Teater Lenong Betawi. Studi Perbandingan Diakronik

27 Jan 2010

Perpustakaan

Judul : Teater Lenong Betawi. Studi Perbandingan Diakronik
Penulis : Ninuk Kleden-Probonegoro
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia + Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan, 1996, Jakarta
Bahasa : Indonesia
Jumlah halaman : xvii + 326
Ringkasan isi :

Dilihat dari sudut ilmu folklor, lenong termasuk seni pertunjukan rakyat atau teater rakyat yang bersifat tradisional dalam arti keberadaannya telah beberapa turunan. Lenong juga tidak diketahui siapa penciptanya (anonim) karena ia sudah menjadi milik kolektif yakni masyarakat Betawi. Teater Lenong Betawi sebagai suatu pertunjukan mempunyai beberapa ciri khusus (yang tidak mustahil mengalami perubahan) antara lain:

  1. Perlengkapan pokok teater berupa panggung, dekor, sebuah meja dan beberapa kursi

  2. Pakaian pemain menggambarkan pakaian yang dipakai sehari-hari oleh komunitas teater tersebut

  3. Dialog menggunakan bahasa Melayu-Betawi

  4. Pertunjukan diiringi oleh musik gambang kromong

  5. Pertunjukan mengandung humor dan bersifat improvisasi

  6. Waktu pertunjukan dimulai setelah sembahyang isya dan diakhiri menjelang subuh

  7. Pertunjukan diselenggarakan karena suatu pesta hajat tertentu

  8. Penonton berdiri menonton sekitar panggung

  9. Tidak mengenal skenario secara mendetail

  10. Kegiatan teater lenong selalu menyangkut kegiatan sosial lainnya

Ada dua versi tentang asal usul teater lenong. Versi pertama mengatakan bahwa teater lenong mempunyai hubungan yang erat dengan bentuk teater di Tiongkok, dan versi kedua secara tidak langsung memperlihatkan keterkaitan teater ini dengan Parsi.

Para seniman teater lenong percaya bahwa perabotan teater lenong dikuasai oleh penunggu yang mempunyai kekuatan gaib. Alat musik terpenting yaitu gambang, kromong dan kendang dianggap mempunyai penunggu yang kuat. Para penunggu ini dianggap bisa menentukan keberhasilan suatu perkumpulan, misal menarik hati penonton atau membantu mengumandangkan suara merdu alat musik. Oleh karena itu agar si penunggu tidak marah pada waktu-waktu tertentu dan pada waktu akan pentas diberi sesaji/suguhan. Untuk menarik penonton seniman lenong ada yang menggunakan kekuatan gaib misal susuk atau mantra-mantra tertentu. Bagi si empunya hajat ada dua sesaji yang harus disiapkan yaitu sajian untuk karuhun atau roh yang tinggal di sekitar tempat pertunjukan dan sajian untuk perabot teater lenong.

Berbicara mengenai teater lenong ada empat bagian pokok yaitu:

  1. Teknik pementasan, meliputi penyutradaraan (sutradara bertanggung jawab terhadap lakon yang dipentaskan berupa pemilihan cerita pengaturan babak cerita berdasar jumlah pemain), plot dan struktur pertunjukan (terdiri dari pembukaan, kemudian hiburan dan terakhir lakon/cerita), tipe dan sifat cerita (bersifat melodrama yang dijalankan dengan unsure komedi. Inti cerita pertentangan antara kebaikan dan kejahatan).

  2. Bentuk pementasan yang meliputi monolog dan dialog, musik dan nyanyian (musik adalah ciri khas teater lenong), tari dan silat (geraknya lebih terpola walau pun tetapa ada improvisasi), sepik (sambutan pembukaan oleh seniman lenong sehubungan dengan pertunjukan lenong tersebut), selingan/silih berganti (acara yang terlepas dari cerita silih berganti dilakukan sebelum pertunjukan dimulai, selingan dilakukan pada pergantian babak), adegan warung kopi (mempunyai beberapa fungsi antara lain tempat pertemuan masalah/persoalan, pengisi waktu agar pertunjukan selesai tepat waktu)

  3. Tata pentas meliputi panggung (secara tradisional panggung dibuat menghadap ke rumah empunya hajat), dekor dan seben (jumlah dekor tidak menyesuaikan dengan pertunjukan tetapi sebaliknya pertunjukan disesuaikan jumlah dekor yang ada), kostum (disesuaikan dengan peran yang dibawakan), peralatan musik (musik digunakan untuk menghidupkan suasana, nampak dari lagu-lagu yang digunakan untuk mengiringi suatu adegan), tata cahaya/lampu.

  4. Organisasi teater lenong secara resmi terdaftar di kecamatan. Pimpinan organisasi bertanggung jawab terhadap perkumpulan dan anggota-anggotanya baik pada saat ada pertunjukan mau pun bila tidak ada pertunjukan. Panjak adalah istilah setempat untuk menyebut orang-orang yang aktif dalam suatu kegiatan seni. Panjak tetap adalah mereka yang mengutamakan kegiatan di mana ia menjadi anggota tetapnya. Anggota tidak tetap disebut panjak bonan, ikut main karena diajak.

Kalau pada mulanya komunitas pengguna teater lenong adalah orang Betawi itu sendiri saja, dalam perkembangannya kemudian juga orang-orang di luar etnik tersebut. Faktor tradisi dan ekonomilah dua faktor yang sangat menentukan dipilihnya suatu jenis hiburan untuk memeriahkan pesta hajatan.

Sayangnya seperti kebanyakan kesenian rakyat pada umumnya, teater lenong Betawi ini semakin lama semakin surut tergerus kesenian-kesenian baru. Agar tetap bertahan perlu adanya terobosan-terobosan baru misal dengan mempersingkat durasi waktu pertunjukan, tata busana dan tata rias diperbarui, memperluas lokasi pentas misal masuk televisi dan lain-lain.

Buku ini juga menyajikan kisah atau riwayat seniman lenong/panjak, apa yang menjadi daya tarik sehingga mereka menekuninya, serta pandangan orang terhadap teater lenong baik yang positif mau pun negatif dari sudut pandang masing-masing.

Teks : Kusalamani

Jakarta