Rama Sas. Pribadi, Idealisme dan Tekadnya. Sisi-sisi Perjuangan K.R.T. Sasmintadipura

18 Jun 2007

Perpustakaan

Judul : Rama Sas. Pribadi, Idealisme dan Tekadnya. Sisi-sisi Perjuangan K.R.T. Sasmintadipura
Penulis : Joan Suyenaga, Drs. Kuswarsantyo, M.Hum., Jeannie Park, F.X. Widaryanto
Penerbit : Sastrataya – MSPI, Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa
Halaman : 88 halaman
Ringkasan isi :

Rama Sas (Sasmintadipura) lahir dengan nama Soemardjono pada 9 April 1929. Sejak kecil oleh ayahnya ia sudah dikenalkan pada wayang. Rama Sas sangat mengagumi Arjuna tokoh baik yang tidak pernah terkalahkan. Soemardjono mulanya belajar tari atas perintah ibunya yang khawatir melihat kebiasaan buruknya yaitu main kartu dan merokok dalam usia sangat muda. Yang pertama kali mengajari tari adalah teman akrabnya Suyadi. Ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama Nasional Soemardjono memutuskan untuk belajar tari klasik gaya Yogyakarta secara mendalam di kraton. Ia mulai magang sebagai penari kraton di usia 13 tahun, gurunya R. Atmasemedi. Kemudian oleh KRT Purbaningrat dilatih lebih intensif. Wajah yang tampan, kulit kuning, postur tubuh ramping membuat gurunya mengarahkannya sebagai penari putri. Agar menjadi penari yang baik harus belajar keras, disiplin dan menjiwai karakter yang diperankannya. Berkat keuletannya dalam waktu yang singkat ia telah memainkan beberapa peran penting dalam pentas wayang wong antara lain Dewi Mustikawati, Dewi Kunti, Dewi Suprabawati dan Dewi Srikandi. Pada waktu Sri Sultan Hamengkubuwana IX memerintah KRT. Purbaningrat agar mentranformasikan gerak-gerak wayang golek ke dalam gerak-gerak tari, Soemardjono terpilih untuk pertama kali menarikan tari ciptaan Sri Sultan tersebut dengan peran Dewi Sirtupelaeli.

Kesibukan berlatih tari di kraton membuat Soemardjono memutuskan keluar dari sekolah. Selama ia menjadi penari putri di kraton tari putra gagah dan tari putra alus tidak diajarkan. Maksudnya agar ia betul-betul menghayati dan mendalami karakter tari putri. Soemardjono yang keingintahuannya besar tidak kehilangan akal. Pada waktu istirahat ia mencermati teman-temannya yang belajar tari putra gagah dan putra alus, kemudian dipraktekkan di rumah.

Berkat kemampuan dan dedikasinya selama magang menjadi penari Sultan Hamengkubuwana IX menganugerahinya pangkat sebagai abdi dalem jajar dengan nama Prajaka Mardawa tahun 1946. Tahun 1955 menjadi Raden Bekel dengan nama Sasminta Mardawa. Pangkat Raden Lurah diterima tahun 1977, Raden Wedana tahun 1984, Raden Riyo 1989 dengan nama sama. Terakhir Kangjeng Raden Tumenggung dengan nama Sasmintadipura tahun 1994.

Rama Sas tidak hanya berhenti sebagai penari saja, tetapi juga sebagai pencipta. Tari Golek Cluntang adalah tarian yang dibuatnya pertama kali. Karena keuletan, kreativitas dan kemampuan yang dimiliki ia mendapat pengakuan dan diangkat sebagai guru tari di Bebadan Among Beksa Keraton Yogyakarta tahun 1956. Bebadan Among Beksa adalah organisasi tari yang berdiri di luar tembok kraton yaitu di Dalem Purwadiningratan tahun 1950 di bawah naungan Kawedanan Hageng Punakawan Kridha Mardawa Kraton Yogyakarta. Di Among Beksa inilah Rama Sas lebih leluasa mendalami tari putra alus dan tidak lagi memerankan peran putri. Beberapa peran yang pernah dimainkan yaitu sebagai Prabu Jungkung Mardeya, Prabu Hendragupita, Bathara Wisnu dan Bathara Guru.

Pengalamannya sebagai pengajar tari memberinya pelajaran bahwa tari yang panjang dan rumit sulit dipelajari. Oleh Rama Sas tari tersebut diringkas atau dipadatkan tanpa menghilangkan esensi tari tersebut. Berbagai kritik tidak membuatnya menyerah tetapi justru mendorong semangatnya dalam mengenalkan dan mengajarkan tari ke berbagai lapisan masyarakat dan berbagai tempat.

Menurut Rama Sas dengan belajar tari seseorang mendapat pendidikan lahir dan batin. Pendidikan lahir berupa tata susila, yang diperoleh melalui paugeran-paugeran (patokan) tari yang dulu diajarkan sangat ketat. Pendidikan batin yaitu budi pekerti meliputi cara berpikir, pandangan hidup dalam kaitannya dengan Tuhan. Atas dasar tersebut maka Rama Sas merasa harus memetri (rasa memiliki, sehingga ada usaha mengetahui dan mempelajari), melestarikan (agar tetap hidup), dan mengembangkan dengan tetap berpegang pada sumber pokoknya.

Beberapa tari karya Rama Sas antara lain:

  1. Tari Golek (Golek Clunthang, Golek Lambangsari, Golek Asmarandana Bawaraga)

  2. Tari Putri (Tari Langen Tirta, Tari Sekarini, Tari Kusuma Sekar)

  3. Tari Putra (Tari Wiraga Tunggal Gagah, Tari Harjuna, Tari Wira Yuda)

  4. Tari berpasangan (Beksan Srikandi melawan Suradewati, Beksan Pandhu melawan Narasoma, Beksan Golek Menak Umarmaya melawan Jayengpati)

  5. Tari Fragmen (Wayang Wong cerita Sri Tumurun, Drama Tari Bertimbang Sinta Murca, Wayang Topeng cerita Asmarabangun Krama)

  6. Tari Srimpi ( Srimpi Kadarwati melawan Umyumadikin, gending Pandelori ; Srimpi Srikandi melawan Larasati, gending Gambirsawit ; Srimpi Kelaswara melawan Adininggar, gending Purwagilang)

  7. Tari Bedaya (Bedhaya Panukmaningsih, Bedhaya Sekar Jatiningsih, Bedhaya Purnama Jati)

Pengabdian Rama Sas di bidang tari berakhir ketika Tuhan memanggilnya 26 April 1996. Sebelum meninggal Rama Sas berpesan agar tari klasik gaya Yogyakarta tetap dilestarikan.

Buku ini sangat menarik selain karena disertai gambar juga ada kesan, pesan dan kenangan tentang Rama Sas dari orang-orang yang mengenalnya. Seperti Theresia Suharti (dosen jurusan tari, FSP, ISI Yogyakarta), Titik Agustin (Alumnus Mardawa Budaya 1970-1979, Staf Pengajar Tari, FPBS IKIP Yogyakarta), Clara Brakel (dosen, peneliti, guru tari, University of Leiden Belanda) yang mengatakan bahwa Rama Sas adalah guru tari yang mumpuni (menguasai betul-betul) tentang tari, berdisiplin tinggi tetapi berjiwa halus dan lembut.

Jakarta