Seni Pertunjukan Tradisional. Nilai, Fungsi dan Tantangannya

02 Feb 2004

Perpustakaan

Judul : Seni Pertunjukan Tradisional. Nilai, Fungsi dan Tantangannya
Penulis : Drs. Sujono, dkk
Penerbit : Jarahnitra, 2003, Yogyakarta
Tebal : viii + 86
Ringkasan isi:

Kesenian adalah salah satu di antara tujuh unsur kebudayaan yang bersifat universal. Pada umumnya kesenian yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat bersifat sosio religius. Maksudnya kesenian tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan sosial, dan kesenian muncul untuk kepentingan yang erat hubungannya dengan kepercayaan masyarakat setempat. Misalnya upacara ruwatan agar terbebas dari kesialan hidup /sengkala (bahasa Jawa).

Seni pertunjukan dibagi dua yaitu seni pertunjukan tradisional dan seni pertunjukan modern atau yang muncul belakangan ini. Bila dilihat dari perkembangannya akan terlihat bahwa seni pertunjukan tradisional kalah berkembang dengan seni pertunjukan modern. Bila tidak diantisipasi dengan baik bukan tidak mungkin seni pertunjukan tradisional tersebut akan hilang.

Dalam buku ini disebutkan, karena adanya berbagai keterbatasan dan kendala maka hanya daerah Surakarta atau Solo yang diambil sebagai lokasi penelitian tentang perkembangaan seni pertunjukan tradisional. Daerah ini dianggap cukup untuk mewakili daerah-daerah lain di Jawa Tengah dan termasuk juga Yogyakarta. Dari berbagai macam seni pertunjukan tradisional yang ada diambil tiga macam seni pertunjukan yaitu pedalangan (wayang kulit), wayang orang dan ketoprak.

Di dalam setiap pementasannya beberapa bentuk kesenian tradisional selalu membawa misi yang ingin disampaikan kepada penonton. Misi atau pesan itu dapat bersifat sosial, politik, moral dan sebagainya. Sebenarnya dalam setiap pertunjukan seni tradisional ada beberapa nilai tertentu yang dikandungnya. Seni pertunjukan tradisional secara umum mempunyai empat fungsi, yaitu: fungsi ritual, fungsi pendidikan sebagai media tuntunan, fungsi/media penerangan atau kritik sosial dan fungsi hiburan atau tontonan.

Untuk memenuhi fungsi ritual seni pertunjukan yang ditampilkan biasanya masih berpijak pada aturan-aturan tradisi. Misalnya sesaji sebelum pementasan wayang, ritual-ritual bersih desa dengan seni pertunjukan dan sesaji tertentu, pantangan-pantangan yang tidak boleh dilanggar selama pertunjukan dan lain-lain.

Sebagai media pendidikan melalui transformasi nilai-nilai budaya yang ada dalam seni pertunjukan tradisional tersebut. Oleh karena itu seorang seniman betul-betul dituntut untuk dapat berperan semaksimal mungkin atas peran yang dibawakannya. Seni pertunjukan tradisional (wayang kulit, wayang orang, ketoprak) sebenarnya sudah mengandung media pendidikan pada hakekat seni pertunjukan itu sendiri, dalam perwatakan tokoh-tokohnya dan juga dalam ceritanya. Misalnya pertentangan yang baik dan yang buruk akan dimenangkan yang baik, kerukunan Pandawa, nilai-nilai kesetiaan dan lain-lain.

Pada masa sekarang ini seni pertunjukan tradisional cukup efektif pula sebagai media penerangan atupun kritik sosial, baik dari pemerintah atau dari rakyat. Misalnya pesan-pesan pembangunan, penyampaian informasi dan lain-lain. Sebaliknya rakyat dapat mengkritik pimpinan atau pemerintah secara tidak langsung misal lewat adegan goro-goro pada wayang atau dagelan pada ketoprak. Hal ini disebabkan adanya anggapan mengkritik (lebih-lebih) pimpinan /atasan adalah "tabu". Melalui sindiran atau guyonan dapat diungkap tentang berbagai ketidakberesan yang ada, tanpa menyakiti orang lain.

Sebagai media tontonan seni pertunjukan tradisional harus dapat menghibur penonton, menghilangkan stress dan menyenangkan hati. Sebagai tontonan atau hiburan seni pertunjukan tradisional ini biasanya tidak ada kaitannya dengan upacara ritual. Pertunjukan ini diselenggarakan benar-benar hanya untuk hiburan misalnya tampil pada peringatan kelahiran, resepsi pernikahan dan lain-lain.

Seni pertunjukan tradisional sekarang ini keadaannya semakin memprihatinkan, panggung hiburan gulung tikar karena ditinggal penonton sehingga tidak ada pemasukan atau uang. Keadaan seniman yang hanya mengandalkan kehidupannya dari sini tentu saja memprihatinkan. Agar tidak berlarut-larut harus dicari jalan keluarnya. Keberadaan atau maju mundurnya seni pertunjukan tradisional sebenarnya dipengaruhi dua hal yaitu seniman (pekerja/pelaku seni) dan masyarakat pendukungnya.

Seorang seniman agar tetap bertahan harus berani melakukan terobosan-terobosan baru, melakukan perubahan-perubahan sesuai perkembangan jaman tanpa meninggalkan aturan-aturan baku pada seni yang digelutinya. Demikian pula pada seni pertunjukan tradisional. Misalnya ketoprak humor/plesetan adalah salah satu upaya agar ketoprak tetap bertahan dan tidak ditinggalkan masyarakat. Proses penyebarluasan dan peningkatan apresiasi terhadap seni pertunjukan tradisional dapat dilakukan melalui beberapa tingkatan atau proses, yaitu tepung (perkenalan), dumung (mengetahui), srawung (lebih kenal lagi, akrab), sehingga pada akhirnya akan lebih menyukai seni pertunjukan tradisional tersebut.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar seni tradisional tersebut tetap bertahan yaitu: pengenalan budaya lokal sejak dini melalui keluarga, menyeleksi dan mengevaluasi budaya lokal demi pengembangan masyarakatnya, pengajaran budaya lokal melalui pendidikan formal dan non formal, mengembangkan budaya lokal yang bermanfaat bagi masyarakat dan jangan terpaku pada mitos tentang puncak-puncak kebudayaan. Puncak kebudayaan hendaknya dipakai pendorong majunya suatu budaya, karena kebudayaan selalu berkembang sesuai dengan sifatnya yang dinamis.

Jakarta