Bawakan Lakon Leng, Teater Lungid Surakarta Tampil Menggigit

19 Dec 2014

Salah satu keunggulan Teater Lungid adalah karena penguasaannya atas bahasa Jawa yang praktis tanpa kendala, lengkap dengan segala macam ekspresi atau penjiwaannya. Penguasaan tata iringan dan busana serta tata panggung yang mampu menggiring penonton pada keseluruhan pesan naskah, menjadikan pertunjukan mereka menjadi demikian solid, memikat, sekaligus menggigit dengan kritik sosialnya yang tajam.

Juragan Pabrik stress karena didemo warga tengah didampingi Bedor dalam pentas lakon Leng oleh Teater Lungid di PKKH UGM, difoto: Senin, 8 Desember 2014, foto: a.sartono
Juragan Pabrik yang sedang stres karena didemo warga tengah didampingi Bedor

Makam Kyai Bakal yang ramai peziarah dan menjadi tempat khusyuk untuk meminta berkah serta menjadi cikal bakal Desa Bakalan akhirnya terganggu oleh kehadiran sebuah pabrik di dekatnya. Mesin pabrik yang selalu menyala dan menimbulkan bunyi gemuruh tidak saja mengganggu ketenangan dan ketenteraman kompleks peziarahan Kyai Bakal dan Dusun Bakalan. Kehadiran pabrik ini dengan berbagai upaya dan dalih serta alibi telah menyita banyak tanah dan pemukiman penduduk. Pada gilirannya perluasan pabrik juga mengancam keberadaan makam Kyai Bakal.

Juragan Pabrik yang memiliki bodyguard atau petugas keamanan bernama Bedor merasa terteror pula oleh perlawanan warga yang tergusur, ter-PHK, dan teraniaya. Dalam banyak hal ia menjadi seperti orang gila. Ia selalu ketakutan akan bayang-bayang perlawanan massa yang menjadi korban keberadaan dan perluasan pabrik.

Namun Bedor mampu menghibur sang bos. Misalnya, ketika Juragan Pabrik merasa terteror oleh bayang-bayang massa yang teraniaya, Bedor menyarankan untuk memberinya uang. Ketika ada bayang-bayang mahasiswa berdemo Bedor menyarankan untuk memberikan beasiswa, dan fasilitas sekolah/kuliah yang memadai. Ketika ada kerumunan wartawan yang menginterogasi, mereka semua disambut baik, disuguh, diberi amplop, diberi apa yang mereka mau sekalipun kemauan mereka tidak diungkapkan. Semua itu membuat urusan menjadi beres.

Orang-orang tidak bisa menahan Bongkrek yang hendak melabrak pabrik, difoto: Senin, 8 Desember 2014, foto: a.sartono
Orang-orang tidak bisa menahan Bongkrek yang hendak melabrak pabrik

Bongkrek, bekas mandor pabrik, benar-benar marah atas kesewenang-wenangan dan kelicikan pabrik. Ia nekat mendatangi pabrik dan membakar pabrik. Semula Mbok Senik, Pak Rebo, dan Kecik telah berusaha mencegahnya. Namun Bongkrek tidak tahan lagi. Ia nekad nglurug ke pabrik dan membakarnya. Bedor yang menjadi tangan kanan juragan pabrik marah dan terpaksa menghabisi Bongkrek dengan tembakan.

Demikian sekilas jalan cerita dari lakon Leng karya almarhum Bambang Widoyo SP yang menjadi salah satu tokoh dari Teater Gapit dari Surakarta yang kemudian berubah nama menjadi Teater Lungid. Naskah Leng tersebut dipentaskan di pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri UGM, Senin, 8 Desember 2014.

Teater Gapit berdiri tanggal 22 Januari 1981. Sementara Leng sendiri ditulis tahun 1984/1985 ketika rezim Orde Baru masih demikian kuat, saat semangat industrialisasi yang meluap-luap dan masuk ke desa-desa tanpa mempertimbangkan tatanan dan nilai-nilai tradisi serta kehidupan masyarakat di sekitarnya. Naskah ini telah dipanggungkan belasan kali di Surakarta, Semarang, Yogyakarta, Salatiga, Jakarta, dan Surabaya.

Pak Rebo dan Mbok Senik yang biasa melayani tamu ziarah di makam Kyai Bakal, difoto: Senin, 8 Desember 2014, foto: a.sartono
Pak Rebo dan Mbok Senik yang biasa melayani tamu ziarah di makam Kyai Bakal

Teater Lungid sendiri berdiri sejak 1 Oktober 2008. Teater ini berdiri sebagai bentuk kelanjutan Teater Gapit yang menjadi agak gamang berjalan pasca meninggalnya Bambang Widoyo SP pada tanggal 8 Juli 1996. Kiprah Teater Lungid diawali dengan mementaskan lakon Tuk pada Festival Salihara tanggal 24 dan 25 Oktober 2008. Tahun 2009 Teater Lungid mementaskan lakon dari naskah Gunawan Mohammad yang berjudul Visa. Naskah Gunawan Mohammad yang lain yang dipentaskannya adalah Gundala Gawat tahun 2013.

Satu kekhasan dari Teater Gapit maupun kemudian Teater Lungid adalah media bahasa yang digunakannya adalah bahasa Jawa. Demikian pula iringannya adalah gamelan serta nyanyian/tembang atau lagunya. Oleh karenanya teater ini disebut sebagai teater Jawa modern.

Suasana peziarahan di makam Kyai Bakal, difoto: Senin, 8 Desember 2014, foto: a.sartono
Suasana peziarahan di makam Kyai Bakal

Salah satu keunggulan Teater Lungid adalah karena penguasaannya atas bahasa Jawa yang praktis tanpa kendala, lengkap dengan segala macam ekspresi atau penjiwaannya. Penguasaan tata iringan dan busana serta tata panggung yang mampu menggiring penonton pada keseluruhan pesan naskah, menjadikan pertunjukan mereka menjadi demikian solid, memikat, sekaligus menggigit dengan kritik sosialnya yang tajam.

Letupan-letupan kemunafikan, kelicikan, tipu daya, suap, ngolor, kemarahan, bahkan sikap nyremimih dan pengecut serta pecundang mampu mereka hadirkan demikian “natural” dalam pemanggungan mereka. Kekhasan Teater Lungid dalam pilihannya menjadi salah satu kekayaan khas teater modern Surakarta dan Indonesia tanpa meninggalkan akar budaya lokalnya.

Naskah dan foto: ASartono

FILM