Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi

01 Aug 2012

Perpustakaan

Judul : Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi
Penulis : Prof. Dr. R.M. Soedarsono
Penerbit : Gadjah Mada University, 2010, Yogyakarta
Bahasa : Indonesia
Jumlah halaman : 418
Ringkasan isi :

Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi

Indonesia adalah negara yang kaya dengan berbagai macam seni pertunjukan. Seni pertunjukan tersebut dari masa ke masa selalu mengalami pasang surut, dengan penyebab yang bermacam-macam. Misalnya perubahan politik, perubahan selera masayarakat penikmat, tidak mampu bersaing dengan bentuk-bentuk pertunjukan yang lain, termasuk juga dana/biaya.

Apabila dicermati dengan seksama seni pertunjukan memiliki fungsi yang sangat kompleks dalam kehidupan manusia. Di negara-negara berkembang yang dalam tata kehidupannya masih banyak mengacu ke kebudayan agraris, seni pertunjukkan memiliki fungsi ritual yang sangat beragam. Terlebih apabila penduduknya memeluk agama yang selalu melibatkan seni dalam kegiatan upacaranya. Sebaliknya di negara maju yang mengacu ke budaya industri (yang segala sesuatu diukur dengan uang) sebagian besar bentuk-bentuk seni pertunjukan merupakan penyajian estetis, yang hanya dinikmati keindahannya. Secara primer seni pertunjukan sebenarnya mempunyai tiga fungsi, yaitu sebagai sarana ritual (penikmatnya kekuatan-kekuatan kasat mata misal dewa dan roh-roh nenek moyang), sebagai ungkapan pribadi yang pada umumnya hiburan pribadi (penikmatnya adalah pelaku sendiri, misalnya pengibing pada tayub), dan sebagai presentasi estetis (penikmatnya adalah penonton yang kebanyakan membayar).

Di lingkungan masyarakat Indonesia yang masih kental nilai-nilai kehidupan agraris sebagian besar seni pertunjukan berfungsi sebagai ritual. Hal ini terjadi tidak hanya pada daur hidup manusia saja, tetapi juga peristiwa-peristiwa lain yang dianggap penting misalnya masa berburu, menanam padi, panen bahkan perang. Seni pertunjukan ritual memiliki ciri-ciri khas yaitu tempatnya sudah ditentukan, hari dan saatnya ditentukan, pemain-pemainnya sudah dipilih dan tertentu, ada sesaji, tujuan lebih dipentingkan dari pada penampilan secara estetis, busana dan riasan ada aturan tersendiri.

Selain itu, Indonesia sangat kaya seni pertunjukan (terutama tari) yang berfungsi sebagai hiburan pribadi. Pertunjukan jenis ini sebenarnnya tidak ada “penontonnya”, karena penikmatnya harus melibatkan diri di dalam pertunjukan. Seorang penikmat mempunyai gaya pribadi sendiri-sendiri, tak ada aturan ketat untuk tampil di atas pentas.

Untuk seni pertunjukan yang berfungsi sebagai presentasi estetis penyandang dana produksinya adalah pembeli karcis, sehingga bersifat komersial. Di negara maju seni ini berkembang dengan baik, berbeda dengan di negara berkembang. Di Indonesia banyak seni pertunjukan jenis ini yang akhirnya sekarat. Penyebab yang utama karena ditinggalkan penonton sehingga tidak ada karcis masuk.

Di negara-negara berkembang fungsi seni pertunjukan sebagai presentasi estetis yang tumbuh subur adalah seni pertunjukan yang disajikan kepada wisatawan, terutama wisatawan asing. Untuk menarik para wisatawan, dalam penyajiannya dalam hal-hal tertentu mengalami perubahan. Oleh karena waktu yang tersedia biasanya terbatas, serta penonton tersebut memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda, maka seni pertuunjukan yang dikemas memiliki ciri-ciri, tiruan dari aslinya, dibuat lebih singkat dan padat, mengesampingkan nilai-nilai sakral, magis dan simbolik atau nilai primernya, penuh variasi, disajikan dengan menarik, harga karcis disesuaikan dengan kemampuan wisatawan. Bisnis pariwisata adalah bisnis global atau internasional. Sehingga seni pertunjukan yang dikemas sebagai seni pertunjukan wisata bergeser kedudukannya, bukan lagi disajikan buat masyarakat setempat, tetapi sudah menjadi komoditi bagi masyarakat konsumen yang khas, yang hanya tinggal di tempat tujuan wisata dalam waktu yang relatif singkat.

Di Indonesia banyak sekali seni pertunjukan yang bersifat ritual atau hiburan pribadi berubah menjadi presentasi estetis terutama untuk konsumen wisatawan. Di daerah Bali ada tari Barong dan Kecak yang pada mulanya hanya ditampilkan pada saat-saat tertentu, sekarang bisa dinikmati setiap saat. Di Jawa ada Tayub, yang pada mulanya untuk ritual kesuburan dan juga hiburan pribadi. Tari Piring dari Sumatera yang pada masa dulu penuh ritual sekarang juga bisa disajikan sebagai tari presentasi estetis.

Teks : Kusalamani

Jakarta