Lakon Ketoprak Jaka Bodho nan Menghibur

27 Aug 2014

Pementasan ketoprak di Pendapa Yudanegaran Tembi Rumah Budaya itu mampu memberikan hiburan segar bagi penonton. Jumlah penonton yang memenuhi seputaran Pendapa Yudanegaran menunjukkan seberapa besar antusiasme penonton untuk menikmati pentas ketoprak.

Sultan Darusalam, Dewi Arumanis, dan biyung emban dalam pementasan ketoprak lakon Jaka Bodho di Tembi Rumah Budaya, Senin, 18 Agustus 2014, difoto: Senin, 18 Agustus 2014, foto: a.sartono
Sultan Darusalam, Dewi Arumanis, dan biyung emban dalam 
pementasan ketoprak lakon Jaka Bodho di Tembi Rumah Budaya

“Jaka Bodho” menjadi lakon yang diangkat dalam pementasan ketoprak diTembi Rumah Budaya, Senin malam, 18 Agustus 2014. Bertindak sebagai sutradara dalam lakon tersebut adalah Rini Widyastuti, yang dalam dunia ketoprak dikenal sebagai bintang panggung. Selain sebagai sutradara Rini Widyastuti juga memerankan diri sebagai tokoh Ending Marikangen.

Lakon ini mengisahkan tentang perjalanan hidup Jaka Bodho yang cacat fisik dan Jaka Wasis yang secara fisik sempurna. Keduanya kakak beradik. Jaka Bodho sangat mencintai kakaknya seperti Bambang Sukrasana yang sangat mencintai Bambang Sumantri dalam cerita wayuang lakon Sumantri Ngenger. Perjalanan Jaka Wasis yang berusaha mencari pekerjaan di kutagara (kota kerajaan) mempertemukannya dengan Endang Marikangen. Keduanya jatuh cinta dan menjadi suami istri.

Jaka Wasis dan Jaka Bodho, difoto: Senin, 18 Agustus 2014, foto: a.sartono
Jaka Wasis dan Jaka Bodho

Sementara itu Sultan Darusalam sebagai penguasa di Kadipaten Darusalam sedang berduka karena putrinya yang bernama Dewi Arumanis menderita sakit ingatan. Sekian banyak tabib, dukun, dan pengobat tidak mampu menyembuhkannya. Bahkan para pangeran dan raja yang berkehendak untuk menyembuhkan dan kemudian menyuntingnya juga tidak berhasil. Persaingan antarpangeran dan raja menyebabkan peperangan.

Jaka Wasis yang pergi ke kotaraja dengan meninggalkan Jaka Bodho akhirnya disusul oleh adiknya. Di tengah perjalanan Jaka Bodho mendapatkan patung angsa dan kayu zaitun yang memiliki khasiat luar biasa. Patung angsa dapat dimintai apa saja. Sedangkan kayu zaitun bisa digunakan untuk menjadi senjata yang sangat ampuh. Di kotaraja inilah Jaka Bodho dan Jaka Wasis bertemu.

Adegan gandrung Jaka Wasis-Endang Marikangen dalam ketoprak lakon Jaka Bodho di Pendapa Tembi Rumah Budaya, difoto: Senin, 18 Agustus 2014, foto: a.sartono
Adegan gandrung Jaka Wasis-Endang Marikangen

Jaka Wasis yang ingin mengikuti sayembara untuk menyembuhkan dan menyunting Dewi Arumanis tidak berhasil. Ia meminta arca angsa ajaib milik adiknya, dan oleh Jaka Bodho diberikan. Jaka Wasis tidak mengakui Jaka Bodho sebagai adiknya setelah ia menerima arca angsa ajaib. Jaka Bodho marah dan Jaka Wasis dibuat lumpuh oleh adiknya dengan menggunakan kayu zaitun. Selain itu, Jaka Bodho juga menyembuhkan Dewi Arumanis dengan kayu zaitun itu pula. Oleh karena itu Dewi Arumanis mau tidak mau harus menerima Jaka Bodho yang secara fisik kelihatan demikian buruk.

Pertunjukan ini berakhir happy ending. Jaka Bodho menikah dengan Dewi Arumanis. Sementara Jaka Wasis disembuhkan oleh Jaka Bodho dan mau mengakui Jaka Bodho sebagai adiknya di hadapan banyak orang.

Akhir pementasan ketoprak lakon Jaka Bodho di Tembi Rumah Budaya, difoto: Senin, 18 Agustus 2014, foto: a.sartono
Akhir pementasan ketoprak lakon Jaka Bodho

Ketoprak dengan lakon Jaka Bodho menggunakan pengiring/pengrawit para karyawan Tembi Rumah Budaya pimpinan Ki Margiyono. Secara keseluruhan ketoprak ini sangat menghibur karena kelucuan-kelucuan yang ditampilkan oleh beberapa tokohnya terutama Jaka Bodho. Pementasan dilakukan dalam format ringkas, sekitar 2 jam. Memang masih terdapat kekurangan di sana-sini seperti kurang sinkronnya iringan dan pengadeganan, pengadeganan yang beberapa kali lepas dari tegangan dan kulminasi karena ketika tegangan dan pendakian kulminasi adegan akan tercapai kemudian dimentahkan lagi oleh kelucuan-kelucuan yang diperankan oleh Jaka Bodho.

Lepas dari semuanya itu pementasan ketoprak di Pendapa YudanegaranTembi Rumah Budaya itu mampu memberikan hiburan segar bagi penonton. Jumlah penonton yang memenuhi seputaran Pendapa Yudanegaran menunjukkan seberapa besar antusiasme penonton untuk menikmati pentas ketoprak.

Nonton yuk ..!

Naskah dan foto: ASartono

SENI PERTUNJUKAN