Menemui Ajal. Etnografi Jawa tentang Kematian

18 Jun 2008

Perpustakaan

Judul : Menemui Ajal. Etnografi Jawa tentang Kematian
Penulis : Y. Tri Subagya
Penerbit : Kepel Press, 2004, Yogyakarta
Bahasa : Indonesia
Halaman : 200
Ringkasan isi :

Setiap orang pasti menghadapi kematian tanpa kecuali dan tidak bisa diingkari. Kematian membawa kepunahan yang nampak dari tubuh yang berangsur-angsur hancur membusuk sedang di pihak lain orang mengangan-angankan cahaya kekal. Agama dan kepercayaan menjanjikan pemeluknya tentang kehidupan yang tidak musnah ditelan kematian.

Kematian bukanlah sekedar menciptakan persoalan berkenaan dengan penimbunan jenazah ke liang kubur. Bagi keluarga atau orang-orang dekat kematian membuat berkabung. Kematian memutuskan hubungan setiap orang tanpa kompromi sehingga menciptakan goncangan mendadak yang tidak pernah diharapkan. Gambaran kematian ditangkap berbeda-beda oleh setiap orang, baik dengan ketakutan atau perasaan pasrah menunggu waktunya. Gambaran ini seolah-olah tidak menjadi bagian perbincangan sehari-hari tetapi diberi jarak dengan membiarkan urusan ini ditangani langsung oleh Tuhan. Kegetiran, duka cita, perkabungan, keberanian, ketakutan dan kepasrahan dalam menghadapi kematian serta upacara penguburannya tidak terlepas dengan proses sosial budaya. Dalam masyarakat Jawa kematian memperlihatkan hubungan-hubungan sosial yang paling hidup. Begitu mendengar berita kematian mereka akan segera berkumpul di rumah duka dengan cepat untuk memberi bantuan. Ikatan yang dijalin semasa hidup rupanya lebih mendasari orang datang ke pelayatan dan bukan semata-mata karena tenaga yang dibutuhkan untuk mempersiapkan upacara penguburan. Kerukunan dan kebersamaan diperlihatkan secara jelas dan tegas.

Kematian sebagai salah satu siklus dalam slametan menjadi inti ritual dari kehidupan orang Jawa. Seseorang kadang-kadang mendapat firasat atau ngalamat sebelum kematian terjadi misal bermimpi giginya tanggal, mendengar suara dari kuburan atau tempat penyimpanan keranda, atau menjelang kematiannya orang yang besangkutan bertingkah aneh berbeda dengan biasanya misal sakit tidak mau makan tiba-tiba lahap, menyampaikan pesan-pesan tertentu dan sebagainya. Suasana kematian di Jawa begitu datar, tenang, tanpa jerit tangis histeris, tidak demonstratif karena sikap ikhlas yang diusahakan bersama oleh komunitas. Jerit tangis dan sikap tidak ikhlas dianggap bisa menghalang-halangi roh kembali ke asalnya. Orang yang tidak sanggup menahan kesedihan sebaiknya dijauhkan dari jenazah atau upacara pemakaman.

Orang Jawa tidak melihat kematian sebagai titik tamat yang menelan kehidupan melainkan sebagai proses pasif yang dicapai dalam rentang kehidupan. Kematian terjadi manakala nyawa menghilang dari tubuh. Nyawa bagi orang Jawa merupakan penyangga tubuh yang hadir dalam janin ketika berusia tiga bulan. Tubuh tanpa nyawa adalah tubuh yang mati, sebaliknya nyawa tidak bisa menjadi bagian dari kehidupan tanpa tubuh. Ketika terjadi kematian nyawa menyatu dalam ujud asal menuju alam kelanggengan. Kematian menjadi jalan bagi manusia mencapai kesempurnaan. Orang Jawa merenungkan bahwa dunia merupakan arena kehidupan yang fana. Kehidupan sejati terletak manakala kematian tiba.

Kematian merupakan paradoks kehidupan. Di kuburan-kuburan Jawa terlihat batu nisan yang menunjukkan arah penempatan mayat membujur dengan kepala di utara dan kaki di selatan. Posisi tersebut melintang arah terbit hingga tenggelamnya matahari yang merupakan sumber kehidupan. Di sini kematian disimbolkan berlawanan dengan kehidupan. Namun di balik musnahnya tubuh nasibnya tidak akan berhenti di situ walaupun alam setelah mati merupakan misteri.

Mati dalam usia tua, mati saat melahirkan, bayi yang mati masih dalam kandungan, mati sabil merupakan mati yang utama. Tetapi mati karena bunuh diri, korban pembunuhan atau kecelakaan dianggap mati salah karena dianggap belum ikhlas meninggalkan dunia. Oleh karena itu ada syarat-syarat tertentu yang diikutkan dalam upacara penguburan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan misal roh yang berkeliaran dan mengganggu. Dalam merawat jenazah sampai penguburan pun dilakukan hati-hati agar tidak terjadi kekeliruan. Misal bila sampai lupa melepas simpul pengikat tali arwah si mati akan menampakkan diri yang katanya minta pertolongan agar simpul talinya dilepas.

Ritual kematian orang Jawa berlangsung dalam waktu yang panjang dari geblak/ saat kematian, diikuti tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, setahun, dua tahun hingga pada peringatan seribu hari. Selepas masa itu ahli waris mendatangi makam pada hari-hari tertentu misal Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon serta pada bulan Ruwah bersama-sama ahli waris yang lain menyelenggarakan nyadran. Seluruh proses ritual tersebut bermaksud agar si mati memperoleh ketenangan di alam kelanggengan, sementara ahli waris yang ditinggalkan merasa ikhlas melepas secara sadar kematiannya dengan hati terbuka. Melalui ritus aura duka cita ditinggalkan agar tidak mengganggu aktifitas kehidupan sehari-hari. Ziarah ke makam mempertegas pandangan bahwa kematian bukan akhir dari kehidupan. Meskipun tubuh lenyap dari kehidupan sehari-hari pribadi seseorang tetap tinggal dalam kenangan yang memperkuat dan mengalirkan rahmat kepada para ahli waris serta komunitas yang ditinggalkan. Status makam-makam keramat di Jawa menunjukkan gejala tersebut.

Teks : Kusalamani

Jakarta