabdian dan pembangunan negara ini sudah dianggap nasionalisme. Tidak harus dengan jalan bermusik, tetapi bisa dengan jalan lain sesuai dengan keahliannya. Yang penting harus berbuat sesuatu yang baik dan positif untuk negara. Sebab nasionalisme itu bersifat pribadi dan dinamis. Tidak harus statis yang berbau perjuangan fisik saat melawan penjajah dulu.

Acara bincang-bincang itu juga semakin gayeng karena ada tokoh lain yang dihadirkan, seperti Dr. Royke B. Oabaha (Dosen ISI Yogyakarta) dan Wowo Nugroho (pecinta Koes Plus). Di sela-sela perbincangan, juga dialunkan musik Koes Plus, satu di antaranya adalah “Kolam Susu” yang liriknya //Bukan lautan hanya kolam susu/ kail dan jala cukup menghidupimu/ tiada badai tiada topan kau temui/ ikan dan udang menghampiri dirimu/ (2x) /orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman/ orang bilang tanah kita tanah surga/ tongkat kayu dan batu jadi tanaman//.

Lagu Koes Plus tersebut dimainkan oleh grup musik penggemar Koes Plus bernama “Merpati Muda” pimpinan H. Darsono, yang masa kecilnya sebagai penggemar berat grup musik Koes Plus asli. Saat lagu-lagu itu dinyanyikan, serentak semua tamu undangan yang hadir ikut bernyanyi bersama-sama dengan riang. Termasuk ketika Yok Koeswoyo memlesetkan lirik “Kolam Susu” dengan “Kolam Lumpur”, saat ikut bernyanyi. 

Naskah dan foto: Suwandi

Bincang-Bincang dengan Yok Koeswoyo di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Minggu 24 Juli 2016, sumber foto: Suwandi/Tembi
BERITA BUDAYA